Revan heran melihat reaksi istrinya, biasanya jarang marah. Selalu nurut kalau dikasih tau. Iya, Mas. Iya, Mas. Gitu.
Revan menyusul istrinya yang sedang menangis di kamar. Revan duduk di sisi Eliza.
"Ini kenapa pakai acara tangis-tangisan gini? Aku cuma mau ngecek lokasi tambang aja loh, bukan mau pergi ke medan perang." Revan mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Tapi kamu bilangnya dadakan. Aku 'kan jadi nggak ada persiapan...."
"Persiapan apa? Semua udah diurus sama Steven, aku tinggal berangkat aja. Kamu nggak usah siapain apa-apa."
"Maksudnya persiapan mental, Mas...."
"Dua bulan aja loh."
"Tapi itu lama, Mas! Dua bulan itu sekitar 60 hari, 1440 jam!"
"Duh, segitu posesifnya. Kalau keadaan memungkinkan, kamu juga bakal aku ajak. Tapi nanti kasihan kamunya. Nanti kamu bosen. Di sana 'tuh nggak ada apa-apa. Nggak ada mall, apalagi bioskop."
"Apa nggak bisa diskip, Mas? Suruh aja karyawanmu yang pergi." Eliza menawar lagi.
Revan mengambil nafas dalam, sebelum memberi pengertian kepada istrinya. "Nggak bisa. Masalah penting soalnya. Sebenarnya bisa aja aku melepaskan usahaku yang ini, dan fokus pada usaha sawit aja. Tapi, kan kasihan sama karyawan di sana, ratusan soalnya. Udah lama juga kerjanya, dari jaman masih ada papa."
Akhirnya Eliza mengerti dengan penjelasan suaminya. "Tapi kamu pasti bakal balik kan, Mas?"
"Ya pastilah. Kamu nanya apa, sih?" Revan geli melihat tingkah istrinya yang posesif. "Nanti aku bawa oleh-oleh, yang banyak!"
"Nggak mau oleh-oleh. Cuma mau kamu balik. Jangan jelalatan." Eliza merajuk.
"Jelalatan gimana? Cowok semua karyawannya." Revan menenangkan hati istrinya.
***
Seminggu sebelum keberangkatan Revan, Eliza memberanikan diri untuk memeriksakan kandungannya di rumah sakit. Sebenarnya dia sudah pernah melakukan tes mandiri, dan hasilnya memang garis dua, tapi yang satu masih samar. Oleh sebab itu, Eliza ingin memastikan.
Saat baru turun dari taksi, mendadak mata Eliza jadi berkunang-kunang, kepalanya pening luar biasa. Hampir saja Eliza jatuh, kalau tidak ditangkap oleh seseorang.
"Kamu kenapa, El?" tanya Steven panik. Pria itu baru saja menjenguk temannya di rumah sakit ini.
Eliza segera melepaskan pegangannya di tangan Steven. "Aku nggak papa, Mas. Tadi aku mau belanja ke supermarket."
Eliza menunjuk ke arah supermarket yang kebetulan berada di samping rumah sakit.
"Belanjanya besok aja, ya. Kayaknya kamu harus diperiksa deh. Mukamu pucat banget."
"Nggak usah, Mas. Aku nggak papa 'kok. Aku mau pulang aja."
"Apa mau dipanggilin Revan?"
"Nggak usah, Mas." Eliza berkata dengan panik. Membuat Steven curiga.
"Kayaknya beneran perlu diperiksa, deh." Steven memaksa. "Periksa, apa aku panggil Revan?"
Akhirnya, Eliza terpaksa menuruti saran Steven. Setelah ditanya-tanya oleh dokter UGD dan juga melakukan beberapa tes, akhirnya Eliza dan Steven disarankan untuk mengantri di poli kandungan.
"Kamu lagi hamil, El?" tanya Steven kaget.
"Nggak tau, Mas. Ini juga mau aku pastikan dulu." Eliza menjawab pelan.
"Revan udah dikasih tau?"
"Jangan dikasih tau dulu. Nanti aku sendiri yang kasih tau." Eliza melarang Steven yang hendak mengambil ponsel.
"Biar surprise, ya?" tebak Steven. Eliza hanya mengiyakan saja.
Saat namanya dipanggil, Eliza segera masuk, begitu juga Steven.
"Selamat, Bapak. Istri anda sedang hamil tiga minggu." Dokter berkata dengan ramah sambil menunjukkan hasil tes.
"Eh, bukan saya pelakunya, Dok." Steven mengelak sambil mengangkat kedua tangannya dengan jenaka. Sampai suster ikut tertawa.
"Suami saya lagi kerja, Dok. Dia cuma nganterin saya." Eliza menjelaskan.
Setelah diberi resep vitamin, Eliza dipersilahkan keluar. Steven berinisiatif untuk menebus vitamin di apotik. Selagi menunggu vitamin disiapkan, Steven mengajak Eliza bicara.
"Selamat, ya, El. Sebentar lagi kamu akan jadi ibu." Steven mengucapkan selamat dengan tulus.
"Makasih, Mas." Eliza menjawab dengan lemas.
"Kamu kenapa nggak happy gitu?" Steven seolah bisa membaca raut wajah Eliza.
Eliza hanya diam, sebisa mungkin ia ingin menyimpan masalah keluarganya untuk dirinya sendiri.
"Mas, tolong janji, ya. Apapun yang terjadi jangan kasih tau mas Revan. Biar aku sendiri yang ngasih tau." Pesan Eliza lagi, takut Steven lupa.
"Iya, kamu tenang aja." Steven menenangkan Eliza.
Steven tampak berpikir sejenak. "Tapi kasian kamu, El. Kan sebentar lagi Revan berangkat ke Papua. Mana lama. Kamu nggak papa?"
"Ya nggak papa, Mas. Mau gimana lagi?"
***
