107

596 35 4
                                        

"Ki, lo nggak bangga? Karena gue lebih memilih lo, ketimbang pergi sama Mirna?" tanya Steven lagi.

Kiera membalikkan tubuh dengan cepat. "Jelas lo harus milih gue! Kan gue yang jadi istri lo! Nama gue yang ada di buku nikah. Bukan si janda ikan asin itu!"

"Elah, gue cuma ngetes aja, Ki. Gitu aja sewot." Steven tertawa melihat reaksi Kiera yang terkesan berlebihan.

"Tadi lo kenapa, nangis kayak gitu? Nangisin gue, yah?" Steven menggoda Kiera lagi.

"Kalau iya, kenapa? Lo bangga, karena udah bikin anak orang nangis?" Kiera balik bertanya.

"Pasti lo cemburu, yah? Karena gue jalan sama Mirna, sebenarnya lo pingin ikut 'kan?" Steven makin semangat menggoda Kiera.

"Ya lo pikir sendiri aja! Coba gue balik, gue yang pergi sama cowok lain, gimana? Boleh, nggak? Kalau boleh, gue mau ganti baju sekarang!" Tantang Kiera.

"Cowok siapa? Si Hansen, yah? Elah, Ki. Cowok kayak boti gitu aja, cakepan gue kemana-mana lah." Steven membanggakan diri.

"Gue nggak butuh yang cakep, gue butuh yang kaya! Gue mau balikan sama pacar gue yang bandar Narkoba! Puas?" Kiera bicara sambil ngos-ngosan.

"Wajah lo cantik, Ki. Tapi gue heran, kenapa nyari cowok nggak ada yang bener? Suami orang lah, boti lah, bandar narkoba lah...."

"Gue emang orangnya nggak beruntung. Dapatnya juga suami yang spek macam besek hajatan kayak Abang! Kaya enggak, tapi doyan main perempuan." Kiera berkata makin berani.

"Siapa? Siapa perempuan yang pernah gue mainin?" Steven terlihat tidak terima dengan ucapan Kiera. "Berani nuduh, harus tanggung jawab. Mana buktinya?"

"Kurang bukti apalagi? Dari pagi sampai malem, Abang ndusel terus sama si Marni. Anaknya sakit, yang dipanggil bukan dokter, tapi Abang!" Kiera ingat, pas malam Marni datang ke rumah untuk mencari Steven.

"Mirna minta di antar ke rumah sakit, Ki. Kebetulan gue punya mobil, ya gue anter. Mau minjem punya pak RT, lagi dipakai sama anaknya. Sama tetangga harus saling tolong menolong." Steven membela diri.

"Kenapa nggak mantan suaminya aja yang dipanggil? Kan dia yang bapak anaknya? Kenapa malah manggil Abang! Kenapa nggak naik grab aja?" cecar Kiera.

Steven tak bisa menjawab, pria itu hanya diam melihat Kiera meluapkan emosinya yang selama ini terpendam.

"Terus sekarang lo maunya apa?"

"Abang jauhi si Janda gatel itu!" Kiera menunjuk ke arah rumah Mirna.

"Mirna nggak gatel, Ki...."

"Terus siapa yang gatel? Abang?" Kiera semakin memojokkan Steven. "Gue nggak peduli, siapa diantara kalian berdua yang gatel. Tapi plis... jangan terang-terangan jalan depan mata gue. Sewa aja tempat di luar, oyo kek, tenda Pramuka kek, semak-semak kek... terserah!"

"Lo bicara apa, sih? Gue nggak sebejad itu." Steven masih membela diri.

"Sebenarnya Abang sering pulang malam, karena boking room sama dia 'kan? Buktinya sampai rumah Abang udah mandi!"

"Astaghfirullah. Gue nggak pernah kayak gitu, Ki. Pulang kerja gue nge-gym dulu. Terus gue mandi sekalian di sana. Makanya pas pulang rambut gue basah. Kalau nggak disempetin gitu, badan gue rasanya berat, udah biasa olah raga soalnya." Steven menjelaskan panjang lebar.

"Iya, olahraga sama si Marni. Olahraga bola sodok 'kan?" tuduh Kiera lagi.

"Tanya Revan kalau nggak percaya! Gue selalu pergi ke gym sama dia 'kok. Sama Marni cuma sekali."

"Sekali yang ketahuan, yang nggak ketahuan, pasti sering!"

Steven memijit kepalanya. "Terserah kalau masih nggak percaya. Gue kehabisan kata-kata buat ngejelasin. Memang dasarnya lo itu selalu suujon sama orang."

"Udahlah, Bang. Kalau emang Abang udah kepincut sama si Marni, ceraikan gue. Baru setelah itu Abang bebas sama si Marni." Kiera menatap tajam ke arah Steven. "Gue nggak mau punya suami tukang zinah!"

"Allahuakbar! Gue nggak pernah zina, Ki! Gue masih perjaka!" Steven marah, hatinya sakit mendengar tuduhan Kiera.

"Apa buktinya?"

"Susah, Ki! Gimana cara gue buktikan kalau gue masih perjaka? Cewek mah bisa di visum, kalau cowok gimana? Gue bingung caranya!"

"Artinya udah sering zinah!"

Kiera keluar kamar meninggalkan Steven, tentu saja pria itu tidak terima. Ia bangkit dan mengikuti Kiera.

"Cepat minta maaf!" Steven berdiri menghalangi jalan Kiera. "Gue sakit hati banget dengan tuduhan lo!"

"Memang bener tukang zinah 'kok!" Kiera bersikeras.

"Jadi gue seburuk itu di mata lo?" Steven berkata dengan hati terluka. Kiera hanya diam, sambil memalingkan muka.

"Jawab, Ki!" Steven berteriak di depan muka Kiera.

"Apa, sih? Kan gue kaget!" Kiera mengorek telinganya yang terasa berdengung. "Jangan keras-keras kenapa? Nanti tetangga pada kesini."

"Makanya, jawab pertanyaan gue!"

"Galak banget sih, lo! Udah kayak malaikat Munkar Nakir aja! Kalau gue nggak mau jawab, lo mau apa?" tantang Kiera.

"Lo udah kadung nuduh gue tukang zinah tanpa alasan. Asal lo tau ya, gue bukan cowok murahan. Daripada tidur sama si Mirna, kalau gue mau, gue bisa aja perkosa lo. Kan lo istri gue. Nggak mungkin dong gue ditangkap polisi."

"Apa? Berani-berani sama gue?" Kiera berkacak pinggang di depan Steven.

"Gue jadi ada ide. Apa gue perkosa lo aja? Daripada gue zinah ya 'kan?" Steven berusaha menakuti Kiera.

"Ape lo! Ape lo!" Kiera melotot ke arah Steven.

Tanpa banyak omong, Steven langsung menggendong Kiera ke kamar.

"Heh, mau apa lo? Jangan coba-coba, ya!" Kiera berteriak histeris. "Tolong! Tolong! Gue dicabuli! Pak polisi! Pak satpam!"

***

Heh, berisik! Diam aja kenapa sih, Ki? Terima beres aja udah.... 😁 Biar cepat kelar ini ceritanya.

Btw cerita ini panjang karena ini cerita kongsi ya, ceritanya Revan-Eliza sama Kiera-Steven.

Berkongsi ajalah udah, nggak usah bikin judul sendiri. Karena nggak semudah itu bikin cerita, terutama bikin judulnya. Pusing tau mikir judul cerita yang menarik, singkat, padat, yang sekiranya bisa mewakili isi dari keseluruhan cerita, apalagi bikin sinopsis, susah kali lah... Apalagi buat penulis amatir macam akak ini 🤭 yang sukanya nulis seenak jidatnya aja, update suka-suka, ngilang suka-suka.

Hadeh, tipe author yang pantas dihujat 🤭

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang