66

990 54 5
                                        

Eliza dan Revan pergi rumah nenek Mutia, rencananya di sana akan ada acara selamatan untuk kehamilan Eliza. Titin pun diajak juga, rencananya Revan akan menyuruh Titin bekerja di rumah neneknya saja, daripada rumah tangganya semakin memanas.

Semula Revan bermaksud untuk memecat Titin, tapi diiringi dengan deraian air mata, gadis itu memohon kepada Revan untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.

"Jangan pecat saya, Pak. Saya masih butuh kerjaan ini. Saya ini tulang punggung keluarga."

"Begini saja, Tin. Kamu boleh kerja di rumah nenek saya."

Yah, udah enak-enak kerja di sini sama Pak Revan yang ganteng, eh malah disuruh ngurus nenek-nenek. Mudah-mudahan jangan yang jompo. Jangan-jangan aku nanti disuruh nyebokin segala. Titin ngedumel dalam hati.

"Gimana, Tin. Mau nggak?"

"Baiklah, Pak. Saya mau."

Selama di dalam mobil, Titin yang duduk di jok belakang, hanya bisa menyimak percakapan majikannya.

"Acara pengajian nanti, sekalian acara perkenalan keluarga. Nenek berniat menjodohkan Kiera dengan anaknya temen papa."

"Wah, Kiera mau nikah, ya, Mas? Alhamdulillah."

"Ini masih perkenalan aja, sih. Nggak tau anak itu bakalan mau apa nggak. Kiera itu susah diatur."

"Memangnya kenapa, Mas? Kok nenek tiba-tiba jodohin dia?"

"Pas temen-temennya pada sibuk bimbingan buat bikin skripsi, eh dia malah macarin dosen pembimbingnya, mana udah punya istri. Parah itu anak. Istri dosennya sampai nyamperin ke rumah. Untung nenek nggak jantungan. Akhirnya, daripada bikin malu lagi, nenek berniat menjodohkan dia dengan Bramasta."

"Kiera bakalan mau nggak, ya?"

"Sebenarnya Bramasta itu udah deket sama keluarga kita, udah sering main sama Kiera waktu kecil. Anaknya baik kok, nggak neko-neko. Sekarang masih internship, sih."

"Dokter rupanya, beruntung banget Kiera."

Sesampainya di rumah nenek Mutia, Eliza segera disambut oleh segenap keluarga besar Revan. Mereka amat bahagia mendengar kabar kehamilan Eliza.

Titin hanya tersenyum kecut melihat Eliza disanjung-sanjung oleh keluarga Revan. Padahal cuma hamil gitu aja, aku juga bisa! pikir Titin.

Nenek Mutia juga mengundang Steven. Seperti biasa, pria itu datang sendiri. Jomblo, sih.

Kiera yang gugup karena harus menyambut keluarga Bramasta, berakhir menginjak piring kue yang diletakkan di karpet. Naasnya, kue yang diinjaknya adalah kue klepon, berakhir kaki Kiera belepotan terkena gula merah yang muncrat.

"Santai aja, Ki. Nggak usah tegang gitu." Steven menghampiri Kiera yang sedang sibuk membersihkan kakinya di pancuran wudhu.

"Abang repot-repot nyamperin gue kesini, cuma buat ngeledek?" Kiera menjawab sewot.

"Suujon aja lo. Gue cuma mau ngasih selamat." Steven menoyor kepala Kiera.

"Orang gue belum setuju buat nikah."

"Setuju aja, Ki. Calon lo dokter 'tuh. Enak tau, nggak usah capek-capek kuliah kedokteran, lo udah bisa dipanggil bu dokter kalau jadi istrinya."

"Dih, nggak minat dipanggil bu dokter. Lagian pacar gue lebih oke."

"Suami orang lo bilang oke? Istighfar, Ki. Nggak kasihan apa sama istri sahnya. Seharusnya women support women. Apa untungnya, sih, pacaran sama suami orang? Cuma nambah beban pikiran, menambah kerutan di wajah aja."

"Namanya juga cinta. Siapa juga yang bisa mengendalikan hati." Kiera membela diri.

"Iya, tau. Tapi lo 'kan masih bisa milih. Jatuh cinta bukan berarti kita harus jadi bego. Btw lo udah putus 'kan sama dia?"

"Lebih tepatnya dia yang mutusin gue, setelah ditekan sama keluarga mertuanya. Sebenarnya gue nggak masalah, mau jadi istri kedua kek, nggak dinikahin kek, yang penting gue bahagia ngejalaninnya."

"Parah banget ini anak. Gue rasa LCD nya kena, deh. Jelas-jelas daripada dosen cabul itu, mending si Bram kemana-mana. Kalian juga udah deket dari kecil. Lagian, kalau itu dosen beneran cinta sama lo, pastilah dia akan memperjuangkan, buktinya lo malah ditinggal 'kan? Gue kasih tau ya, dalam sebuah hubungan itu, nggak bisa satu pihak aja yang berjuang. Itu namanya LDR, Lo nDiri Relationship. Udah bener nenek jodohin lo sama Bram. Sikat ajalah."

"Itulah masalahnya, Bang. Justru karena kita udah kenal dari kecil, dia udah tau aib-aib gue."

"Oh, pas lo ke sekolah pakai baju adat itu, ya? Padahal acara Kartini masih seminggu lagi." Steven tertawa mengingat kekonyolan Kiera semasa kecil. "Besoknya lo nggak mau sekolah seminggu karena malu diledekin temen sekelas."

"Udah, Bang. Nggak usah dibahas kenapa!" Kiera memekik kesal karena aibnya dibongkar.

Kiera malu mengingat kebodohannya semasa kecil. Dulu ia sekelas dengan Bram. Kiera sering pura-pura sakit saat upacara. Padahal aslinya takut hitam karena terkena matahari. Apalagi untuk anak sakit di UKS, disediakan susu Milo kotak. Makin semangatlah Kiera untuk pura-pura sakit hehe.... (Sebenarnya ini kelakuan authornya 🤣)

Kebetulan Bram saat itu bertugas untuk jaga UKS, dia memang bergabung dengan kegiatan ekstrakurikuler dokter kecil di sekolah. Sudah besar malah jadi dokter beneran. Konsisten juga.

Bram tau kalau Kiera pura-pura sakit. Tapi anak itu tidak berminat mengadukan ke guru BK. Bram hanya menyindir Kiera.

"Kalau cuman mau susu kotak, nggak usah pura-pura sakit segala. Beli aja di kantin, paling cuma tiga ribu. Upacara cuma seminggu sekali, untuk menghargai jasa pahlawan yang telah gugur mendahului kita. Tanpa jasa mereka, lo nggak bisa santai-santai bikin konten tik tok kayak gini."

Kiera yang sedang sibuk membuat konten di tik tok, sambil minum susu Milo dengan musik jedag-jedug, melirik kesal ke arah Bram.

"Ba... cot!" (Bernada seperti suara sponge Bob, dengan gerakan tangan juga)

Hanya itu yang diucapkan Kiera. Singkat, padat dan pastinya mak jleb. Sejak saat itu hubungan Kiera dan Bram lebih mirip Tom and Jerry.

***

Kira-kira seperti ini.... 🤣

 🤣

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang