79

845 52 9
                                        

Kiera main ke kantor Revan saat jam makan siang. Bukan untuk mengirim bekal untuk suaminya. Tapi untuk menanyakan kepastian, kapan harta warisannya bisa cair.

"Nenek belum cerita?" Revan mengerutkan dahi menanggapi pertanyaan Keira.

"Cerita apa sih, Kak? Si kancil? Lain kali aja ceritanya, yang gue butuhkan saat ini adalah duit."

"Justru itu. Nenek bilang sama gue, sementara jatah warisan lo ditahan dulu, sampai...."

"Sampai kapan lagi? Kan gue udah nikah, sesuai permintaan nenek? Jangan kebanyakan alasan, deh!" Keira mulai meradang karena merasa dipermainkan.

"Makanya, kalau orang ngomong itu dengerin dulu. Main potong aja kayak jagal." Revan kesal melihat reaksi Kiera.

"Ya udah, terusin...."

"Nenek bilang, warisan itu baru bisa cair saat lo udah hamil."

"Hah?" Keira terkejut mendengar penjelasan Revan. "Gimana caranya gue bisa hamil?"

"Kok lo nanya gue, sih? Terus gue nanya siapa?" Revan memutar mata malas.

"Beneran, Kak. Syaratnya itu benar-benar mustahil untuk gue kabulkan." Keira frustrasi sambil menjambak rambutnya.

"Mustahil apa, sih? Lo 'kan punya suami. Suruh dia lah, buat menghamili lo." Revan menjawab dengan santainya, sambil mencorat-coret berkas di depannya.

"Masalahnya nggak sesimpel itu, Kak! Ah, gue jelasin juga lo nggak bakal ngerti."

"Tinggal skidipapap doang." Revan tertawa menanggapi keluhan Kiera. "Terserah lo, sih. Gue cuma menyampaikan amanat dari nenek, kalau warisan mau cair, lo kudu hamil dulu. Kalau lo nggak terima, ntar kalau nenek pulang umroh, lo protes sana."

"Ah, si nenek mah...." Kiera membaringkan diri di sofa sambil berguling-guling dengan kesal.

"Taplak meja gue jadi kusut, Ki. Benerin. Mata gue sepet kalau lihat yang kusut-kusut," perintah Revan. "Kalau nggak ada keperluan lagi, sebaiknya lo pulang. Masak kek, apa kek. Gue lagi banyak kerjaan. Tadi gue kira lo kesini mau nganter bekal buat suami lo."

"Dih, emang gue kurang kerjaan!" Kiera menanggapi sewot.

"Sama suami nggak boleh gitu. Dosa lo!" Revan menasihati adiknya. "Gimanapun juga, bibitnya berguna untuk mencairkan warisan lo."

"Bodo amat!"

"Gue lihat-lihat si Steven makin kurus aja sejak nikah sama lo. Kasih makan lah, Ki. Ntar anak orang tipes, kan nggak enak sama keluarganya di Sumatera. Dikira lo nggak becus ngurus dia. Masakin kek, apa yang dia suka. Btw lo udah nanya, dia sukanya makan apa?"

"Palingan sukanya makan telur semut rang-rang!" Kiera menjawab asal.

"Berdosa lo! Dikira si Steven burung apa? Emang punya, sih, hehe...."

"Lagian kenapa, sih? Cewek yang baru nikah dituntut harus bisa masak? Gue 'kan nikah untuk membangun rumah tangga, bukan rumah makan?" protes Kiera.

"Soalnya makan itu kebutuhan pokok manusia. Sehari tiga kali. Selain nge..."

"Tapi gue kasih makan dia tiga hari sekali, dia masih idup aja 'tuh."

"Apa? Keterlaluan banget lo, Ki! Dipikir suami lo uler apa? Nggak beres ini anak!" Revan geleng-geleng kepala. "Pantesan gue perhatikan wajahnya kayak pucat, lesu dan tidak bertenaga. Gue kira kena kanker."

"Pokoknya gue kecewa nikah sama dia. Ngasih belanja aja itung-itungan. Masa cuma ngasih lima juta sebulan? Duit segitu buat beli apa? Skincare juga nggak cukup." Kiera tampak sangat tidak bersyukur.

"Banyak itu, Ki. Kalian 'kan masih berdua, belum ada anak. Lagian skincare lo mahal amat? Masa lima juta nggak cukup? Eliza gue kasih seratus ribu cukup 'kok. Lo pakai apa, sih? No drop?"

"Kakak mana ngerti, sih. Eliza mah gak bisa dandan. Terang aja seratus ribu cukup. Paling dia cuma pakai bedak Kelly."

"Orang cakep mah, biar pakai bedak murah juga tetap cakep." Revan membela istrinya.

"Btw, tipe suami idaman lo yang kayak gimana, sih, Ki? Menurut gue, si Steven juga udah kebagusan buat lo."

"Tipe gue yang ganteng, kaya, gaji minimal seratus juta, punya perusahaan, baik, setia, anti poligami. Sebelas dua belas kayak Aldebaran ikatan cintalah. Ini malah dapatnya kayak Aldebaran ikatan tali pocong."

"Bersyukur, Ki. Si Steven mau menerima lo apa adanya. Firaun juga belum tentu mau sama lo." Revan menanggapi keluhan Kiera.

Kiera melirik jam dinding di ruangan Revan. Waktu makan siang telah usai. Gara-gara sibuk menanggapi Kiera, Revan sampai lupa memakan bekal dari istrinya.

"Gue mau pulang. Bagi ongkos dong, Kak."

"Nih." Revan memberikan selembar uang sepuluh ribu untuk Kiera.

"Nggak salah ambil, Kak?" Kiera membolak-balik uang di tangannya.

"Ongkos gojek dari sini ke rumah lo 'kan emang segitu, Ki."

Kiera cemberut sambil duduk di sofa Revan. Dengan kesal ia mencorat-coret uang pemberian Revan.

"Jangan dicoret-coret, kena undang-undang loh." Revan mengingatkan Kiera sambil memakan bekalnya. "Nggak mau tumis toge, Ki? Enak loh bikinan kakak ipar lo. Kapan-kapan lo belajar masak 'gih sama dia."

"Gue sumpahin itu toge numbuh di usus lo. Biar jadi perkebunan sekalian!" Kiera bangkit dari sofa, kemudian mengembalikan uang Revan yang sudah dicoret-coret.

Revan mengerutkan dahi melihat uang di atas mejanya. Sedang Kiera berjalan dengan santai keluar ruangan.

"Kiera!"

***
Duit yang dicoret-coret Kiera ....

Maaf ya Gaes, kalau gue akhir-akhir ini slow update (kagak ada yang nyariin juga, sih 🤣) nggak papa, gue pede aja dulu 🤣🤣🤣 maklum yagesya, kalau musim liburan gini hape gue dijajah anak, kalau batre abis baru dibalikin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Maaf ya Gaes, kalau gue akhir-akhir ini slow update (kagak ada yang nyariin juga, sih 🤣) nggak papa, gue pede aja dulu 🤣🤣🤣 maklum yagesya, kalau musim liburan gini hape gue dijajah anak, kalau batre abis baru dibalikin. Mau ngetik malam, ngantuk. Mau minum kopi, gue nggak bisa, takut deg-degan, susah tidur. Intinya gue kebanyakan alesan 🤣🤣🤣 yang sabar yagesya, dalam menghadapi author model gini 🤣🤣🤣

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang