100

951 35 4
                                        

Mutia segera pulang dari tanah suci setelah mendengar kabar Eliza melahirkan. Wanita itu ingin segera melihat cicitnya yang pertama.

"Kok nenek pulang, sih? Katanya mau tinggal di Arab sampai meninggal?" Kiera menggerutu sambil berganti pakaian. Sedang Steven menunggunya di ruang tamu.

Mutia memang berencana tinggal di tanah suci sampai akhir hayat, supaya bisa dimakamkan di dekat masjid Nabawi, tempat mendiang suaminya disemayamkan.

"Ya nggak papa, dong. Namanya juga pingin liat cicitnya." Steven menanggapi.

"Iya. Tapi entar gue yang bakal ditanya-tanya. Yakin, deh." Kiera sebenarnya malas ketika Steven mengajaknya menjenguk Eliza di rumah sakit.

"Males ah, gue nggak jadi pergi aja!" Kiera tiba-tiba berubah pikiran.

"Ada gitu, manusia kayak lo. Nggak kepingin gitu liat wajah keponakan sendiri, nggak kangen sama nenek sendiri?" Steven mengurut dada melihat tingkah laku istrinya.

"Ya udah. Gue ikut. Tapi ada syaratnya!"

"Ya Allah, pakai syarat segala." Steven mengusap dada lagi. "Ya udah, apa?"

"Isiin saldo gopay gue. Sama sopi sekalian. Udah pada abis soalnya." Kiera malah aji mumpung.

"Nggak salah, minggu kemarin baru gue isi. Kok udah abis aja?"

"Ya wajarlah. Ini 'kan udah mau akhir bulan. Tau sendiri, kebutuhan gue banyak."

"Pakai duit cash dulu aja."

"Udah abis juga."

"Heh, lo jangan keterlaluan ya, Ki! Gimana ceritanya sepuluh juta abis sebulan? Kita belum ada anak loh. Belum beli susu, pampers, lo juga nggak pernah masak. Persabunan dan lain-lain yang beli gue."

"Itu cuma buat duit jajan gue aja."

"Lo jajan apa? Seblak berlian?"

"Namanya juga perempuan. Lagian duit segitu nggak banyak, ya. Tau sendiri duit sekarang gampang banget lunturnya. Pagi masih merah, siang udah biru, eh sorenya udah ungu aja." Kiera menjawab tanpa rasa bersalah sama sekali.

"Bener-bener lo, ya." Steven memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Si Kiera ini borosnya nggak ketulungan. Jajan doang sampai segitu. Dikira nyari duit gampang apa? Nggak kelilit pinjol sama bank Mekar aja udah untung.

"Ya udah, ntar gue isi." Steven hanya bisa pasrah. Ia tau, Kiera masih terbawa kebiasaan lama. Maklum, anak orang kaya. Mau beli apa-apa nggak pake mikir. Steven hanya bisa berharap Kiera mau beradaptasi dengan keadaan keuangannya saat ini.

"Lain kali jangan gitu lagi. Tolong hemat dikit. Gue bukan sultan kayak abang lo."

"Yaelah, itu juga udah hemat. Ini aja serum gue udah abis, gue korek-korek."

"Apa nggak bisa pakai bedak fanbo aja? Apa Kelly gitu? Mama pakai itu dari muda, cantik-cantik aja 'kok."

"Hei, hellow! Gue denger mereknya aja baru kali ini. Nggak berani gue pakai bedak kayak gitu, yang ada muka gue malah break out. Ya udah sih, Bang. Bawa santai aja. Ini 'kan cuma akhir bulan, bukan akhir segalanya. Emang gitu resikonya menikahi cewek cantik kayak gue. Biaya operasionalnya mahal."

"Mau cantik, mau kagak. Nggak ada untungnya buat gue. Lo 'kan dandan bukan buat gue. Lo mah dandan buat diri lo sendiri, buat dipajang di sosmed, biar banyak yang like. Influencer juga bukan." Steven meninggalkan Kiera ke garasi, karena Kiera kelamaan dandan.

Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Kiera keluar kamar. Steven bisa melihat penampilan Kiera yang super cetar, seperti idol.

"Udah, nggak usah terpesona gitu. Gue emang udah cantik dari sananya." Kiera berkata dengan penuh kenarsisan yang hakiki.

"Bukan dari sananya, tapi dari dananya." Steven meralat. "Itu berapa lapis, bedak yang lo pakai? Pasti ratusan."

"Emang gue wafer Tango?"

"Ati-ati, longsor."

Kiera kesal karena Steven meledeknya, dengan kasar Kiera duduk di samping Steven. "Gini nih, punya suami nggak bersyukur. Udah capek dandan, bukanya dipuji. Malah diledek."

Sepanjang jalan Kiera selalu mengomel ini dan itu, membuat kuping Steven panas. Perempuan seperti Kiera, mau diruqyah pun percuma. Sembuhnya kalau dirupiah, disawer maksudnya.

"Abang nggak ada rencana ganti mobil?" Kiera mencari bahan perdebatan lagi.

"Kenapa? Ini juga masih bagus 'kok."

Sebenarnya mobil Steven masih layak pakai, merek Apanza 'kan masih lumayan. Mobil sejuta umat.

"Gue pingin mobil yang dua pintu, kayak punya suami temen gue."

"Mobil pick up? Yang buat angkut pasir?"

"Ih, bukan! Maksudnya mobil sport. Paling tiga milyar juga dapet."

"Tiga milyar, duit asli semua? Apa campur duit monopoli? Ginjal gue dijual dua-duanya juga nggak dapet segitu. Kecuali ginjal lo ikutan dijual juga. Bersyukur, Ki. Yang penting kita nggak kredit. Nggak kepanasan, nggak kehujanan juga." Steven malah menceramahi Kiera.

"Ini semua salah Abang."

"Kenapa jadi gue yang salah?"

"Kurang pinter nyari duit."

"Lo mau, gue korupsi di kantor? Lagian, kantornya juga punya abang lo."

"Pokoknya tetep Abang yang salah."

"Salahin terus. Kapan gue pernah bener?" Steven mulai terpancing emosi.

"Ya bener lah. Cowok emang selalu salah. Namanya juga mas salah, nggak ada tuh istilah mbak salah." Kiera terus saja ngeyel.

"Terserah lo, Ki. Terserah... capek gue ngomong sama lo. Perasaan gue napas aja salah."

***

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang