"Kenapa kamu diam saja diperlukan seperti itu?" Revan memarahi Eliza setelah Grace pergi.
"Ya aku harus gimana, Mas?" Eliza malah balik bertanya.
"Jambak kek, cakar kek. Kamu nggak seperti istri-istri di sinetron. Terlalu pasrah. Aku jadi tersinggung. Karena kamu terkesan tidak memperjuangkan aku." Revan malah ngambek tidak jelas.
"Ya buat apa memperjuangkan seseorang yang tidak mau bersama kita. Kalau kamu mau berhubungan dengan dia, itu kan tergantung diri kamu sendiri, Mas. Memangnya aku bisa apa?"
"Padahal aku pingin banget loh, direbutin." Revan malah semakin menjadi, ngambeknya.
"Ya udah, kalau besok-besok dia masih berani kesini, aku jambak deh. Tapi emang beneran nggak papa, aku jambak dia? Takutnya nanti dilaporkan ke polisi pasal penganiayaan."
Revan tampak berpikir ulang. "Iya, mending jangan. Ujung-ujungnya aku juga yang keluar duit buat sewa pengacara."
"Gimana, sih, kamu? Padahal aku udah seneng aja kamu suruh jambak dia." Eliza tersenyum geli.
Revan menatap tajam ke arah Eliza. "Nggak usah senyum-senyum kayak gitu! Bisa nggak sih jadi orang jangan cakep-cakep amat? Bikin pusing aja."
"Bukannya dulu, kamu bilang aku gendut, ya?" ledek Eliza.
"Seharusnya kamu bersyukur aku ejek. Kalau nggak gitu, kamu nggak punya motivasi buat diet." Revan membela diri.
"Halah, apaan? Orang aku kurus bukan karena diet kok. Dulu ceritanya aku abis sakit tipes, parah banget, sampai badanku kurus gini, nggak tau kenapa nggak bisa balik gemuk lagi sampai sekarang." Eliza tersenyum lagi.
"Udah dibilang jangan senyum! Mau aku makan?" Revan mendekati Eliza.
Ngomong-ngomong soal makan, Eliza lupa kalau sebentar lagi jam makan siang. Ia belum sempat masak karena tadi Grace datang.
"Astaghfirullah."
"Ada apa?" tanya Revan panik.
"Aku... belum masak, Mas. Hehe...." Eliza senang melihat ekspresi Revan.
"Aku kira ada apa! Ya udah. Makan di luar aja. Sekarang kita makan yang lain dulu." Revan menggiring Eliza ke kamarnya.
"Di rumah udah nggak ada makanan sama sekali, Mas. Cemilan juga udah pada abis. Memangnya mau makan apa?" tanya Eliza polos.
Saat Revan mengunci pintu, baru Eliza mengerti maksud Revan.
"Bukannya kemarin udah, ya?" tanya Eliza lagi.
"Terus kenapa? Memangnya nggak boleh kalau setiap hari?" Revan mulai kesal karena merasa Eliza hanya mengulur waktu.
"Tapi dulu aku pernah dengar, katanya ada waktu-waktu khusus yang baik untuk bersilaturahmi. Sekarang 'kan hari Sabtu, katanya nanti kalau menghasilkan anak, jadi pencuri atau perampok."
"Masa, sih? Baru denger." Revan meragukan ucapan istrinya. "Bilang aja kamu males, ya kan?"
"Beneran kok, Mas. Aku pernah denger."
"Mana ada yang kayak gitu. Semua hari itu baik, untuk bercocok tanam." Revan membuka dasinya, kemudian kancing kemejanya.
"Tapi kan, Mas. Nanam padi aja ada musimnya lho." Eliza membantah lagi.
"Aduh, kamu tuh ribet banget, ya. Dikasih yang enak malah nggak mau. Kalau aku ngajak perempuan lain, nanti kamu nangis."
Eliza terkejut mendengar ucapan Revan yang tidak disangka-sangka. Padahal Revan cuma bercanda saja.
"Cuma gara-gara gitu aja kamu mikir selingkuh, Mas? Jahat kamu!" Eliza marah dan pergi meninggalkan Revan.
Revan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian membuang dasinya dengan kesal ke atas tempat tidur.
"Kok jadi dia yang marah, sih? Perempuan emang gitu."
***
