14

1.8K 96 0
                                        

Brak!

Eliza sengaja menutup pintu lemari dengan keras, membuat Grace menoleh kepadanya. Begitu juga Revan.

"Ada apa, Mbak?" tanya Grace heran.

"Tidak ada apa-apa. Cuma kaget lihat kecoak. Jijik." Eliza melirik ke arah Revan sekilas. Kemudian membuang muka ke arah lain.

"Saya permisi pulang. Mau mengerjakan tugas rumah." Eliza meninggalkan ruangan Revan dengan langkah berderap, tanpa menoleh ke belakang, tanpa menunggu persetujuan Revan.

"ART di rumahmu aneh. Aku perhatikan dia suka curi-curi pandang ke arah kita." Grace mengungkapkan kecurigaannya. Setelah mereka tinggal berdua saja.

Revan merasa bersalah karena Grace mengira Eliza adalah asisten rumah tangganya, ingin rasanya Revan menjelaskan yang sebenarnya, tapi entah mengapa mulutnya terasa berat.

"Grace... sebenarnya dia...."

Ucapan Revan terputus, ketika suster masuk untuk mengantar makanan untuk Revan. Dengan cekatan Grace segera mengambil alih makanan itu.

"Aku bantu makan."

"Aku bisa sendiri." Revan menolak dengan halus, membuat Grace agak kecewa.

"Bagaimana kalau kita berlibur, setelah kamu keluar dari rumah sakit?" tanya Grace dengan wajah penuh harap.

"Kemana?" Revan bertanya santai sambil menyuap makanan ke mulutnya.

"Bagaimana kalau ke Bali?" tanya Grace dengan wajah berbinar.

Bali adalah pulau yang penuh kenangan bagi Grace dan Revan, dulu mereka sering berlibur berdua kesana.

Revan tidak segera menjawab, pria itu menebak dalam hati, apa sebenarnya maksud Grace mendekatinya lagi? Padahal dulu mereka sepakat berpisah baik-baik.

"Kamu tidak sibuk?" Revan mengalihkan pembicaraan tentang liburan.

"Sebenarnya aku ada proyek. Tapi tidak begitu mendesak. Bisa dikerjakan lain waktu."

Grace membantu mengelap mulut Revan, ada sebutir nasi yang menempel di ujung bibirnya. Reflek Revan segera menghindar saat Grace hendak mengusap wajahnya. Hal itu membuat Grace sedikit tersinggung.

"Ya, kamu memang bisa sesantai itu. Bekerja bagimu cuma sekedar hobi untuk mengisi waktu, lagipula perusahaan juga milik papamu." Revan menanggapi santai.

"Bukan begitu. Tetap saja aku punya tanggung jawab." Grace membantah Revan. "Hanya saja, saat ini aku punya sesuatu pekerjaan yang lebih penting."

"Oh, ya? Apa?" tanya Revan sambil terus makan.

Revan kaget saat tiba-tiba Grace mendekatinya. Pria itu memundurkan tubuhnya. "Grace, kamu mau apa?"

"Menurutmu?" Grace bertanya dengan tatapan menggoda.

Revan hanya menghela nafas berat. Kini ia semakin yakin, maksud Grace beberapa hari ini mendekatinya, pasti gadis itu mau mengajak balikan. Tapi maaf saja, Revan sudah tidak berminat dengan gadis itu. Siapa juga yang tidak sakit hati setelah diselingkuhi.

"Maaf, Grace. Aku nggak bisa."

Grace terlihat kecewa mendengar sambutan Revan yang kurang antusias, tidak sesuai dengan harapannya.

"Iya, aku tau, dulu aku memang salah. Kamu pasti masih dendam sama aku, ya?"

Revan menggeleng pelan. "Enggak sama sekali. Aku udah melupakan semuanya."

Revan berkata jujur, dia sudah melupakan semuanya, walau hatinya sudah tidak bisa kembali seperti semula. Ia berusaha menerima kalau dirinya telah diselingkuhi. Tapi, kalau untuk balikan dengan Grace, maaf saja. Masih banyak perempuan di luaran sana. Tinggal tunjuk  kalau untuk pria sekelas Revan.

"Emang kamu nggak bisa ngasih kesempatan buat aku, Van?" tanya Grace manja sambil memainkan kerah kemeja Revan.

Revan segera menahan tangan Grace dan mendapat datar ke arah gadis itu.

"Maaf saja, Grace. Saat ini aku lagi fokus mengerjakan proyek sawit yang baru ku rintis." Revan beralasan.

"Oh, ya. Kebetulan papa juga sedang melakukan ekspansi perusahaan, bagus juga kalau kalian bisa bekerja sama. Tentunya kamu juga butuh suntikan dana yang tidak sedikit 'kan?"

Revan mulai tertarik dengan tawaran Grace. Memang kalau bau-bau cuan pria itu jarang menolak. Kalau benar papa Grace bisa memberikan dana yang dia butuhkan, Revan tidak perlu tergantung kepada uang neneknya. Dengan begitu neneknya tidak bisa seenaknya mengatur kehidupannya. Ia bisa segera menceraikan Eliza dan mengakhiri drama pernikahan bodoh yang saat ini dijalaninya.

"Bagaimana, Van? Kalau kamu oke, nanti aku bantu bicara sama papa," desak Grace.

Revan tampak berpikir sejenak, bukannya ia tidak tau maksud Grace. Gadis itu sengaja ingin menawarkan bantuan untuk bisa mendekati Revan lagi sebagai timbal balik.

Sudahlah! peduli setan, yang penting Revan bisa berkerja sama dengan perusahaan sebesar milik papa Grace. Tidak banyak perusahaan yang bisa bermitra dengan perusahaan sebesar itu. Mereka terkenal selektif, apalagi kepada perusahaan yang baru berkembang seperti milik Revan.

"Baiklah, aku setuju."

Senyum Grace mengembang mendengar jawaban Revan. Kini dirinya selangkah lebih dekat dengan pria itu.

***

Di rumah, Eliza merasa amat gelisah. Di satu sisi dia merasa bersalah, karena meninggalkan suaminya yang sedang sakit sendirian. Walau ia yakin, Revan tidak sendiri, pasti Grace selalu menempel padanya.

Eliza sangat menyayangkan sikap Revan yang tenang-tenang saja 'ditempeli' oleh Grace. Padahal jelas-jelas dia sudah beristri. Eliza merasa tidak dianggap sama sekali. Bahkan Revan tidak membantah ucapan Grace yang mengira dia pembantu rumah tangga.

Eliza ingin kembali ke rumah sakit, tapi hatinya masih kesal kepada Revan. Dia juga tidak sanggup menyaksikan kedekatan Revan dan Grace dengan kedua matanya sendiri.

Ingin rasanya Eliza berteriak di depan wajah Grace, mengatakan kalau dia adalah istrinya Revan. Tapi Eliza tidak punya keberanian untuk melakukannya.

Sejak tadi Revan berusaha menghubungi Eliza, tapi gadis itu sengaja mengabaikannya. Hatinya masih dongkol dengan perlakukan Revan.

"Kenapa tidak mengangkat telponku?"

Eliza membaca pesan Revan dengan malas, tiba-tiba tangannya gatal ingin membalas.

"Kenapa menghubungiku? Takut aku mengadukan perbuatanmu kepada nenek, ya?"

***

Aduin aja, El 🤭 sama pawangnya.

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang