"Aku nggak pernah ngomong kayak gitu, ya. Biar atheis gini, aku juga masih punya hati nurani." Revan tidak terima dituduh begitu saja oleh istrinya.
"Beneran, Mas? Kamu nggak akan nyuruh gugurin anak kita?" Eliza tersenyum bahagia mendengar ucapan Revan.
"Ya nggak lah. Namanya juga udah kejadian. Ya gimana lagi."
"Kok kamu kayak nggak seneng gitu sih, Mas? Kayak terpaksa." Eliza tidak senang melihat ekspresi Revan yang seperti tertekan.
"Nggak gitu, aku cuma kaget aja. Ini aku lagi mikir, bentar lagi 'kan aku berangkat ke Papua. Ntar kamu di rumah siapa yang jaga?" Revan benar-benar mengkhawatirkan keadaan istrinya. Kasihan juga Eliza kalau harus ditinggal sendiri. Namanya juga orang hamil, biasanya 'kan ada sesi ngidam gitu.
"Aku nggak papa ditinggal sendiri. Berani aku." Eliza meyakinkan suaminya supaya tidak khawatir. "Asal kamu di sana bener-bener kerja."
"Masih aja, udah dijelasin berkali-kali. Ngapain juga aku jauh-jauh ke sana kalau cuma mau selingkuh, di sini juga bisa, kalau aku niat." Revan kesal karena Eliza terus saja cemburu untuk hal yang tidak jelas, mungkin hormon kehamilan.
"Nanti malam aku mau keluar, ada acara." Revan berpamitan kepada Eliza, ia diundang makan malam oleh papanya Grace. Entah apa yang akan dibicarakan pria tua itu.
"Aku nggak diajak, Mas?" Eliza merajuk lagi.
"Ini urusan kerjaan. Besok aja, ya. Kamu mau kemana juga aku anterin. Pokoknya jangan sekarang." Revan menolak mentah-mentah permintaan istrinya. Membuat istrinya cemberut dan masuk kamar.
***
Bakda isya, Revan benar-benar pergi menemui papanya Grace. Walau diiringi wajah cemberut istrinya.
"Nanti pulang mau dibawain apa?" Revan merayu istrinya supaya tidak ngambek terus.
"Nggak usah repot-repot." Eliza menjawab datar.
Revan menghela nafas berat, kemudian mencium dahi istrinya. "Ya udah, aku tinggal sebentar. Nanti kalau mau nitip apa-apa, WA aja."
Revan keluar apartemen diiringi tatapan nanar Eliza, setelah pintu tertutup, air mata Eliza langsung jatuh.
"Kenapa, ya, aku kok jadi pingin nangis terus?" Eliza mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya.
***
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa melakukannya."
Revan menolak tawaran papanya Grace. Pria tua itu menawarkan Revan untuk menikahi Grace. Ada imbalannya tentu saja.
"Pikirkan lagi, Van. Ini kesempatan buatmu. Saya dengar bisnis nikelmu sedang tidak baik-baik saja. Saya bisa bantu invest di sana," desak papa Grace dengan wajah penuh harap.
Revan tampak berpikir sejenak, kemudian memijit pelipisnya pelan.
"Bicarakan pelan-pelan dengan istrimu. Saya yakin dia pasti akan mengerti."
Revan menghembuskan nafas panjang sebelum bicara. Keputusannya sudah bulat.
"Tetap tidak bisa, Pak. Masalahnya istri saya sedang hamil. Saya juga sudah lama tidak punya perasaan kepada Grace."
Papa Grace tampak merenung sejenak, kemudian pria tua itu mengangguk pelan.
"Baiklah, saya mengerti. Sebenarnya saya juga malu minta seperti ini. Mau gimana lagi, kamu tau seperti apa watak putri saya."
Revan merasa lega mendengar ucapan papa Grace. "Terimakasih atas pengertiannya, Pak."
"Saya tau, dia sering menganggu kamu di kantor. Saya minta maaf, ya."
Revan hanya diam. Kedatangan Grace di kantornya memang membuat Revan risih. Revan takut menjadi bahan gosip di kalangan karyawan. Apalagi Grace sering datang memakai pakaian minim, dan berada selama berjam-jam di ruangan Revan.
"Nanti akan saya kirim dia ke London. Untuk meneruskan S3."
"Itu ide bagus, Pak." Revan sontak menjawab antusias. "Tapi, tentang kerja sama kita, lanjut apa bagaimana, Pak?"
"Kamu jangan khawatir, Van. Saya ini orangnya profesional. Saya nggak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan pekerjaan. Kerjasama kita tetap lanjut." Papa Grace berkata dengan bijak, kemudian menepuk pundak Revan.
Revan tersenyum haru mendengar ucapan papa Grace. "Terimakasih, Pak. Saya akan berusaha yang terbaik."
"Kamu pemuda yang berbakat. Grace telah salah menyia-nyiakan kamu dulu."
***
Setelah menemui papanya Grace. Revan tidak langsung pulang. Ia malah mengajak Steven untuk ngopi sebentar.
"Istri lo lagi hamil, kok lo malah keluyuran sendiri?" sindir Steven, ketika ia baru saja sampai di kafe.
"Gue abis ketemu sama papanya Grace." Revan menjawab singkat.
"Ya udah, kalau urusannya udah selesai, kenapa nggak langsung pulang? Kasian istri lo sendiri di rumah."
"Kenapa lo perhatian banget sama istri gue?" Revan menatap penuh curiga ke arah Steven.
"Nggak gitu, gue cuma ngingetin lo aja. Oh, ya... tadi apa yang dibicarakan papanya Grace? Bukannya semua kontrak udah deal?" Steven dengan sigap mengalihkan pembicaraan.
"Gue disuruh nikahin si Grace." Revan menjawab singkat.
"Apa?"
***
