Kiera berjalan keluar dari kantor Revan dengan perasaan gundah. Kiera merasa dirinya ditipu mentah-mentah oleh neneknya. Sudah repot-repot menikah dengan Steven, warisan tak kunjung cair juga.
"Dasar nenek. Udah tua masih aja ngebokis."
Kiera berjalan dengan lesu ke arah ATM di seberang jalan. Untuk menarik saldo yang tinggal 50 ribu.
Saat keluar dari ATM, seorang pengemis datang menghampiri.
"Sodakoh, Neng." Pengemis itu menadahkan tangan.
"Nggak dulu, Bu."
"Saya dari pagi belum makan, Neng." Pengemis itu semakin memelas.
"Lah, sama, Bu. Saya juga. Lagi diet soalnya." Kiera menjawab lagi.
"Dua ribu aja, Neng. Buat beli teh sisri."
"Jangan, Bu. Uang saya cuma gocap. Ntar kalau saya kasih, tinggal 48 dong?" Kiera menolak memberi. "Kalau ibu haus, tuh di kantor kakak saya ada dispenser, minta aja sama pak Satpam. Pasti dikasih 'kok."
Pengemis itu menengok ke seberang jalan yang ditunjuk Kiera. Kemudian ia melirik sinis ke arah Kiera.
"Dasar pelit. Cakep doang, tapi nggak mau sodakoh!"
Pengemis itu pergi meninggalkan Kiera yang kebingungan seorang diri. Bahkan ibu-ibu pengemis itu sempat mengacungkan jari tengah ke arah Kiera.
"Lah, malah ngamok...." Kiera menggeleng pelan.
Saat Kiera hendak memanggil ojek online, seorang pemuda bermotor yang memakai helm full face menghampiri Kiera. Pemuda itu sempat menggeber motornya di depan Kiera.
Sontak Kiera ketakutan, sambil berteriak.
"Tolong! Ada begal payudara!" Kiera menutup dadanya dengan tasnya.
"Ini gue, Ki. Hansen. Kita sekelas waktu SMA." Pemuda itu membuka helm full face-nya.
Kiera mengamati baik-baik wajah pemuda itu. "Lo beneran Hansen? Kok jadi cakep? Bukannya lo dulu burik?"
Pemuda itu tersenyum mendengar ucapan Kiera yang kelewat polos. "Lo, Ki... dari dulu masih suka nge-roasting aja."
"Sorry. Abis gue kaget beneran. Apa rahasianya lo bisa glow-up begini? Kayak beda orang."
"Gue perawatan, Ki. Pakai hand body Marina. Makanya sekarang gue jadi putih. Terus gue nge-gym juga. Nggak mau lihat roti sobek gue, Ki?"
"Sembarangan lo! Bikin mata gue katarak aja." Kiera memukul pelan lengan Hansen.
"Lo ngapain mangkal di sini, Ki?" tanya Hansen lagi.
"Habis dari kantor kak Revan. Tuh di situ." Kiera menunjuk kantor Revan di seberang jalan.
"Serius, itu kantor kakak lo? Gue udah lama naruh lamaran di situ nggak dipanggil juga. Kira-kira ada lowongan nggak, Ki?"
"Ada. Jadi tukang angkat galon. Mau?"
"Kira-kira dong, Ki. Nggak sinkron sama muka gue. Masa oppa-oppa jadi tukang angkat galon?" Hansen protes.
"Ya udah, tukang lap kaca."
"Ah, lo, Ki."
"Btw lo sekarang pengangguran dong?" tanya Kiera penasaran.
"Gue kerja, Ki. Nyabut uban mama. Perhelai dikasih dua ribu."
"Keren juga kerjaan lo. Pasti sangat beresiko." Kiera mencibir.
"Lo sendiri, kerja di mana, Ki?" Hansen balik bertanya.
"Ngapain gue kerja. Orang udah ada yang nyari duit buat gue. Tinggal minta kalau gue, sih...." Kiera memainkan ujung kukunya.
"Dih, jadi preman lo?"
"Gue udah nikah. Gue jadi ibu rumah tangga!" Kiera menjawab ngegas.
"Lah, udah nikah ternyata. Baru aja mau gue gebet hehe...." Hansen menggaruk rambutnya.
"Sembarangan. Emang punya apa lo? Berani-beraninya mau ngegebet gue?" Kiera memperhatikan tampilan Hansen. "Tapi motor lo keren juga, sih."
"Lo tau aja barang bagus, Ki." Hansen tertawa lagi.
"Tapi percuma. Paling kalau lo udah bapak-bapak, motor sport lo ini berubah jadi motor Mio yang depannya ada kursi rotannya."
"Iya, kan buat ngebonceng anak kita hehe...." Hansen malah ngegombal.
"Dih, bisa aja lo, sedotan sisri! Laki gue aja belum sempat unboxing." Kiera menggerutu pelan.
"Gimana kalau gue anter pulang?" Hansen menawarkan tumpangan.
Kiera menatap langit yang mendung, sepertinya hujan akan turun. "Nggak ah, gue naik grab aja. Yang ada gue kehujanan naik motor lo. Motor lo 'kan nggak ada kanopinya?"
"Gue bawa jas hujan, Ki. Ntar kita bisa neduh, biar romantis."
"Bisa aja lo, iketan kangkung! Ya udah, ayo." Kiera bersiap naik ke boncengan Hansen. Tiba-tiba seseorang menahan pundaknya.
"Mau kemana?"
***
Waduh, siapa 'tuh?
