Benar dugaan Kiera, di rumah sakit, ia langsung diserang dengan pertanyaan Mutia. "Revan udah punya anak, kalian kapan?"
"Besok, Nek. Anak kami masih disortir di DC Cakung." Kiera menjawab asal.
"Dikira anak kita paket? Sama orang tua jangan kurang ajar, Ki," tegur Steven.
"Lagian Nenek mah aneh. Ya mana kita tau, kapan dikasih anak. Semua itu 'kan rahasia tuhan. Kalau Kiera balik tanya, kapan Nenek meninggal? Kan nggak etis."
"Kiera! Jangan keterlaluan!" Steven menatap Kiera tajam.
"Masalahnya, kalian usahanya maksimal nggak? Terutama kamu Kiera." sindir Mutia.
Maksimal darimananya? Bikin aja nggak pernah.... Steven mengeluh dalam hati.
"Kok Nenek malah nyalahin Kiera, sih. Salahin juga suami Kiera, siapa tau mandul."
Mendengar ucapan Kiera, Steven langsung melotot ke arahnya. "Ngomong-ngomong, kenapa jadi gue yang mandul, ya?"
"Pokoknya Nenek nggak mau tau, sebelum Nenek balik ke tanah suci, Kiera harus udah isi. Kalau perlu Nenek mau nginep di rumah kalian untuk memantau."
Mendengar ucapan Mutia, Kiera langsung kalang kabut. "Ngapain nginep di rumah Kiera, sih, Nek? Pulang aja ke rumah Nenek sendiri."
"Kiera!" Steven menyuruh Kiera diam.
"Oh, gitu. Jadi Nenek dilarang nginjek ubin rumah kalian?"
"Enggak, kok, Nek." Steven buru-buru meralat ucapan Kiera. "Nenek boleh nginep di rumah kami, kapanpun Nenek mau."
Giliran Kiera yang melotot ke arah Steven. Enak saja Steven main setuju, nggak kompak amat.
"Baiklah, mulai besok Nenek akan nginep di rumah kalian."
***
"Sebel! Sebel! Sebel!" Kiera misuh-misuh saat berada di dalam mobil. Dengan cekatan Steven meraih botol air mineral, dan memberikannya kepada Kiera.
"Minum dulu, biar chill dikit."
"Gue nggak mau minum, gue maunya Nenek secepatnya balik ke Arab!" Kiera malah makin kesetanan.
"Sama Nenek sendiri jangan jahat." Steven menasehatinya.
"Lagian Nenek kek apaan banget? Pakai ngasih deadline segala."
"Namanya juga orang tua. Maklumin aja." Steven malah membela Mutia.
"Gue yakin ini karena Nenek kelamaan menjomblo." Kiera tampak berpikir keras. "Apa kita carikan jodoh aja?"
"Sama siapa?"
"Tok dalang?"
***
Keesokan harinya, Mutia benar-benar datang ke rumah Steven untuk menginap, tak lupa perempuan tua itu membawa koper besar berisi baju untuk stok seminggu.
"Nenek kesini diantar siapa?" Steven menyambut di depan pintu.
"Ujang. Tadi dia langsung pulang." Mutia masuk dengan leluasa, matanya berkeliling mencari keberadaan Kiera.
"Mana istrimu?" Mutia melihat ke arah jam dinding. "Jam segini belum bangun?"
"Eng, itu...." Steven bingung mencari alasan.
"Oh, Nenek ngerti. Kemarin malam Jumat kan, ya?" Mutia tersenyum penuh arti.
Steven menggaruk pelipisnya sambil tersenyum masam. Nenek belum tau saja, bukan hanya malam Jumat, hari-hari juga Kiera bangunannya selalu siang.
"Sudah sarapan kamu?" Mutia berjalan ke meja makan. Steven dengan sigap mengikuti.
"Sudah, Nek. Pake roti."
"Roti aja cukup?"
"Cukup, Nek. Dari dulu juga gitu." Steven tersenyum.
"Kamu nggak pernah dibekalin sama Kiera?" Mutia bertanya lagi.
"Pernah kok, Nek. Tapi saya sendiri yang nggak mau. Nanti malah nggak kemakan. Soalnya kadang saya sibuk banget, sampai lupa makan. Paling kalau ada waktu makan di kantin, gitu aja biar nggak repot." Steven terpaksa berbohong kepada Mutia.
Steven melihat jam tangannya. "Nek, maaf saya harus siap-siap pergi kerja."
"Ya sudah."
Steven berjalan ke arah laundry room, untuk menyetrika kemeja yang semalam baru saja dia cuci.
Mutia memperhatikan Steven yang mulai menyalakan setrikaan. "Loh, kok kamu yang nyetrika?"
"Nggak papa, Nek. Nyetrika doang masalah kecil." Steven tersenyum lagi. Dia memang sudah biasa apa-apa sendiri, ada atau tidak ada Kiera tidak berpengaruh sama sekali.
"Suruh istrimu lah."
"Nggak masalah, Nek. Nyetrika baju bukan cuma tugas istri. Siapa aja yang sempet. Kiera kadang juga nyetrika 'kok."
Sepagi ini, Steven sudah berbohong dua kali. Dalam hati ia berdoa, semoga Mutia tidak curiga.
"Kamu pernah dimasakin apa sama Kiera?" selidik Mutia lagi.
"Em, apa, ya?" Steven pura-pura berpikir keras. "Lupa, Nek. Soalnya banyak banget."
"Masa?" Mutia tidak percaya ucapan Steven. "Masakan dia yang paling kamu suka?"
"Rendang kayaknya."
"Bohong! Jangankan masak rendang. Masak telur aja dia nggak bisa."
Steven langsung mati kutu, sia-sia saja usahanya untuk membohongi Mutia.
"Kiera sekarang udan pinter masak kok, Nek. Dia sering belajar di YouTube."
"Baiklah. Besok Nenek tes!" Mutia berjalan meninggalkan laundry room.
Steven mengusap muka dengan panik. "Gue tadi ngomong apa, sih? Seharusnya tadi gue diem aja, biar selamet."
***
