Tak terasa sudah seminggu Kiera berada di pondok pesantren, gadis itu mulai bisa menyesuaikan diri dengan suasana kehidupan di pesantren. Bangun subuh, ngaji, begitu terus sampai tidur lagi. Tapi Kiera tetap bersyukur, karena dia hanya dikirim ke pesantren, bukan ke panti asuhan.
Apalagi di sini ada ustadz Fahri, yang gantengnya nggak ada akhlak. Bisa dibilang dia adalah penyemangat hidup bagi Kiera. Walaupun pria itu sudah beristri, tidak menyurutkan niat Kiera untuk mendekatinya.
Apalagi pribadi ustad Fahri yang selalu ramah dan santun, selalu sabar dalam menjawab semua pertanyaan dari Kiera.
(Ada yang masih ingat ustadz Fahri, nggak? 🤣)
"Gimana, Ki? Kamu sudah mulai kerasan tinggal di sini?" tanya Fahri ramah.
Fahri menghampiri Kiera yang sedang piket mengelap kaca perpustakaan.
Kiera tersenyum menyambut kedatangan Fahri, serbetnya ia sampirkan di bahu, seperti OB di sinetron Cinta Fitri.
"Alhamdulillah, sudah, Ustadz. Ternyata tinggal di pesantren nggak seburuk yang saya kira. Cuma makanannya aja yang kurang nendang."
Fahri tersenyum mendengar jawaban Kiera yang lugas.
"Alhamdulillah, kalau kamu sudah mulai kerasan. Soal makanan, harap maklum aja. Yah, namanya juga pesantren, bukan warung Tegal hehe.... yang penting kenyang, sebagai sumber tenaga untuk mencari ilmu. Betul?"
"Iya, Ustadz. Eng, sama itu Ustadz, kayaknya badan saya mulai gatal-gatal, rambut saya juga, kayaknya ketularan kutu dari santri lain." Kiera mengadu.
"Ambil hikmahnya saja, Ki. Namanya juga mencari ilmu, ada saja tantangannya. Hikmahnya, kita harus lebih meningkatkan kebersihan diri. Annadhofatu minal iman. Artinya?" Fahri sengaja mengetes Kiera.
"Kebersihan sebagian dari iman." Kiera mengartikan dengan baik, membuat Fahri mengangguk puas.
"Wah, udah pinter kamu. Bagus. Pertahankan, ya."
"Kalau pak Ustadz yang ngajarin cepat paham. Kalau Ustadzah Nurul yang ngajarin nggak paham-paham." Kiera tersenyum malu.
(Masih ingat ustadzah Nurul, nggak? 🤣)
"Sebentar lagi puasa, harus lebih giat, ya, ngajinya. Supaya dapat berkah Ramadhan," pesan Fahri.
"Siap, Ustadz." Kiera membuat tanda hormat dengan gerakan yang lucu.
"Bagus. Nanti ikut tadarusan juga di masjid. Banyak takjilnya loh," canda Fahri.
"Wah, kesempatan emas itu, Ustadz. Saya pasti datang. Jadi tim nyimak aja, nggak papa 'kan?" Kiera tersenyum malu.
"Nggak papa. Orang yang mendengar, dengan orang yang membaca Alquran, sama-sama dapat pahala. Enak 'kan? Nggak usah capek baca, cuma nyimak aja dapat pahala."
"Em, Ustadz. Saya boleh nanya?"
"Wah, pasti yang aneh-aneh lagi." Fahri sudah biasa menanggapi pertanyaan Kiera yang diluar Nurul, eh nalar maksudnya.
"Nggak kok, Ustadz. Saya cuma mau nanya, kan katanya di bulan Ramadhan kita disuruh memperbanyak amal. Nah, kalau misalkan buka puasa jam 6, terus kita tambah sampai jam delapan, itu hitungannya lembur apa loyalitas, Ustadz?" tanya Kiera polos.
"Hah?"
***
Kata Ustadz Jek di Twitter, itungannya lo caper ama malaikat, Ki 🤣🤣🤣
Lagian lo genit amat, nggak tau apa hati ustadz Fahri udah kadung dikapling sama Adel? Udah terkodel-kodel dia 🤣🤣🤣
Bukannya tipe lu guru PJOK, ya, Ki? 😁
