Pukul setengah dua belas siang, Kiera terbangun. Itupun karena perutnya merasa lapar. Kiera turun ke dapur untuk mencari apa yang bisa dimakan.
Biasanya Steven meninggalkan roti untuknya di meja makan. Kalau di rumah tangga orang lain, istri yang bertugas menyiapkan makanan untuk suami, tapi di rumah tangga Kiera malah sebaliknya.
Kiera kaget ketika melihat neneknya sedang memasak di dapur. Kiera hendak berbalik ke kamar. Tapi sayang, Mutia keburu menyadari keberadaannya.
"Bagus, jam segini baru bangun." Mutia menyindir.
"Nenek ngapain, pagi-pagi gini sudah ada di sini?" Kiera bertanya dengan cuek, sambil menuang air ke dalam gelas. Kemudian meminumnya.
"Pagi kamu bilang?" Mutia berkacak pinggang sambil mengayunkan spatula ke muka Kiera.
"Biasa aja kali, Nek. Suami Kiera aja nggak masalah 'kok." Kiera hendak kembali ke kamarnya, tapi dicegah oleh Mutia.
"Bantu Nenek masak!"
"Tapi Kiera belum mandi, Nek. Lagian Nenek masak buat siapa, sih?"
"Tadi Nenek periksa kulkas. Kosong. Cuma ada telur sama susu aja."
Kiera memutar mata mendengar ucapan neneknya. "Cuma berdua doang, ngapain masak? Ribet!"
"Nenek lihat-lihat, sejak menikah sama kamu, Steven agak kurusan. Kayaknya dia banyak ngebatin." Mutia menyindir lagi. "Kamu becus nggak, sih, ngerawat anak orang?"
Kiera menggaruk telinganya yang tiba-tiba merasa gatal. "Udah, deh. Nenek nggak usah ribet. Perkara makanan doang. Lagian rumah tangga kami baik-baik aja. Buktinya nggak cerai 'kan?"
"Terus kerjamu di rumah apa? Males-melesan seharian? Masak butuh waktu berapa lama, sih? Masak itu lebih hemat, lebih sehat juga." Mutia menasihati.
"Gini ya, Nek. Tujuan orang menikah itu untuk membangun rumah tangga, bukan membangun rumah makan. Ngapain istri harus dituntut bisa masak? Urusan makan, sekarang gampang, warung ada, gofood ada. Kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?"
Kiera sudah capek berdebat dengan neneknya yang menurutnya cerewet. Dia mengabaikan panggilan Mutia yang menyuruhnya untuk membantu masak.
"Kiera! Awas kamu, ya! Nggak Nenek kasih warisan!"
***
Di dalam kamar, Kiera kesal setengah mati. Hari-harinya yang damai, kini terusik sejak kedatangan Mutia di rumah ini.
"Ya Allah, letakkan Nenek di sisimu." Kiera dengan kurang ajarnya berdoa.
"Daripada suntuk ngeliat muka Nenek. Mending gue jalan."
Kiera bergegas mandi dan bersiap. Dengan mengendap dia keluar dari kamarnya.
"Mau kemana kamu?" Mutia berdiri tepat di depan Kiera.
"Mau ketemu teman sebentar, Nek."
"Teman apa? Laki atau perempuan? Ketemu di mana? Pulang jam berapa?"
Kiera menghela nafas kesal, Steven saja tidak pernah bertanya ini itu. Lah, ini malah neneknya yang bawelnya mengalahkan mertua di sinetron azab.
"Kiera mau ke pasar, Nek. Belanja. Kan kulkas udah kosong 'tuh." Kiera beralasan.
"Telat! Udah Nenek isi semua. Ada buah, sayur, daging, ikan. Udah lengkap!"
Kiera berpikir keras untuk mencari alasan yang sekiranya masuk akal.
"Mau jenguk teman Kiera yang sakit, Nek."
"Siapa namanya?"
"Ujang. Eh, Ulfa." Kiera gelagapan.
"Sakit apa?"
"Tipes."
Mutia tampak berpikir sejenak. "Udah ijin suamimu?"
"Udah kok, Nek."
Akhirnya Mutia mengijinkan Kiera keluar. Itupun dengan perundingan yang sangat alot.
"Mampir sebentar ke kantor Steven."
"Ngapain, Nek? Orang kerja 'kok malah diganggu."
"Tadi Nenek masak makanan kesukaan dia. Biar dia makan waktu istirahat."
"Yaelah, Nek. Biar aja dia makan katering kantor. Kiera lagi buru-buru."
Mutia mengabaikan protes Kiera. Perempuan tua itu tetap berjalan ke dapur untuk membungkus makanan.
***
Dengan bersungut-sungut Kiera masuk ke lobby kantor, kemudian terus saja naik ke ruangan Steven.
"Kiera?" Steven yang sedang asyik dengan laptopnya, kaget melihat istrinya datang tanpa assalamualaikum. Tampak tangan Kiera menenteng tas bekal.
"Gue cuma mau nganter ini." Kiera meletakkan tas bekal di meja Steven.
"Tumben? Pasti tanda-tanda hari kiamat, nih." Steven meledek. Ia tau, Kiera pasti disuruh neneknya.
"Nggak usah kegeeran, wahai domestos nomos! Gue juga terpaksa datang ke sini." Kiera bergegas keluar ruangan.
"Abis ini langsung pulang 'kan?" tanya Steven.
"Dih, males banget. Ya nggak lah. Gue mau main, sampai malam. Males banget ngeliat muka nenek di rumah. Mana kalau ngomel kuat banget, kayak pakai batre alkali. Biasanya orang kayak gitu matinya lama."
"Astaghfirullah, Ki. Nyebut. Itu 'kan nenek lo sendiri."
"Affah iyah?" Kiera malah meledek.
"Gini, nih... Tipe orang yang kalau ketemu Dajjal langsung akrab."
Kiera tak menghiraukan ucapan Steven, baginya main lebih penting. Ia hampir telat janjian dengan temannya, siapa lagi kalau bukan Ceisya.
"Ketemuan di mana? Pulang kerja gue jemput."
"Nggak usah. Gue bisa pulang sendiri. Biasanya juga gitu." Kiera menolak tawaran Steven.
"Lebih baik pulang sama-sama. Di rumah ada nenek. Ntar lo diomelin loh."
Kiera berpikir, ada benarnya ucapan Steven. Pulang bersama lebih baik daripada kena omelan nenek, yang panjangnya melebihi tembok besar Cina.
"Oke. Ntar gue WA alamatnya." Kiera hendak berbalik lagi.
"Tunggu!"
"Apalagi, Jamaludin?" Kiera berbalik dengan kesal.
"Duit jajan masih ada?"
"Tinggal seratus ribu. Memang kenapa? Kalau mau donasi gue terima. Kalau enggak, biarkan gue pergi dengan tenang."
Steven mengutak atik ponselnya sebentar. "Udah gue transfer 5OO ribu. Jangan dihabiskan semua."
"Waduh, makasih banget yang mulia." Kiera tersenyum senang. Kemudian meninggalkan ruangan Steven dengan amat riang, sambil meloncat-loncat. Steven menggeleng pelan melihat tingkah istrinya.
"Dasar. Bini matre. Giliran dikasih uang gue dipanggil yang mulia. Kalau nggak dikasih uang, gue dipanggil Fir'aun."
***
