"Van, makan di luar yuk." Steven menghampiri Revan yang sedang sibuk di ruangannya. Beberapa hari ini pria itu memang sedang sibuk-sibuknya, menjelang tutup buku akhir tahun.
"Gue makan di sini aja. Tadi udah bawa bekal." Revan mengarahkan dagunya ke arah kotak makan warna pink dari Eliza.
"Enaknya punya istri yang rajin bikin bekal." Steven berkata dengan iri.
Revan menanggapi santai ucapan Steven. "Ya suruhlah si Kiera bikin bekal buat lo."
"Boro-boro...."
Revan sudah selesai dengan laptopnya. Ia mulai membuka bekal dari istrinya.
"Hari ini dibawain apa, ya?" Revan sengaja pamer di depan Steven. "Wow, mi goreng! Pasti enak, nih."
Steven melirik sekilas ke arah kotak makan Revan. Dari baunya saja sudah enak. Steven jadi ngiler. Beruntung sekali Revan punya istri seperti Eliza. Sudah cantik, solehah, rajin masak pula.
"Bagi dua dong, Van. Itu 'kan banyak." Steven memelas.
"Enak aja. Mi goreng ini dibuat dengan cinta oleh istri gue. Kalau gue bagi sama lo, yang ada entar cintanya terbagi. Gue nggak rela, ya."
"Pelit." Steven tersenyum masam. "Gue suruh si Asep aja, bikin mi goreng."
Revan agak kasihan melihat Steven yang terus memandanginya saat makan. Revan sampai tidak bisa menelan makanannya.
"Nih, gue kasih timun aja." Revan agak berbaik hati kepada Steven.
"Tega banget lo." Steven menerima seiris timun dari Revan dan memakannya.
"Gue jadi iri sama lo, Van." Steven berkata sambil menopang dagu.
"Karena gue ganteng dan kaya, ya?" Revan bertanya dengan pedenya.
Steven mencibir kenarsisan Revan. "Kata orang, jodoh cerminan diri. Kok bisa-bisanya, lo yang brengsek dapat istri kayak Eliza."
"Karena gue rajin sedekah!" sahut Revan.
***
Steven pulang ke rumah dengan lesu. Lampu teras dalam keadaan mati. Steven mengerutkan dahi. Apa Keira masih di luar? Keterlaluan! Suami pulang kerja, malah ditinggal keluyuran.
Saat masuk ke ruang tamu, Steven kaget menemukan istrinya dalam keadaan tertidur. Sedang televisi dalam keadaan menyala.
Steven menggeleng pelan melihat wajah polos istrinya yang sedang tertidur.
"Ki, bangun. Pindah ke kamar sana." Steven membangunkan Kiera, alih-alih menggendongnya ke kamar. Hubungan Steven dan Kiera belum sedekat itu, sampai ada adegan gendong menggendong.
Kiera menggeliat sambil mengerjap pelan. "Loh, udah pulang? Udah jam berapa ini?" Kiera bertanya dengan suara serak.
"Udah jam tujuh." Steven menjawab sambil mengarah dagunya ke arah jam dinding.
Kiera duduk sambil mengerjap lagi. Masih linglung. Nyawanya belum terkumpul seratus persen.
"Lo tidur sejak kapan?"
"Sejak siang. Tadi habis marathon ngedrakor." Kiera menjawab polos.
"Nggak sholat? Nggak mandi?" tanya Steven lagi.
"Kan datang bulan. Udah dibilang dari kemarin juga. Nggak percayaan amat. Apa perlu gue kasih tunjuk?" tantang Kiera.
"Udah makan?" Steven mengganti pertanyaannya.
"Nah, gitu kek. Nanya 'tuh yang berbobot. Btw gue belum makan dari siang." Kiera menjawab sewot.
"Ya makanlah, Ki. Nanti lo sakit."
"Apa yang mau dimakan? Orang nggak ada makanan sama sekali. Mau pesen makanan, saldo gopay abis." Kiera menjawab dengan polosnya.
"Ya masaklah, Ki."
"Nggak ada emi instan di rumah ini." Kiera berkilah.
"Di kulkas 'kan ada telur, ada sayur juga." Steven menghampiri kulkas dan memeriksa isinya. "Tuh, ada ayam juga."
"Bingung mau masak apa. Bisanya masak emi doang. Mau masak telur takut bisulan." Kiera beralasan.
"Udah hampir sebulan kita nikah, lo nggak ada cita-cita buat masakin gue? Lo nggak mau dapat pahala apa?" sindir Steven.
"Nggak usah ribet, deh. Kan biasanya pulang kerja sekalian beli makanan di jalan?" Kiera malah menyalahkan Steven.
"Namanya juga pulang kerja, capeklah harus mampir dulu buat beli makan." Steven mengeluh sambil menutup kembali pintu kulkas. "Masak telur doang, lo nggak bisa, Ki? Bikinin telur ceplok aja, deh."
"Orang belum beli beras." Kiera menjawab santai.
"Kan udah dikasih duit belanja." Steven protes.
"Udah habis."
Steven melongo mendengar penuturan Kiera yang kelewat santai.
"Duit lima juta, baru seminggu udah habis, Ki? Itu 'kan buat belanja sebulan."
"Ya habislah. Lagian Abang nggak bilang, itu gue kirain buat seminggu."
Steven menghela nafas dalam. "Parah banget lo, Ki. Emang lo buat apa aja itu duit?"
"Ya buat belanjalah. Di e-commerce."
Setelah mendapatkan uang bulanan dari Steven, Kiera langsung check out belanjaan di keranjang shopee. Belanja baju, kosmetik juga perintilan tidak penting lainnya. Selama ini Steven memang tidak tau, karena tukang paket selalu datang siang hari. Sedang Steven selalu pulang malam.
"Lain kali hati-hati kalau pakai duit, Ki. Nyarinya susah. Lo nggak liat gue kerja keras bagai kuda gini?"
"Lah 'kan memang tim work shop. Papa work, mama shop hehe...." Kiera malah cengengesan.
"Ya. Abis itu gue kena tipes. Disuruh kerja mulu, dimasakin kagak. Seneng, kalau gue mati? Seneng, jadi janda muda?"
"Kan Abang sendiri yang pingin mati. Terus gue bisa apa?" Kiera menjawab dengan cuek.
"Bener-bener lo, ya!" Steven kehabisan kata-kata menghadapi tingkah Kiera. "Besok-besok gue kasih duit belanja harian aja, deh. Yang bener aja, seminggu lima juta, bisa-bisa sebulan dua puluh juta. Gue bukan Revan yang bos sawit, Ki. Gue cuma kacung."
"Ya Abang cari tambahanlah. Ngegojek kek, apa kek."
Steven mengelus dada, sambil beristighfar. "Tega banget lo, Ki. Gue kira istri-istri di sinetron azab aja yang begini. Ternyata ada juga di dunia nyata. Lely Sagita aja minder sama lo."
"Abang pulang kerja kok marah aja, sih? Bukannya bawa oleh-oleh." Kiera cemberut.
"Lo pikir gue paman dari Betawi, membawa oleh-oleh sebuah lemari?" Steven teringat lagu anak-anak.
"Pasti karena Abang laper, deh. Makanya marah-marah terus." Kiera merogoh saku celananya. Mengambil ponsel.
"Abang mau makan apa? Gue orderin."
"Nggak usah repot-repot. Kalau cuma tap-tap layar ponsel, gue bisa sendiri." Steven berlalu ke kamar, meninggalkan Kiera seorang diri.
Dengan kesal Keira mengarah tinjunya dari balik punggung Steven.
"Dasar itu orang! Nggak bisa dibaikin, deh. Gue yang datang bulan, malah dia yang PMS."
***
Gue, kalau punya istri kayak lu, juga bakalan migren, Ki 🤣 punya istri kok nggak 'berfungsi' sama sekali. Minta di 'lem biru' kayaknya. Lem biru... dilempar beli yang baru 🤣 nggak bisa masak nggak papa, minimal bisa yang lainlah. Ntar kalau lakinya download micet aja... baru, panik 🤣
