"Kakak udah nemu pesantren yang cocok buatmu. Letaknya ada di Blora." Revan berkata kepada Kiera saat saur.
Seketika nafsu makan Keira menjadi hilang. Dengan lemas ia meletakkan sendoknya. Kiera menghela nafas berat.
"Kak... bisa, nggak... kalau aku nggak usah pergi ke pesantren? Apalagi tempatnya asing. Namanya aja aku baru denger sekarang. Kayak ada di planet mana...."
"Pesantren bagus buat mendidik tingkah lakumu. Biar nggak semakin liar." Revan berkata dengan tegas.
"Aku janji, Kak. Untuk berusaha memperbaiki diri. Tolong, Kak. Kasih aku kesempatan." Kiera memohon dengan sangat.
Revan tampak berpikir sejenak. Kemudian ia memandang ke arah istrinya. "Gimana menurutmu?"
Kiera kesal karena Revan malah meminta pendapat kepada Eliza dalam menentukan masa depannya.
"Terserah Mas saja." Eliza memilih aman. Daripada nanti dimusuhi Kiera terus.
"Baiklah, kamu boleh tetap di sini. Tapi ada syaratnya!"
"Terimakasih, Kak. Apapun syaratnya akan aku penuhi." Kiera berjanji dengan bersungguh-sungguh.
"Selesaikan kuliahmu tahun ini. Kamu terlalu lambat untuk ukuran seorang mahasiswi, Ki. cobalah untuk fokus kuliah, kamu mau jadi mahasiswi abadi?"
"Akan aku coba, Kak."
"Satu lagi... kamu harus berbaikan dengan nenek. Minta maaf pada beliau. Jangan suka menentangnya. Nenek juga banyak berjasa dalam hidup kita. Paham?"
"Iya, Kak."
"Jaga sopan santun kepada yang lebih tua. Itu adalah basic manusia yang beradab. Aku tau sekali lagi kamu berantem dengan nenek, nggak ada kompromi lagi, segera aku masukin kamu ke pesantren."
"Jangan, Kak. Aku janji akan menghormati nenek."
"Bagus."
Revan mengangguk puas, kemudian ia berpamitan kepada istrinya untuk pergi ke kantor.
"Bereskan barang-barangmu, nanti sepulang kerja akan aku antar pulang ke rumah nenek," pesan Revan lagi.
"Kak, apa nggak bisa aku tinggal di sini aja?" Kiera merajuk. Baginya lebih mudah tinggal dengan Revan daripada dengan neneknya yang cerewet.
"Tidak bisa, Ki. Apartemen ini terlalu kecil. Lagipula nenek juga butuh teman. Sekalian kamu bantu jaga beliau." Revan menolak permintaan Kiera.
"Baiklah, Kak." Kiera hanya bisa menjawab pelan sambil berjalan ke kamarnya. Di dalam kamar ia terus menggerutu sambil memasukkan pakaiannya ke tas.
***
Di kantor, Revan sudah ditunggu Grace di ruangannya. Revan heran, untuk apa pagi-pagi sekali Grace datang ke kantornya?
"Ada yang ingin aku diskusikan, Van." Grace beralasan. "Gimana kalau sekalian sarapan di luar?"
"Maaf, Grace. Aku puasa." Revan menolak dengan halus.
"Oh, ya. Bukannya aku sudah pernah bilang, kalau ada sesuatu yang ingin kamu diskusikan, kamu bisa memanggil Steven ke kantormu, dia yang memegang proyek sawit ini. Kamu tidak perlu repot-repot mondar-mandir datang ke kantor ini."
Grace terlihat tidak senang dengan ucapan Revan yang terkesan tidak suka dengan kedatangannya.
"Aku lebih leluasa berdiskusi denganmu, Van."
"Dengan Steven sama saja. Dia yang membuat proposalnya, justru dia lebih mengerti." Revan menjelaskan lagi.
"Bilang saja kamu tidak suka aku datang 'kan? Kenapa, Van? Istrimu marah?" cibir Grace.
"Bukan begitu, Grace. Aku cuma tidak mau kamu membuang waktu di jalan. Jarak kantor kita 'kan lumayan jauh. Kamu tentu orang yang sibuk 'kan...."
Steven datang menyelamatkan suasana. Pria itu masuk dengan membawa berkas yang diminta Revan.
"Kebetulan lo datang, Steve. Ajak Grace membahas masalah proyek sawit kita." Revan memberikan perintah kepada Steven.
"Wah, kebetulan. Dari kemarin gue juga bingung, kok nggak ada yang nanya tentang proposal yang gue bikin. Ini gue nggak dilibatkan apa gimana, sih?" Steven tersenyum ke arah Grace yang malah membuang muka.
"Silahkan ikuti Steven ke ruangannya, Grace. Biar kalian lebih leluasa berdiskusi." Revan mengusir Grace secara halus.
"Ayo, Grace." Steven mempersilahkan Grace untuk mengikutinya.
Revan baru bisa bernafas lega saat kedua orang itu keluar dari ruangannya.
***
Grace memutuskan untuk menemui papanya, tujuannya adalah untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan Revan. Apa gunanya menjadi investor di perusahaan Revan, kalau pria itu malah menghindarinya.
"Papa nggak bisa kabulkan permintaanmu, Grace." Rafael menolak mentah-mentah permohonan putrinya.
"Perusahaan Papa bukan perusahaan level kacangan, kita selalu profesional dalam berhubungan bisnis. Apalagi yang prospeknya bagus."
"Tapi, Pa...."
"Papa nggak tau ada masalah apa antara kamu dan Revan. Tapi bisnis adalah bisnis. Papa melihat peluang yang baik di sini. Walau masih muda, Papa akui Revan cukup handal mengelola bisnisnya."
"Maka dari itu, aku pikir dia cocok kalau jadi menantu Papa. Nggak taunya dia udah punya istri. Aku juga baru tau akhir-akhir ini, Pa. Aku merasa ditipu!"
"Cari saja laki-laki lain. Tidak baik menganggu pria yang sudah beristri."
Rafael memang selalu berusaha mewujudkan keinginan putri semata wayangnya, tapi kalau untuk yang satu ini, ia tidak akan mau.
"Papa bisa bantu aku kan? Tekan dia, Pa. Supaya mau meninggalkan istrinya. Bilang saja kalau kita akan membatalkan kerjasama kalau dia menolak," bujuk Grace.
"Tidak bisa seperti itu, Grace. Kamu sudah dewasa. Belajar menerima keadaan. Kalau kamu mau, Papa bisa atur jadwal kencan buta untukmu. Jangan khawatir, Papa punya banyak kandidat suami untukmu."
"Tapi aku maunya sama Revan aja, Pa!"
Rafael menghela nafas berat mendengar permintaan putrinya.
***
