123

988 43 2
                                        

Malam harinya, Kiera tidak bisa tidur karena merasa bersalah. Steven juga sejak tadi tidak mengajaknya bicara sama sekali. Pria itu malah tidur duluan. Memang, sih, kesalahan Kiera kali ini agak fatal, bayangin coba, ngilangin duit 3 T.

Pagi harinya, Steven masih juga mendiamkan Kiera. Membuat Kiera tidak tahan.

"Bang, udahan dong marahnya. Pegel banget tau." Kiera mencoba merayu Steven yang sedang mengancing kemejanya.

Steven hanya melirik Kiera sekilas, tidak menjawab sama sekali.

"Emang kak Revan minta ganti rugi?" tanya Kiera lagi.

"Kayaknya, sih, iya. Kamu ada duit buat ganti?" Steven balik bertanya.

Kiera menggaruk kepalanya, bingung. Apa kira-kira yang bisa dijual. Perhiasan juga nggak punya.

"Ya udah, jual aja rumah ini." Kiera menjawab santai.

Steven menghela nafas mendengar ucapan Kiera. "Dijual juga nggak nyampai satu T. Terus kita mau tinggal di mana?"

"Di dompetku ada duit dua juta, sisa belanja. Cukup nggak buat beli rumah?" Kiera bertanya dengan bodohnya.

"Cukup kok. Rumah balon!" Steven meninggalkan Kiera keluar kamar. Kiera bergegas mengejarnya.

"Kok Abang gitu, sih? Aku 'kan udah berusaha mikir buat nyari solusi. Itu artinya aku bertanggung jawab." Kiera mengelak.

"Kamu itu kapan dewasanya? Umur udah segini, pemikiran masih belum matang." Steven menepis tangan Kiera yang bergelayut di pundaknya.

"Serius nanya, orang yang pemikirannya matang itu, direbus, dikukus, apa digoreng?"

Steven mengehala nafas dalam mendengar pertanyaan Kiera. "Kamu nggak pernah bisa serius. Buang waktu aku ngeladenin kamu."

Steven bergegas pergi ke kantor tanpa sarapan, lagian nggak ada yang mau dimakan juga, sih. Meja kosong. Kiera tidak masak, karena sibuk over thinking.

"Abang 'kok malah pergi gitu aja, sih? Nggak sopan banget? Kita 'kan belum selesai diskusi?" Kiera menghalangi Steven yang hendak membuka pintu mobilnya.

"Minggir, Ki. Ini aku udah mau telat." Steven menggeser pelan tubuh Kiera.

"Tuh, kan! Udah mulai berani kasar. Pakai dorong-dorong segala!" Kiera berkata dengan mata berkaca-kaca.

"Siapa yang dorong? Lagian kamu ngeyel, sih." Steven merasa agak bersalah melihat Keira mulai menangis.

Beberapa tetangga yang sedang sibuk belanja di tukang sayur, mulai memperhatikan pasangan itu.

"Diem, Ki. Malu itu diliat orang. Dikira aku KDRT beneran." Steven panik dan mencoba membujuk istrinya.

Bukannya berhenti, Kiera malah menangis semakin keras.

"Heh, benar-benar kamu tuh, ya!" Steven membungkam mulut Kiera sambil membawanya masuk rumah, daripada nanti tetangga malah berdatangan.

"Udah, diem. Aku minta maaf, deh."

"Jadi Abang ngaku, kalau udah dorong-dorong aku?" Kiera berkata sambil menahan isak tangisnya.

"Iya-iya, terserah kamu." Steven menjawab cepat, karena malas ribet.

"Nggak aku maafin. Kemarin aku salah sedikit aja, Abang nggak mau maafin." Kiera memalingkan muka. Membuat Steven semakin kesal.

Dasar perempuan licik! Bisa-bisanya berbalik jadi aku yang salah. Steven menggerutu dalam hati sambil terus memeriksa arloji di tangannnya.

"Sekarang aku bisa berangkat kerja, nggak? Aku udah telat."

"Ya udah, bolos aja sekalian. Kan udah telat."

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang