Mutia hanya satu minggu bertahan di rumah Steven dan Kiera. Perempuan tua itu memilih angkat kaki, karena terus diabaikan oleh Kiera. Sepanjang hari gadis itu selalu pergi pagi, pulang malam. Bersamaan dengan waktu Steven pulang kerja, macam-macam saja alasannya.
Kiera amat lega ketika neneknya hengkang dari rumahnya. Kiera merasa mendapatkan kebebasannya lagi. Dua minggu menahan diri dari omelan Mutia hampir membuat telinganya tuli. Ada saja yang dipermasalahkan wanita tua itu. Ada saja kesalahan yang dibuat Kiera.
"Akhirnya nenek balik juga ke Arab. Ah, leganya. Kita berhasil mengusir VOC."
"Sama orang tua jangan kurang ajar, Ki," ucap Steven yang sedang membungkus kado untuk acara akiqah anaknya Revan.
"Kado buat siapa? Ultah gue masih lama loh." Kiera malah kegeeran.
"Bukan buat lo." Steven mengakhiri kegiatannya membungkus kado. Hasil kerjanya terlihat cukup rapi. Ada kipasnya juga. Khas kado orang Indonesia.
"Itu dalemnya apa? Buku tulis, ya?" Kiera menebak.
"Enggak lah. Masa ngasih kado ke bayi buku tulis." Steven beranjak ke kamar untuk mengganti baju. Kemudian tak lama ia keluar lagi dengan menggunakan baju koko dan sarung.
"Mau ke mana?" tanya Kiera. Ia heran, tak biasanya Steven pakai pakaian seperti itu, biasanya selalu pakai kemeja dan celana bahan kemana-mana.
"Mau ke acara akiqah keponakan gue. Udah kangen. Kalau mau ikut, ya ayo." Steven mengajak Kiera.
"Nengok anaknya, apa ibunya?" sindir Kiera. Masih teringat jelas di otaknya, bagaimana sikap Steven yang seolah bapak siaga saat Eliza lahiran.
"Apa, sih, Ki?"
Kiera beranjak dari duduknya. "Ya udah, gue ikut."
Saat hendak masuk mobil, Steven disapa oleh seorang wanita. "Loh, Pak Steven tinggal di sini juga? Apakah ini yang namanya jodoh?"
Steven hanya tersenyum mendengar gombalan wanita di depannya itu. "Bisa aja kamu, Mirna. Kamu baru pindah ke sini?"
"Iya, Pak. Baru kemarin. Tuh rumah saya." Mirna menunjuk rumah berpagar putih di depan rumah Steven. "Bukan rumah saya, sih. Cuma ngontrak hehe...."
"Wah, tetanggaan kita, ya?" Steven tersenyum lagi.
Kiera yang sudah selesai berdandan, keluar dari rumah. Sambil mengunci pintu, Kiera memperhatikan Steven yang sedang asyik mengobrol dengan Mirna.
"Siapa 'tuh?" Kiera menyipitkan mata.
"Kenalin, ini istri saya." Steven memperkenalkan Kiera yang sudah berdiri di sampingnya.
"Siapa? Sales WiFi, ya?" Kiera menyalami Mirna yang lebih dulu mengulurkan tangan.
"Bukan. Dia teman kerjaku. Mirna namanya." Steven menjelaskan.
"Oh, gitu." Kiera mengangguk sambil memperlihatkan penampilan Mirna dari atas ke bawah.
"Baiklah, Marni. Berhubung kami lagi buru-buru, kami mau langsung jalan, ya." Pamit Kiera.
"Marni?" Mirna cemberut karena Kiera salah menyebut namanya, padahal mah sengaja.
"Namanya Mirna, Ki. Bukan Marni." Steven meralat ucapan istrinya.
"Typo dikit nggak ngaruh." Dengan santainya Kiera masuk ke dalam mobil.
"Kami berangkat dulu ya, Mirna." Gantian Steven yang berpamitan.
"Oh, ya. Nanti malam di rumah saya ada acara selamatan kecil-kecilan. Bapak bisa datang?" tanya Mirna.
"Lihat nanti, ya." Janji Steven.
Kiera melirik Steven yang masuk mobil sambil tersenyum. Kiera langsung sewot. "Lama amat, sih? Ngobrol apaan aja?"
"Sabar kenapa? Ini juga mau jalan." Steven menanggapi santai.
"Si Marni itu...."
"Mirna, Ki. Salah terus."
"Sama aja. Dia itu kerja bagian apa?" Kiera mulai kepo dengan wanita yang ngontrak di depan rumahnya itu.
"Admin bagian keuangan, kenapa?"
"Nggak papa. Kirain CS. Abis penampilannya kek norak gitu. Udik. Pasti kalau malam nyambi jadi LC karaoke. Muka aja putih, lehernya item, belang kayak ular weling." Kiera terang-terangan menunjukkan ketidak sukaannya kepada Mirna.
"Nggak boleh hina orang sembarangan." Steven menasihati istrinya yang selalu suujon.
"Kenapa? Mau belain?" Kiera marah karena Steven terkesan melindungi Mirna.
"Biar begitu, dia ibu yang hebat loh. Nggak mudah jadi wanita karir merangkap ibu rumah tangga."
"Oh, udah punya suami." Entah mengapa Kiera lega mendengar status Mirna yang ternyata sudah berbuntut.
"Lebih tepatnya janda."
"Apa?" Mendengar status Mirna yang janda, hati Kiera langsung tidak tenang.
Melihat istrinya tiba-tiba diam, Steven jadi keheranan. "Nanti sepulang dari rumah Revan, kita jadi mampir ke tanah abang 'kan? Katanya mau beli gorden."
"Terserah! Mau ke tanah abang kek, tanah adik kek!" Kiera menjawab sewot. Membuat Steven kebingungan, apa dia salah bicara tadi?
***
