Eliza dan Steven datang disambut dengan muka masam Revan, pria itu menatap tajam ke arah Eliza dan Steven yang berjalan beriringan.
"Udah, nggak usah cemberut gitu. Ini gue bawain pesenan lo." Steven menyerahkan bungkusan kantong kresek kepada Revan.
"Gue gaji lo buat kerja, bukan buat yang lain," sindir Revan.
"Iya, yang mulia. Hamba minta maaf." Steven tersenyum jenaka ke arah Eliza, mau tidak mau Eliza ikut tersenyum juga. Membuat hati Revan semakin panas.
"Itu ambil cucian kotornya. Sekalian siapin piring." Revan berkata dengan kasar kepada Eliza.
"Udah, jangan marah terus. Kasihan nanti Liza jadi takut." Steven mengambil piring untuk Revan, sedang Eliza bergegas mengambil baju kotor Revan.
Revan merasa muak dengan panggilan Steven kepada Eliza. Sok akrab!
"Ini berkas yang lo minta." Revan menyerahkan map di tangannya. "Bener-bener lo, ya. Masih sakit masih aja suka nyiksa bawahan. Gue baru selesai ngerjain laporan itu jam tiga pagi, bayangkan."
Revan mengabaikan keluhan Steven, pria itu terlihat serius memeriksa berkas sambil mencoret bagian yang menurutnya salah.
"Revisi lagi! Masih ada yang salah." Revan menyerahkan kembali berkas itu kepada Revan.
Steven menerimanya dengan muka cemberut. "Udah kayak dosen pembimbing aja."
Eliza terlihat ingin keluar dari ruangan Revan, ia sudah selesai mengambil baju kotor Revan.
"Mau kemana?" tanya Revan.
"Pulang. Mau nyuci baju." Eliza menjawab datar.
Steven hanya diam melihat interaksi keduanya yang terlihat janggal. Tidak seperti pembantu dan majikan pada umumnya.
"Kapan balik lagi kesini?" tanya Revan lagi.
"Nanti, setelah cucian kering. Sekalian antar baju bersih." Eliza menjawab singkat.
"Ya sudah." Revan mengangguk pelan. "Jangan lupa bawa cukuran juga."
"Kamu mau balik, ya? Sekalian aja sama saya." Steven menawarkan tumpangan lagi.
Revan menatap tajam ke arah Eliza, menunggu kira-kira apa jawaban gadis itu. Tatapan Revan tampak sangat mengintimidasi.
"Saya balik sendiri aja, Mas. Naik grab juga bisa."
Revan tampak lega mendengar jawaban Eliza. Jawaban Eliza seperti yang dia inginkan.
"Buat apa buang-buang uang buat naik grab? Ikut sama saya ajalah, gratis." Steven memaksa.
"Nggak usah, Mas. Nanti malah merepotkan. Tadi saya udah ditraktir makan." Tolak Eliza.
"Nggak papa, kamu juga tadi udah beliin saya deodorant," balas Steven.
"Nggak usah, Mas. Beneran."
"Udahlah, kalau orang nggak mau jangan dipaksa, Steve. Lagian lo masih banyak kerjaan yang mesti diurus." Revan mulai jengah mendengar percakapan dua orang di depannya.
"Saya balik duluan, Mas. Assalamualaikum." Eliza buru-buru kabur dari ruangan Revan. Membuat Revan tersenyum puas.
"Elah, nggak bisaan banget liat orang pedekate." Steven mendengus keras.
"Pedekate juga lihat-lihat, Bro. Itu kan bini orang." Revan menasihati.
"Pokoknya gue tetep nggak percaya kalau dek Liza udah punya suami."
"Jiah, sok-sokan dek Liza," cibir Revan.
"Sirik aja lo!"
***
