91

760 42 9
                                        

"Mas, nanti pulang tolong kamu beli kemangi, ya?"

Eliza menghubungi Revan sesaat sebelum pria itu pulang dari kantor. Sebenarnya tadi pagi Eliza sudah berpesan, tapi Revan pasti lupa. Biasanya begitu. Tadi pas sarapan cuma iya-iya aja.

"Kemangi itu apa? Belinya di mana?" Revan bertanya dengan bingung.

"Itu sayuran, yang biasanya ada di pecel lele."

Revan melonggarkan dasinya, pecel lele lagi. Makan aja belum pernah. Karena dulu waktu kecil suka diceritakan kalau lele itu makannya jorok.

"Oke. Nanti aku cari gambarnya di Google. Sebenarnya kamu mau masak apa, sih?" Revan bertanya lagi. Sambil berjalan keluar ruangannya.

"Masak tempe penyet."

"Delivery apa nggak bisa?"

"Jadi kamu nggak mau aku suruh beli kemangi? Baru dimintai tolong segitu aja...." Nada bicara Eliza mulai naik.

"Nggak gitu. kalau bisa beli, ngapain repot masak? Kamu itu sebentar lagi lahiran. Harus banyak istirahat."

"Alasan aja, deh, kamu. Lagian justru nggak bagus kalau aku keseringan beli makanan luar, nanti nggak terjamin kebersihannya. Kebanyakan tempe penyet pinggir jalan pakai minyak yang udah item, kayak oli."

"Ya udah... ntar aku cari."

"Kamu bilang aja ke yang jual, beli kemangi, gitu."

"Kalau yang jual nggak tau?"

"Ya pasti taulah, Mas! Masa tukang sayur nggak ngerti jenis-jenis sayuran. Pokoknya harus dapat kemanginya. Aku udah ngidam dari kemarin. Nggak mau tau gimana caranya."

"Haduh, iya deh...."

Revan berjalan dengan lesu ke arah lobby, setelah keluar dari lift khusus. Pak Satpam yang bernama Soleh, menyapa bosnya yang tampak murung.

"Ada yang salah, Pak?"

"Oh, nggak ada. Cuma itu... kamu tau di mana orang yang jual kemangi?"

"Yang buat lalapan itu, ya, Pak?" tanya Soleh.

"Nggak tau juga saya. Kata istri saya, sayuran di pecel lele, gitu aja."

"Iya, Pak. Memang itu kemangi namanya. Istri Bapak ngidam, ya, Pak?" Soleh tertawa dalam hati. Bisa-bisanya istri bosnya ngidam pecel lele, pasti anak mereka nantinya sangat bersahaja sekali.

"Beli aja di pasar induk, Pak. Banyak di sana."

"Kamu nggak menawarkan bantuan ke saya?"

"Hehe... bukannya apa, Pak. Kalau saya tinggal pergi ke pasar. Terus siapa yang jaga kantor? Kalau kantor kemalingan, kan saya yang dipecat." Soleh membela diri.

"Ya sudah, biar saya ke pasar sendiri."

"Yang semangat ya, Pak. Nyari kemanginya. Cluenya yang daunnya hijau."

"Kamu juga, yang semangat jaga kantornya. Kalau saya sampai nggak dapat kemangi, kamu yang saya pecat."

"Loh, kok saya?"

Revan segera berlalu dari hadapan Soleh, meninggalkan pria itu yang terbengong-bengong.

"Nggak bahaya ta?"

***

Sesampainya di pasar, Revan celingukan. Dulu ia pernah beberapa kali mengantar Eliza ke pasar. Tapi sekarang keadaan pasar jauh lebih ramai.

Revan menggulung celana kerjanya, takut kotor karena jalanan terlihat becek sehabis hujan. Sedang jas kerja sudah ia lepas dari tadi.

"Ini gimana, sih, pengelola pasarnya? Apa nggak bisa lantai pasarnya digranit?"

Setelah putar sana-sini, akhirnya Revan berhasil menemukan salah satu kios yang menjual kemangi.

"Oh, jadi ini yang namanya kemangi. Kamu 'tuh nyusahin banget, ya?" Revan berbicara kepada kemangi di tangannya. Setelah itu ia bergegas pulang ke apartemen.

Saat masuk ke apartemen, Revan segera menyembunyikan kemangi yang dibelinya di balik punggung. Sengaja ingin memberi kejutan untuk Eliza.

"Oh, kamu udah pulang, Mas?" Eliza bertanya sumringah.

"Iya, udah."

"Loh, mana pesenan aku?"

"Lupa."

Eliza langsung cemberut mendengar jawaban Revan. "Kamu mah, baru dimintai tolong segitu aja nggak bisa, nggak bisa diandalkan, deh."

Revan memutar mata, hanya gara-gara kemangi, jasa-jasanya bekerja banting tulang setiap hari, seolah tidak ada artinya di mata Eliza.

"Nih, aku tadi cuma becanda aja loh." Revan mengulurkan buket kemangi dari balik punggungnya.

Bukannya senang, Eliza malah terkejut. "Astaghfirullah, Mas. Kamu beli kemangi segitu banyak buat apa?"

"Aku beli cuma lima puluh ribu. Ya mana aku tau kalau dapat segitu banyak." Revan berkata dengan santai sambil melepas dasinya. Tadi dia tidak sadar belanja masih mengenakan dasi keliling pasar. Pasti dikira sales panci deh.

"Seiket aja cukup, Mas. Biasanya aku beli cuma dua ribu."

"Salah kamu lah, nyuruh kok nggak spesifik."

"Ya seharusnya kamu mikir dong, Mas."

"Udah, ya. Aku capek dimarah-marahin terus. Dibawain kemangi banyak salah, nggak dibawain salah. Mau kamu gimana, sih?"

"Ya nggak sebanyak ini juga. Udah kayak buket bunga loh. Ada daun ubi segala. Perasaan aku nggak nyuruh."

"Itu free dari yang jual."

"Itu kamu ditipu, Mas. Kemahalan kamu belinya."

"Ditipu gimana? Udah murah segitu, sih. Nanem sendiri juga susah. Beli dua ribu doang aku malu lah."

"Dasar laki-laki. Suka gengsi."

"Nggak usah diperpanjang. Disimpan di kulkas 'kan bisa? Atau tanem di pot, buat besok-besok."

"Tanam aja sendiri!" Eliza malah ngambek dan mengembalikan karangan kemangi kepada Revan.

Eliza berjalan ke kamar sambil membanting pintu.

"Perempuan aneh, dibawain buket kemangi sama daun ubi, malah ngambek. Besok-besok gue bawain daun kelor biar tau rasa. Lagian apa salah gue coba? Segini mah udah murah." Revan tidak habis pikir dengan tingkah istrinya.

Revan berusaha mengetuk pintu kamar untuk membujuk istrinya.

"Sayang, ini kamu jadi masak nggak, sih? Aku laper loh."

"Makan aja 'tuh daun kemangi!"

Revan hanya bisa pasrah mendengar sahutan istrinya dari dalam kamar.

"Ya Allah, dikata gue kambing apa?"

***

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang