Setelah sampai di rumah sakit, Steven langsung menghampiri Revan yang sedang duduk sendiri di depan ruangan gawat darurat.
"Bro, maaf gue baru datang. Tadi agak lama nunggu taksi online." Steven menepuk pundak Revan dan duduk di sampingnya.
"Nggak papa, makasih udah mau datang. Kenapa naik taksi? Mobil lo lagi diservis?"
"Iya." Steven menjawab singkat, malas juga menjelaskan panjang lebar tentang kelakuan Kiera yang kekanakan.
Revan celingukan ke arah pintu masuk. "Kiera nggak ikut?"
"Enggak. Katanya sakit perut." Lagi-lagi Steven menjawab singkat.
"Nggak papa, dia ditinggal sendiri?"
"Nggak papa katanya. Mules biasa aja, mencret paling. Biasa, kebanyakan makan seblak." Steven terpaksa berbohong.
Steven melihat ke arah pintu UGD yang tertutup. "Gimana keadaan Eliza?"
"Masih belum bisa dipindahkan ke ruang bersalin. Pembukaannya nggak nambah-nambah dari tadi siang." Revan bercerita sambil menghela nafas berkali-kali.
Tadi siang ia terpaksa pulang cepat dari kantor, Eliza menelponnya dan mengatakan perutnya kram, wajar karena usia kehamilannya memang mendekati hari melahirkan.
"Tadi dokter menyarankan operasi cesar aja. Tapi dia nggak mau."
"Kenapa nggak mau?"
"Tau tuh. Katanya mau normal aja. Mau jadi ibu yang sempurna katanya."
"Ya bilangin lah, Bro...."
Revan menghela nafas lagi. "Udah. Sampai berbusa mulut gue. Tau sendiri perempuan kayak gimana. Belum punya anak aja ngeyel setengah mati. Apalagi sekarang, udah mau jadi emak-emak, nambah deh kekuatan supernya."
"Bener banget, Bro. Si Kiera juga gitu. Jadi heran, deh. Kenapa, sih, para perempuan itu? Ngeyel banget kalau dikasih tau."
Tak terasa, kedua pria itu malah curhat tentang masalah rumah tangga masing-masing.
"Bro, gue mau minta tolong...." Revan tiba-tiba berkata.
"Apa?"
"Tolong lo ke depan sebentar, tadi gue beli batagor belum gue bayar...."
"Ada-ada aja lo. Kok ya bisa, istri lagi lahiran malah kepikiran jajan batagor."
"Karena gue laper, dari tadi siang belum makan. Dompet gue ketinggalan, pas mau bayar abangnya nggak punya QRIS."
"Ya udah, gue ke depan sebentar. Mau nitip apa lagi? Sekalian gue jalan."
"Kopi boleh, deh."
"Kopi aja?"
"Rokok sekalian."
"Sejak kapan lo ngrokok, sih?"
"Biar kayak bapak-bapak di sinetron. Nunggu istri lahiran sambil ngerokok."
"Pasti sinetron di Indosial, ya? Nggak logis amat. Ngerokok di rumah sakit 'kan nggak boleh? Mending baca wirid, kek. Sholawat, kek. Biar selamat anak istri lo." Steven berjalan menjauh sambil menggeleng prihatin.
***
Tak seberapa lama, Steven kembali sambil membawa kantung berlogo minimarket, isinya ada air mineral dan sari roti. Sedang tangan satunya menenteng gelas kertas, isinya kopi.
"Loh, kok dia nggak ada?" Steven celingukan mencari keberadaan Revan.
"Sus, bapak yang tadi duduk di sini kemana?" tanya Steven kepada suster yang berjaga di UGD.
"Oh, bapak yang pakai kemeja hitam itu, ya, Pak?"
"Iya, yang itu." Steven mengangguk cepat.
"Ke ruangan operasi, Pak. Tadi istrinya dipindahkan ke sana."
Tanpa berterima kasih kepada suster yang berjaga, Steven langsung saja berjalan cepat ke arah ruang operasi di lantai dua.
Di depan ruang operasi, Revan sudah menunggu dengan wajah kusutnya.
"Istri dan anak gue nggak bakal kenapa-napa kan, Bro?" Revan bertanya saat Steven mendekat.
"Tenang aja. Everything is gonna be okay." Steven mencoba menghibur Revan.
"Ngopi dulu, Bro." Steven menyerahkan kopi di tangannya.
Setelah satu jam berada di ruangan operasi, akhirnya terdengar juga suara bayi dari dalam sana.
"Kok ada suara bayi, Bro? Jangan-jangan hantu bajang?" Revan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.
"Itu suara anak lo, pea!" Steven memutar mata. "Btw, selamat, ya. Sekarang lo udah resmi jadi bapak-bapak."
"Anak gue!" Revan berlari ingin masuk ruangan operasi, tapi dicegah Steven.
"Jangan dulu, Bro. Itu lampunya masih nyala." Steven menunjuk lampu di atas ruangan operasi.
"Emang kalau masih nyala nggak boleh masuk?" Revan bertanya polos.
"Nggak boleh. Gue pernah nonton drakor yang adegan rumah sakit soalnya."
"Lo suka drakor juga?"
"Gue juga terpaksa nonton. Dipaksa sama Kiera. Aslinya mah gue males. Bingung liat cast-nya, mukanya pada mirip semua."
Kedua pria itu pun terdiam, setelah capek mengobrol kesana kemari. Bagus juga Steven datang menemani, setidaknya Revan ada teman bicara.
Waktu berjalan amat lambat, Revan berjalan mondar-mandir di depan ruangan operasi. Gelisah memikirkan anak dan istrinya.
"Duduk ajalah, Bro. Gue pusing liat lo mondar-mandir kayak setrikaan." Steven menyuruh Revan duduk.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya seorang suster keluar dari ruangan operasi. "Suaminya ibu Eliza, silakan masuk."
Sontak kedua pria yang sejak tadi menunggu dengan gelisah, segera berdiri dan berebut masuk ruang operasi.
"Lo ngapain? Kan gue suaminya." Revan menyuruh Steven minggir.
"Oh, iya. Gue lupa." Steven pun kembali duduk di posisi semula.
***
