Kiera suntuk di rumah. Tadinya ia berencana mencuci baju dan juga sprei, tapi setelah melihat ramalan cuaca, ia mengurungkan niatnya. (Kelakuan gue banget ini mah, mau nyuci baju harus lihat ramalan cuaca dulu)
"Abang, mau jalan sebentar." Kiera menelpon suaminya untuk meminta surat jalan.
"Ini just info, atau gimana?" Steven yang sedang sibuk kerja menjawab di seberang sana.
"Sebenarnya udah di mall, sama Ceisya. Tadi lupa nggak ngasih kabar. Sekarang gimana, udah terlanjur di luar, apa pulang aja?" Kiera bertanya dengan liciknya.
"Emang paling bisa." Steven memutar mata mendengar alasan Kiera. "Ya udah, jangan kelamaan mainnya. Aku pulang kerja, kamu harus ada di rumah. Nggak mau tau."
Steven memutus panggilan.
Kiera merasa lega karena Steven tidak marah berlebihan. Lagian main ke mall aja masa marah, sebagai anak muda Kiera juga butuh hiburan 'kan?
"Kirain orang kalau udah nikah nggak bakalan suntuk." Ceisya berkata setelah mendengar curhatan Kiera.
"Gue kirain juga gitu. Kan enak, laki pontang-panting nyari duit, kita tinggal baring-baring di rumah, hapean, drakoran. Tapi ternyata nggak gitu, lama-lama gue bosen juga." Kiera curhat lagi, lebih ke arah kurang bersyukur.
"Ya lo cari kegiatan lah biar nggak bosen." Ceisya memberi ide.
"Contohnya?"
"Selingkuh."
Kiera segera mencubit pinggang sahabatnya. "Teman laknat. Suka banget ngerusak rumah tangga orang. Seneng, kalau gue dicere sama laki gue?"
"Ngasih saran salah, nggak ngasih saran dikira nggak punya empati. Emang serba salah jadi temen lo." Ceisya mengeluh sambil mengusap pinggangnya yang terasa sakit.
"Ngasih saran yang bener, dong. Kalau gue jadi janda gara-gara ngikutin saran lo, siapa yang mau tanggung jawab?" Kali ini Kiera mencubit lengan Ceisya.
"Ini ciri orang nggak bersyukur, udah punya temen berharga kayak gue, malah dicubitin terus."
"Kalau lo berharga, udah gue jual dari kemarin." Kiera tertawa mendengar keluhan Ceisya.
Perdebatan kedua gadis itu terhenti saat mata Kiera menangkap sesosok pria dan wanita baru saja memasuki kafe tempatnya nongkrong dengan Ceisya.
Ceisya mengikuti arah pandang Kiera. Mata gadis itu terbelalak.
"Laki lo tuh, Beb!"
"Hush, jangan keras-keras." Kiera menginjak kaki Ceisya di bawah meja.
"Sama siapa 'tuh?" Ceisya menyenggol lengan Kiera. "Jangan-jangan selingkuh, Beb."
Mendengar kata selingkuh, Kiera kontan naik darah. Enak aja gue disuruh semedi di rumah, dia malah enak-enakan kelayapan saat jam kerja sama cewek. Laki-laki biadab! Kiera memaki dalam hati.
"Parah banget, Beb. Kalau gue jadi lo...."
Tanpa banyak bicara Kiera meraih segelas jus jeruk di depannya dan pergi menghampiri suaminya yang sedang asyik bercakap-cakap dengan wanita itu.
"Heh, Beb! Lo mau ngapain?" Ceisya berusaha menahan Kiera tapi terlambat.
Kiera semakin dekat dengan meja Steven dan wanita yang diduga selingkuhannya. Tanpa banyak bicara Kiera segera menyiram wajah wanita yang sedang tertawa dengan suaminya itu.
"Are you crazy!" Wanita itu mengumpat dengan marah.
Sedangkan Steven kaget melihat kedatangan Kiera yang tiba-tiba. "Kiera, kamu ngapain?"
