108

599 33 11
                                        

Di dalam kamar yang sudah dikunci oleh dirinya sendiri, Steven bingung apa yang akan ia perbuat dengan Kiera.

Kedua orang itu masih berdiri di dekat pintu, Kiera diam saja. Bingung juga apa yang harus dilakukan.

Ini sebenarnya jadi nggak, sih? Pikir Kiera harap-harap cemas.

Sebenarnya tadi Kiera teriak-teriak cuma untuk menutupi kegugupannya, sebenarnya selama ini dia ngarep juga. Kok nggak diapa-apain juga. Padahal Kiera sering memberikan kode samar kepada Steven. Seperti pura-pura minta diambilkan handuk saat di kamar mandi. Tapi Steven tak peka juga. Kadang Kiera curiga. Jangan-jangan Steven ini boti.

Lima belas menit berlalu, kaki Kiera mulai kesemutan. Sebenarnya, ini jadi nggak, sih? Lagi-lagi Kiera bertanya dalam hati.

Steven mulai memegang pundak Kiera, sedari tadi pria itu cuma menatap Kiera tajam. Tidak jelas apa yang ada di pikirannya. Kadang istrinya ini lucu dan bikin kangen kalau di kantor, kadang nyebelin. Mulutnya itu loh, tajam seperti cutter. Sering Steven merasa sakit hati dengan perkataan Kiera, tapi tak sekalipun gadis itu minta maaf.

Steven mulai mendekatkan wajahnya, Kiera menahan nafas, kemudian menutup matanya. Udah kepedean banget mengira bakalan dicium.

Tapi semua yang terjadi di luar perkiraan Kiera. Alih-alih terjadi adegan ciuman seperti di drakor. Steven malah menempelkan dahinya ke dahi Kiera. Tidak tau apa maksudnya. Kiera jadi bingung sendiri. Apalagi setelah itu pria itu hanya diam, memejamkan mata sambil ngos-ngosan.

"Kiera... kenapa lo nyebelin banget?" Hanya itu yang diucapkan Steven sambil berbisik.

Kiera hanya diam, tidak tau harus menjawab apa. Kiera sendiri merasa, kadang ia bersikap menyebalkan kepada Steven.

"Cepat minta maaf, Ki. Gue sakit ati banget dengar ucapan lo tadi." Steven masih dalam posisi semula.

"Maaf." Hanya itu yang terlontar dari mulut Kiera.

Entah mengapa, hati Steven merasa tidak sesenang yang ia bayangkan, setelah mendapatkan permintaan maaf dari Kiera.

Tangan Kiera refleks terulur memegang rahang Steven. Sontak Steven menjauhkan wajahnya dari Kiera. Memisahkan dahi mereka yang sejak tadi menempel.

"Maafin gue, yah." Kiera mengulang permintaan maafnya. Kemudian tanpa disangka-sangka ia mencium pipi Steven. Membuat pria itu kaget.

"Segini cukup 'kan?" Kiera tersenyum manis.

Steven meralat ucapannya, bahwa dia bukan pria murahan. Nyatanya baru dicium sedikit oleh Kiera, hatinya langsung luluh. Rasa sakit hatinya menghilang entah kemana.

Entah mendapatkan keberanian dari mana, Steven balas mencium Kiera di pipinya. Membuat Kiera tersipu malu.

"Kenapa dibalikin, sih?"

Steven mendekatkan wajahnya, hendak mencium Kiera lagi. Nagih ceritanya. Tapi sebuah suara di balik pagar menghentikan niatnya.

"Pak! Pak Steven! Jadi pergi, nggak?" Mirna berteriak di luar. Karena panggilan di ponsel Steven tidak diangkat.

Kiera dan Steven saling berpandangan. "Urus sana." Kiera minggir ke kanan, memberi Steven jalan.

Steven berjalan ke luar, entah bicara apa dengan Mirna, lima menit kemudian ia kembali. Sepanjang jalan ke kamar hatinya berdebar-debar membayangkan adegan yang tadi dilakoninya bersama Kiera. Masih ada kemungkinan untuk berlanjut ke jenjang yang lebih tinggi. S3 contohnya.

Tapi harapannya musnah, saat melihat Kiera sudah mengubur diri di dalam selimut. Kiera pura-pura tidur. Sebenarnya Kiera malu, karena tadi mencium Steven duluan.

Steven ikut naik ke ranjang, mendekati Keira. "Ki, gue minta maaf... yang tadi itu...."

"Nggak usah dibahas!" Kiera menyahut dari dalam selimut.

***

Oalah, nggak jadi lagi... ini kapan nganunya, sih 😁 padahal hampir aja. Gara-gara si Marni deh!

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang