"Mas, gimana? Kiera udah ditemukan?" Eliza bertanya kepada Revan saat menyiapkan sarapan.
"Untungnya sudah, tadi malam jam tiga. Di halte bis."
"Alhamdulillah. Semoga dia kerasan di pondok. Biar nggak kabur-kaburan lagi." Eliza merasa lega karena adik iparnya itu telah ditemukan.
"Iya, semoga aja." Revan menghela nafas berat. "Lama-lama capek juga ngurus anak itu. Sampai aku nggak sempat perhatikan kamu. Gimana kalau nanti malam kita jalan-jalan?"
"Boleh, Mas."
"Nggak usah masak. Sekalian aja kita makan di luar."
"Wah, ide bagus 'tuh. Kebetulan aku lagi mager buat masak hehe...."
***
Seperti instruksi Revan, sore harinya Eliza segera bersiap. Wanita itu berdandan secantik mungkin, supaya Revan bangga jalan berdua dengannya.
"Mas Revan mana, sih? Katanya mau pulang cepet. Kebiasaan, deh. Ujung-ujungnya nggak jadi. Awas aja." Eliza mengeluh seorang diri, sambil berusaha menghubungi Revan.
"Mas, kamu di mana, sih?"
"Oh, iya, maaf. Aku lagi ada meeting mendadak."
"Tuh, kan...."
"Kamu tenang aja, acara kita tetap jadi kok. Tapi kamu berangkat sendiri, ya. Ke restoran kapal tempo hari, aku udah booking tempat di situ. Nggak papa 'kan?"
"Nggak papa, sih. Tapi ini kamu lama nggak?"
"Nggak kok, bentar lagi juga selesai."
"Ya udah, aku berangkat sekarang, ya?" Eliza menutup panggilan, kemudian bersiap memanggil taksi online.
***
Sudah dua jam Eliza menunggu Revan di restoran kapal. Untung saja pemandangan sekitar cukup bagus, jadi Eliza tidak merasa bosan berlama-lama di sana.
Eliza cukup tau diri untuk tidak terus menghubungi Revan, biasanya kalau sedang ada pekerjaan, Revan benci kalau diganggu.
"Tunggu satu jam lagi, kalau nggak datang juga, terpaksa aku tinggal. Seenggaknya kasih kabar kek...." Eliza memeriksa layar ponselnya, tak ada pesan dari Revan sama sekali.
"Wah, beneran kamu, El."
Eliza menoleh karena seseorang menyebut namanya, tampak seorang pria tersenyum lebar berjalan ke arahnya. Dia adalah Steven.
"Tadi mau aku sapa, takut salah orang. Lho, kamu sendiri aja? Revan mana?" Steven celingukan mencari keberadaan Revan.
"Lagi meeting, Mas. Sebentar lagi katanya mau nyusul." Eliza menjawab sambil tersenyum.
"Wah, jangan dipercaya itu. Revan itu kalau untuk urusan kerjaan, suka lupa waktu dia." Steven bicara sambil tersenyum juga.
"Iya, tuh, Mas. Dua jam lebih aku nungguin dia kayak gini."
Steven kaget mendengar ucapan Eliza. "Apa? Dua jam? Itu lama banget, El."
"Ya gimana, namanya juga istri solehah, Mas. Di suruh tunggu, ya tunggu." Eliza tersenyum kecut.
"Wah, parah itu orang, bisa-bisanya nyuruh kamu nunggu dua jam. Sholehah, sih, solehah... tapi nggak gitu juga kali. Udah ditelpon?"
"Biarin ajalah, Mas. Takut dia marah kalau diganggu."
Steven memeriksa arlojinya. "Tapi sampai kapan kamu mau nunggu gini? Restoran hampir tutup loh. Aku antar pulang aja, ya?"
"Nggak papa, aku tunggu aja. Mas kalau sibuk, pulang aja duluan."
"Nggak, aku di sini aja. Aku temenin." Steven mengambil tempat duduk di depan Eliza.
Eliza menunggu Revan dengan ditemani Steven sekitar setengah jam, mereka mengobrol kesana kemari tentang pekerjaan dan juga tentang masalah Kiera.
"Adek iparmu itu, El. Bandelnya minta ampun. Baguslah Revan masukin dia ke pesantren. Kalau enggak...."
"Kita doain aja, Mas. Semoga kedepannya Kiera bisa berubah jadi lebih baik," potong Eliza.
Steven memeriksa arlojinya lagi. "Yakin mau terus nunggu? Udah hampir jam sepuluh loh."
"Apa kita pulang aja, ya, Mas? Udah mau tutup juga restorannya." Eliza mengamati beberapa pelayan yang sudah mulai bersih-bersih.
"Aku telpon Revan dulu, ya."
Steven berusaha menelpon Revan, cukup lama, tapi akhirnya diangkat juga.
"Dimana lo? Ini istri lo nunggu ampe jamuran. Tega banget lo."
"Dia marah, nggak?"
"Marah kayaknya."
"Gara-gara lo komporin 'kan?"
"Kok gue? Lo sendiri ada di mana, Bambang?"
"Gue abis kecelakaan, nabrak pohon."
Steven keget mendengar jawaban Revan, pria itu melihat ke arah Eliza sekilas, kemudian memelankan suaranya.
"Hah, seriusan?"
"Tapi jangan kasih tau istri gue. Nanti dia khawatir. Ini gue lagi di bengkel, benerin mobil. Ancur parah. Untung gue pakai mobil yang lama."
"Alasan lo aja 'kan? Aslinya lo lagi jalan sama Grace. Bukannya sekarang jadwalnya lo meeting sama papanya Grace?"