59

1K 60 9
                                        

Di pasar, Revan kebingungan melihat daftar belanjaan istrinya di ponsel. Pria itu celingukan mencari tempat penjual sayuran.

Revan memilih kios yang sepi, padahal di situ harganya lebih mahal. Revan tidak mematuhi instruksi istrinya yang menyuruhnya belanja di kios paling ujung, yang cat warna hijau.

"Mau beli apa, Mas?" tanya sang penjual yang ternyata masih muda dan bahenol dengan ramah.

"Toge ada, Mbak?"

"Ada kok, Mas. Apa sih yang nggak ada buat Mas hehe ...." jawab penjual sambil tersenyum genit ke arah Revan.

Revan bergidik ngeri melihat senyum mbak-mbak penjual yang ternyata seorang janda itu.

"Mau berapa, Mas?"

Revan memeriksa ponselnya, ia mengerutkan dahi melihat pesan istrinya.

"Nggak salah? Toge dua ribu murah amat? Dua puluh ribu kali, ya? Mungkin Eliza nulisnya typo." Revan bergumam sendiri.

"Jadi berapa, Mas?" Mbak penjual mengulang pertanyaannya.

"Dua puluh ribu, Mbak." Revan menjawab sambil memeriksa pesan berikutnya.

"Apa lagi, Mas?" tanya penjual setelah selesai menimbang.

"Daun salam, dua puluh ribu."

Si penjual menimbang dengan semangat. "Apa lagi, Mas?"

"Cabe sekilo."

"Cabe nggak ada, Mas."

"Terus yang ada apa? Pengganti yang pedes?"

"Saya."

Revan memijit bulu kuduknya yang tiba-tiba meremang. Ngeri melihat senyum maut si mbak. Revan ingin buru-buru kabur dari kios itu.

"Sama bawang, kentang, timun, wortel sama kol."

"Berapaan, Mas?"

"Seikhlasnya Mbak aja." Revan malas berpikir.

Penjual itu sengaja memperlama sesi menimbang, sambil terus melirik manja ke arah Revan.

"Jadi semua totalnya berapa, Mbak?"

"Dua ratus ribu aja, Mas."

Dengan cepat Revan memberi dua lembar uang ratusan ribu.

"Karena Mas belanja banyak, saya bonusin deh. Nomor WA saya."

"Eh, nggak usah repot-repot, Mbak." Revan segera kabur sambil membawa belanjaannya.

Mbak penjual menatap kepergian Revan sambil menggigit bibirnya. "Suami siapa itu? Hot banget. Padahal cuma pakai kaos sama sandal jepit doang."

Mbaknya belum tau saja, harga sandal jepit Revan yang mencapai setengah juta. Makanya Revan sangat malas pergi ke pasar yang becek ini. Sudah becek nggak ada ojek.

"Aduh, lupa! Belum beli saos." Revan menepuk dahinya. "Ini gara-gara mbak yang tadi deh. Bikin gue sawan aja."

Akhirnya Revan memutuskan untuk membeli saos di minimarket dekat apartemen. Karena terburu-buru, Revan jadi salah ambil. Berujung ia dimarahi istrinya saat sampai rumah.

"Ini cuka, Mas. Tadi aku tulis saos belibis lho."

"Yang penting ada belibisnya." Revan membela diri.

"Nggak jelas deh kamu itu. Terus mana kelapanya?" tanya Eliza saat membongkar belanjaan di kresek yang lain.

"Tutup. Aku udah muter-muter nyari nggak ada." Revan beralasan. Padahal aslinya lupa juga.

"Ada kok. Penjual satunya, yang sebelah jualan ayam."

"Nggak ada. Mungkin lagi libur. Umroh."

"Haduh, kamu tuh, ya. Mana aku pingin banget makan klepon." Eliza berkata dengan kecewa.

"Nggak bisa ditunda apa?"

"Namanya juga bumil, Mas. Kamu pernah hamil nggak, sih?"

"Dipikir aku kuda laut apa." Revan menggerutu pelan. Kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil minum.

"Mas! Ini kenapa beli toge banyak banget? Kamu mau dagang gehu (toge-tahu, makanan khas Bandung)." Eliza berteriak dari ruang tamu, membuat Revan tersedak.

"Aku kira tadi kamu typo. Masa iya tauge dua ribu, murah amat?"

"Aku perlu cuma dikit, Mas. Buat bikin nasi goreng aja loh. Beli banyak-banyak buat apa? Kelamaan di kulkas bisa busuk. Ah, kamu mah ... pemborosan."

"Ya udah, tanam aja."

"Tanam di mana? Apartemen gini. Nggak tau ah, Mas. Nggak jelas kamu tuh. Ini juga, kenapa daun salam sekresek gini?"

"Malu lah, masa disuruh minta. Makanya jangan nyuruh aku."  Revan malah menyalahkan istrinya.

"Nggak papa kali. Kalau belanja banyak biasanya dikasih yang namanya daun jeruk, daun salam. Gratis. Ngapain beli sekresek merah gini?"

"Cuma dua puluh ribu aja kok. Murah itu, sih. Dapat sekresek gede gitu." Revan masih terus membela diri. Membuat Eliza hanya bisa mengelus dada.

"Terus mana cabenya?"

"Ada tuh di atas meja makan." Revan menunjuk meja dengan dagunya.

Eliza menghampiri meja dengan dahi berkerut. "Lho, kok ada gorengan segala?"

"Tadi itu yang jual cabe antri banget. Aku sungkan berdesakan sama ibu-ibu. Ya udah, aku beli aja di tukang gorengan. Lumayan tuh dibonusin gorengan." Revan berujar dengan wajah tanpa dosa.

"Ya Allah, ada-ada aja kamu tuh." Eliza memijit pelipisnya.

"Kamu gimana, sih? Dari tadi marah terus. Udah dibelanjain juga. Salahin aja terus." Lama-lama Revan capek juga diomeli istrinya.

"Lain kali, aku nggak mau lagi disuruh belanja," ancam Revan.

"Ya udah, maaf." Eliza memelankan suaranya. "Makasih, ya. Kamu udah bantu aku belanja. Walaupun nggak ada yang beres."

"Sama-sama."

"Sekarang kamu masak nasi, ya? Bisa?"

"Cuma dicolok aja 'kan?"

"Dicuci dulu berasnya. Beras dua gelas, air tiga gelas. Paham?"

"Paham."

"Pinter."

***

Ati gue nggak enak nih Gaes, pasti nggak beres lagi kerjaan si Revan. Btw semua peristiwa tadi terinspirasi dari kejadian nyata, ya 🤣 nggak tau kenapa kalau belanja nyuruh suami itu bawaannya budget jadi membengkak 🤣

Kawin GantungTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang