"Sayang, habis nonton kita mau kemana?" tanya Revan saat sedang menunggu teater dibuka.
"Nggak tau, Mas. Nanti aja mikirnya. Nonton aja belum." Eliza menjawab sambil terus sibuk dengan ponselnya.
Melihat istrinya sibuk sendiri, Revan tidak senang. Pria itu ikut mengintip ke layar ponsel istrinya.
"Lagi chat sama siapa, sih? Serius banget. Sampai aku dicuekin gitu."
Melihat suaminya ngambek, Eliza buru-buru memasukkan ponselnya ke tas.
"Maaf, Mas. Tadi itu aku nggak bermaksud nyuekin kamu."
"Nggak dijawab lagi. Yang tadi kamu itu chat sama siapa?" tanya Revan curiga.
"Itu kak Edo. Biasa... minta duit." Eliza berkata pelan, malu kepada Revan.
Revan mengerutkan dahi mendengar jawaban istrinya. "Kok dia minta duitnya ke kamu? Memangnya dia nggak kerja?"
Eliza menggeleng pelan. "Nggak."
Revan merasa heran, kok ada laki-laki seperti itu? Yang ada mindset Revan, yang namanya laki-laki itu pastinya harus kerja keras.
"Terus dia sehari-hari kegiatannya apa? Terus, buat kebutuhan sehari-hari, dapat dari mana?" Revan semakin penasaran dengan sosok kakak Eliza.
"Dia kerjanya judi, Mas. Kalau nggak punya uang, ya hutang ke rentenir, kadang minta sama aku. Tapi tenang aja, Mas. Aku nggak pernah ngasih dia pakai uangmu kok. Aku pakai uangku sendiri." Eliza mengamati reaksi Revan, takut pria itu marah.
"Judi? Judi itu bukan sejenis profesi, El. Dan juga, kenapa dia harus minta uang sama kamu? Apa nggak kebalik, seharusnya kakak yang bantu adiknya, ini malah sebaliknya."
"Maaf, Mas. Aku cuma ...."
"Ini bukan perkara nominal uangnya, aku juga ikhlas kalau kamu mau pakai uangku. Tapi sampai kapan? Sampai kapan kakakmu begitu terus?"
Eliza hanya diam mendengarkan ucapan suaminya.
"Terus aku harus gimana, Mas? Udah sampai berbusa aku nasehati dia, tapi ya gitu, nggak ada hasil."
Revan menghela nafas dalam. Ia tidak menyangka selama ini istrinya menanggung beban yang berat.