Revan memutuskan untuk membawa Kiera pulang ke apartemennya, selagi mereka belum menemukan pesantren yang cocok untuk Kiera.
"Selama tinggal di sini, jangan macam-macam. Jangan menyusahkan kakak iparmu." Pesan Revan sebelum pergi bekerja.
Kiera hanya diam, sambil melirik sinis ke arah Eliza.
Baru saja Revan pergi, Kiera sudah melanggar perintah kakaknya. "Gue udah makan, nih beresin piringnya." Kiera bangkit dari meja makan.
"Iya, Ki. Biar nanti aku yang cuci. Sekalian keluarin baju kotormu. Nanti aku cuci." Eliza berkata sambil tersenyum.
"Dasar mental babu." Kiera tersenyum sinis.
Seharian Kiera terus saja di kamar, tidak keluar sama sekali untuk membantu pekerjaan rumah. Siang hari gadis itu baru keluar kamar karena lapar.
"Gue mau makan."
Eliza yang kebetulan sudah selesai masak. Segera menghidangkan makanannya dengan semangat.
"Tadi aku tanya mas Revan, kamu sukanya makan apa, katanya kamu suka makan semur daging. Ini sudah aku masakin, semoga kamu suka, ya."
Kiera tidak menanggapi ucapan Eliza, gadis itu hanya menyendok nasi ke piring dalam diam.
"Abis ini gue mau keluar." Kiera berkata lagi.
"Em, nanti aja ya, Ki. Nunggu Mas Revan. Kan kamu nggak boleh keluar."
Kiera membanting sendoknya, membuat Eliza kaget.
"Gue bukan tahanan rumah!" Kiera berteriak marah, membuat Eliza semakin ketakutan.
"Tapi, kata Mas Revan...."
"Gue nggak peduli!"
Revan yang kebetulan pulang untuk makan siang, sekaligus melakukan 'sidak' kaget mendengar Kiera berani meneriaki istrinya.
"Bagini kelakuanmu, Ki?"
Kiera kaget melihat Revan yang tiba-tiba datang, gadis itu segera mengubah ekspresinya.
"Dia yang mulai, Kak. Dia bilang aku udah numpang, nggak tau diri...."
Eliza kaget mendengar ucapan Kiera, yang memutar balikkan fakta.
"Mas, kamu tau aku nggak mung...."
Revan mengangkat tangannya, menyuruh Eliza diam. Kemudian pria itu menatap Kiera tajam.
"Betul, istriku bilang begitu?"
Kiera yang merasa Revan mempercayainya, tersenyum penuh kemenangan ke arah Eliza. "Iya, Kak. Dia juga bilang aku ini cuma adek tiri yang nggak tau diri."
"Astaghfirullah, Kiera. Kenapa kamu bicara begitu? Kapan aku...."
"Diam, El." Revan menyuruh Eliza diam.
"Terus, dia bilang apa lagi?" tanya Revan kepada Kiera.
Kiera menjawab dengan penuh semangat. "Dia juga bilang aku adik yang nggak tau terimakasih, cuma bisa bikin susah aja."
Revan terdiam sambil tersenyum ke arah istrinya. "Semua yang dikatakan istriku itu benar. Memang seperti itulah gambaran dirimu, Ki."
Kiera kaget mendengar ucapan Revan. "Tapi, Kak...."
"Dengar! Sekali lagi kamu berani bentak istriku, aku usir kamu ke jalanan!"
Eliza berusaha menenangkan Revan. "Udah, Mas. Nggak usah diperpanjang lagi."
"Cepat minta maaf ke kakak iparmu!" Perintah Revan tegas.
Kiera melirik penuh dendam ke arah Eliza yang sejak tadi hanya menunduk.
"Maaf."
"Yang benar!" Bentak Revan.
"Eliza, aku minta maaf." Kiera mengulangi permintaan maafnya.
"Kak Eliza...." Koreksi Revan.
Kiera mendengus karena kesal, kalau bukan karena disuruh Revan, sampai matipun dia tidak akan sudi meminta maaf kepada Eliza.
"Kak Eliza, aku minta maaf." Kiera mengucapkan sambil menunduk.
"Sama-sama, Ki." Eliza tersenyum tulus.
"Mulai sekarang, cuci bajumu sendiri, begitu juga bekas makanmu. Kalau tinggal di sini jangan berlagak seperti tuan puteri. Mengerti?"
"Iya, Kak." Kiera menjawab pelan.
"Bagus. Sekali lagi kamu memerintah istriku, kamu tau sendiri akibatnya!"
***
