"Gimana, Pak Ustadz? Nggak masalah 'kan kalau saya suka sama Pak Ustadz?" Kiera mendesak Fahri yang sejak tadi bengong, untuk segera menjawab pertanyaannya.
Fahri membenahi letak pecinya. "Waduh, gimana, ya?"
Revan dan Eliza hanya bisa diam dan saling pandang. Kiera yang begitu, tapi mereka yang malu.
"Bagini, Ki. Saya 'kan udah om-om, kamu nggak mau nyari yang masih muda aja?" Fahri berusaha menolak Kiera secara halus.
"Saya nggak masalah kok. Biarpun pak Ustadz udah om-om, tapi masih ganteng juga. Beda sepuluh tahun 'kan masih wajar. Iya kan, Pak Ustadz?" Kiera masih bersikeras memaksa Fahri untuk menerima cintanya.
"Tapi kan, masalahnya... saya udah punya istri dan anak, Ki."
"Maksimal 'kan empat. Jadi masih ada kuota buat saya dong." Kiera masih 'ndablek'
"Tapi saya nggak ada rencana poligami. Nggak mampu saya. Maaf, ya, Ki. Sebaiknya kamu cari aja calon yang lain, di sini masih banyak kok santri-santri yang ganteng, nanti saya bantu ta'aruf." Fahri mengambil jalan tengah.
"Orang saya maunya sama Pak Ustadz. Gimana, sih?" Kiera cemberut, membuat Fahri semakin merasa bersalah.
Revan yang merasa bertanggung jawab dengan segala tingkah laku adiknya, akhirnya bersuara.
"Maaf, Pak Ustadz. Kalau tingkah laku adik saya kurang sopan. Hari ini juga, saya akan membawa Kiera. Terimakasih atas semua bimbingan Pak Ustadz selama Kiera di sini."
"Eh, i-iya, Pak Revan." Fahri menjawab terbata. Masih syok karena tiba-tiba 'ditembak' Kiera.
Revan menarik tangan Kiera dengan kasar. "Ayo, cepat kemasi barangmu! Bikin malu saja!"
Kiera masih berusaha berontak sambil terus menoleh ke arah Fahri. "Kenapa Pak Ustadz diam saja? Kenapa nggak memperjuangkan saya?"
"Maaf, Ki. Sebaiknya kamu menurut saja dengan kakakmu, ya. Demi kebaikan bersama." Fahri menjawab dengan bijak.
Mendengar jawaban Fahri, sontak air mata Kiera berlinang. "Pak Ustadz jahat!"
"Lah, kok saya...."
***
Di dalam mobil, Revan terus saja memarahi Kiera. Menurutnya tindakan Kiera yang nekat menyukai pak Ustadz sangat memalukan.
"Paling nggak, kalau mau naksir orang 'tuh pilih-pilih. Masa ustadz yang udah punya istri didekati juga."
Kiera hanya diam, sambil memandang keluar jendela. Masih teringat bagaimana kejamnya Fahri yang telah tega menolak perasaannya.
"Kamu dengar, Ki?" Revan marah karena merasa diabaikan.
Revan beralih kepada istrinya yang sejak tadi hanya diam, mendengar semua omelan Revan kepada Kiera.
"Kamu punya rekomendasi pesantren lain? Kalau bisa yang Ustadz-nya udah pada udzur, kalau bisa yang udah punya cicit." Revan takut Kiera cinlok lagi.
"Nanti aku tanya-tanya temen aku dulu, Mas." Eliza menjawab pelan.
Eliza menoleh ke belakang, tampak wajah Kiera yang sembab, pandangannya kosong. Seketika Eliza merasa khawatir.
"Mas, dia nggak papa?" Eliza berbisik kepada Revan.
Revan ikut memeriksa keadaan Kiera melalui spion tengah.
"Mikir apa kamu?" tanya Revan kepada Kiera.
"Nggak mikir apa-apa." Kiera menjawab dengan suara yang serak.
"Nggak usah mikirin ustadz itu lagi. Masih banyak cowok single yang lain. Ngapain coba mau sama suami orang? Apa enaknya? Apa-apa serba dibagi. Belum lagi nanti kamu dicap pelakor." Revan menasihati.
"Pokoknya seumur hidup aku nggak akan nikah." Kiera menjawab lagi.
"Affah iyah? Ntar juga ketemu cowok ganteng berubah pikiran lagi," cibir Revan.
Eliza mencubit paha Revan. "Mas, jangan diledekin terus!"
***
