Curahan hati Naya

713 29 1
                                        

Mungkin karena lelah menangis dan badan nya juga mulai lelah, Naya hanya pasrah saat di seret oleh Gema untuk duduk di atas rumput hijau di terangi lampu bundar berwarna kuning. Mereka duduk berdampingan di atas rumput itu dengan keadaan hening, tak ada satupun yang mencoba membuka mulut dan memulai percakapan.

" Kenapa sih Gema kamu bebal banget di bilangin, dari tadi kan saya suruh kamu untuk meninggalkan saya, kenapa kamu malah tinggal di sini dan harus melihat keadaan saya hancur seperti ini?"

Setelah keheningan melanda mereka sekitar 10 menitan, akhirnya Naya membuka percakapan dan mulai mengeluarkan unek-uneknya ke Gema namun Gema hanya diam karena memang ia lebih banyak diam dari dulu.

" Saya sudah buruk di pandanganmu sejak awal sebagai cewek tidak punya malu karena mengejar-ngejar kamu, kini saya makin buruk di pandangan mu lagi karena mencoba bunuh diri dan keadaan saya seperti saat ini yang sangat hancur. Kamu tau, saya rasanya tidak punya muka lagi sama kamu Gema, saya malu harus kamu lihat menangis dan bersedih seperti ini. "

Hening kembali terjadi setelah Naya mengeluarkan isi hatinya ke Gema dan Gema masih sangat setia dengan diam dan hanya menatap ke arah depan tanpa menoleh Naya yang berada di sampingnya.

" Saya lelah Gema, saya rasanya ingin mati saja saat ini karena hidup pun tidak ada yang memperdulikan saya. Kamu lihatkan saat kamu ke rumah saya, hanya ada saya, Mira dan mbok Darmi di rumah itu, hanya mereka yang mau menemaniku itupun karena mereka di gaji, andaikan mereka tidak di gaji mungkin mereka sudah pergi dan meninggalkan saya seorang diri. Saya tidak punya teman Gema seperti kamu yang punya Vadi dan lain-lain, teman satu-satunya yang ku miliki sejak dulu adalah Sepi. Sepi adalah teman sejati yang tak pernah akan meninggalkan ku seburuk apapun saya karena sepi pun hanya memiliki saya. Kedengarannya saya Gila kan? Tapi inilah saya Gema, kamu memang lelaki hebat yang tepat menolak cewek kesepian seperti saya ini." Naya mengucapkan kalimat panjang itu dengan lirih namun tanpa mengeluarkan air mata, rasanya air matanya sudah habis ia tumpahkan tadi.

" Saya iri Gema saat saya ke rumah kamu, bunda mu sangat memperhatikan mu dan menyayangimu sedangkan orang tua saya untuk meluangkan waktu sedetik saja sangat susah. Apa saya salah meminta sedikit waktu mereka? Saya juga mau seperti kamu dan anak yang lain punya waktu luang bercerita dan bercanda dengan orang tua kita tapi yang ada saya malah di maki dan di katai bermacam-macam padahal saya hanya minta waktu sedikit saja."

" Jangan langsung mengambil kesimpulan jika lo hanya melihatnya dari sebelah sisi saja, apa yang tampak kadang berbanding jauh dengan realita kehidupan."

" Iya saya tau tapi setidaknya bunda mu tidak gila kerjaan dan jadi mengabaikan kamu. Saya tau saya butuh materi untuk bersekolah dan hidup, saya akui itu tapi kasih sayang lebih saya butuhkan untuk bertahan hidup, untuk mempertahankan kewarasan saya. Saya lelah Gema seperti ini terus, kamu tidak akan mengerti saya karena kamu tidak berada di posisi saya saat ini. kenapa kamu harus menolong saya tadi? Kenapa kamu tidak membiarkan saya bertemu sama tuhan saja? Mungkin kalau saya berada di sisi tuhan, saya tidak akan merasakan sakit dan penderitaan ini lagi."

" Lo pikir cara lo untuk ketemu tuhan dengan bunuh diri itu akan buat lo tenang dan kembali ke sisi tuhan? B*doh !  itu malah buat lo nggak tenang dan tidak punya tempat karena tuhan tidak akan menerima arwah orang yang bunuh diri dan lo akan berada di persimpangan jalan dan lo makin sengsara. Ya udah kalau lo mau bunuh diri, sana bunuh diri lagi, gue nggak akan nolongin lo lagi dan asal lo tau, gue semakin nggak suka sama cewek yang mudah putus asa kayak lo."

Naya terkekeh namun kekehannya terdengar menyakitkan.

" Walaupun saya nggak jadi cewek yang mudah putus asaan, kamu juga nggak bakalan suka kan sama saya? Terus apa bedanya? Benar-benar menyedihkan hidup saya, saya hidup hanya untuk di benci dan di jauhi. Memang benar kata kebanyakan orang, jangan menaruh harapan kalau kamu nggak mau kecewa karena sumber kekecewaan itu dari sebuah pengharapan. Nggak mama, nggak papa, dan kamu adalah sumber kekecewaan ku karena saya pernah berharap sama kalian. Hidup memang kadang tidak adil, kita di seret oleh arus kehidupan yang pahit lalu di paksa bertahan di tengah derasnya arus kepahitan, apa yang akan di harapkan  lagi jika bukan kematian saja."

Naya tersenyum menatap bulan yang cahaya nya makin derup namun mata Naya berkaca-kaca menyiratkan sebuah kesedihan mendalam. Ia kembali diam setelah mengeluarkan unek-uneknya, sebenarnya ia malu sama Gema namun hanya ada Gema di sisi nya saat ini dan Gema sudah terlanjur melihatnya hancur jadi sekalian saja Naya tunjukan dirinya selama ini yang ia tutupi dari orang banyak tapi kenapa harus lelaki ini? Ia berpikir kenapa harus Lelaki yang bahkan anti terhadap dirinya namun malah harus tau sedikit tentang kehidupan suramnya, apa maksud di balik ini semua.

" Gue nggak tau apa masalah lo, gue juga nggak paham sama masalah lo karena seseorang nggak akan paham sama keadaan seseorang kalau mereka tidak pernah merasakan hal yang sama dan gue nggak pengen tau juga apa masalah lo tapi saat ini gue ada di dekat lo dan sedikit tau apa yang terjadi. Gue cuman mau bilang, tidak semua masalah solusinya adalah kematian apalagi cara kematian lo salah, itu makin akan menambah masalah kedepannya. Jadi sebaiknya lo selesaikan dengan kepala dingin dan hati tenang, semua masalah ada jalan keluarnya tapi bukan dengan bunuh diri, hanya orang b*doh yang berpikiran sampai ke arah sana."

Naya menyunggingkan senyum namun kali ini senyum tulus, ia menatap Gema dengan lekat membuat Gema juga menatap Naya.

" Sejauh saya kenal sama kamu, ini adalah kalimat terpanjang yang saya dengar keluar dari bibir mu Gema dan bahkan ini adalah kalimat terbaik yang kamu lontarkan untuk ku karena biasanya kamu terus memaki ku dan menolak ku namun saat ini berbeda, di saat saya tidak punya harapan untuk hidup boleh kah kamu saya jadikan motivasi hidupku Gema? Saya tidak mau bilang pengharapan lagi karena saya tidak mau kecewa lagi."

" Please, Gema. Saya tidak mau dengar penolakan dari kamu malam ini, jadi mau tidak mau kamu harus jadi alasan saya untuk bertahan hidup mulai sekarang, agar saya bisa meraih cinta kamu."

Naya menampilkan wajah memohon di hadapan Gema membuat Gema memalingkan wajahnya karena ia tidak bisa melihat wajah Naya terlalu lama seperti itu, sorot mata nya begitu tajam dan indah membuat seseorang mudah terhipnotis dan Gema menghindari itu.

" Terserah lo, lo di tolak seribu kali pun juga akan melakukan apa yang lo mau semaunya."

Tanpa di duga-duga, Naya memeluk lengan Gema dari samping karena terlalu senang. Membuat Gema menatap tangan Naya yang memeluk lengannya dengan erat namun kali ini Gema tidak berusaha menyingkirkan tangan gadis aneh itu pikirnya karena ia baru saja merasakan keputusasaan dan di ambang kematiaaan.

" Dasar cewek aneh, baru saja sedihnya minta mati, eh sekarang senang nya minta di getok," batin Gema menatap kedepan dan Naya masih memeluknya erat dari samping.

" Eh sorry, kebablasan." Naya tersenyum canggung karena tidak sadar memeluk Gema cukup lama walau hanya lengan dan Gema tidak menanggapi ucapan Naya itu.

Naya bangkit dari tempat duduknya dan membersihkan celana kaos pendek selututnya karena sehabis duduk di rumput, Gema yang masih duduk di rerumputan pun mendongak dan menatap Naya yang sibuk membersihkan belakang celananya.

" Gema terima kasih ya untuk malam ini karena kehadiran kamu saya bisa punya teman berbagi walau saya tidak tau kamu dengar atau tidak tapi setidaknya bisa mengurangi beban di hati saya. Maaf tadi kalau saya kasar sama kamu, dan saya mohon kamu jaga rahasia ini ya, jangan bilang ke siapa-siapa karena sama kamu saja saya sudah malu sekali, apalagi kalau semakin banyak orang yang tau. Please ya Gema," Naya menampilkan lagi muka memohonnya dan lagi-lagi Gema memalingkan wajahnya.

" Ya sudah, kamu pulang deh, saya juga sudah mau pulang, bye Gema dan good night, eh bentar udah tengah malam ya, good midnight Gema."

Naya balik badan hendak berjalan meninggalkan Gema namun Gema membuka mulutnya.

" Lo pulang kemana? Gue anter."

Setelah itu Gema berjalan mendahului Naya dan Naya hanya melongo mendengar ucapan Gema itu.
Mimpi apa dia semalam, tadi ia nangis-nangis karena patah hati karena orang tuanya kini hati yang patah itu mulai di sembuhkan oleh pria dingin yang menduduki puncak di hatinya.

" Gema tungguin." Naya berteriak ke Gema ketika sadar Gema mulai menjauh darinya untuk ke motornya dan Naya pun segera berlari menyusul Gema dengan hati senang.

" Memang benar di dunia ini tak ada yang abadi, bahkan kesedihan yang begitu menyakitkan pun bisa begitu cepat berganti dengan sebuah kebahagiaan yang tak terduga ." Nayanika

Nayanika ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang