Anak Kost

1.1K 148 0
                                        

Matanya menyipit saat sinar matahari begitu terik, gadis bersurai hitam legam itu memilih untuk beranjak dari kantin, sudah tak tahan lagi untuk menunggu sang sahabat di tempat itu karena terlalu sayang dengan kulit sehatnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matanya menyipit saat sinar matahari begitu terik, gadis bersurai hitam legam itu memilih untuk beranjak dari kantin, sudah tak tahan lagi untuk menunggu sang sahabat di tempat itu karena terlalu sayang dengan kulit sehatnya. Ia berjalan pelan ke arah perpustakaan.

Namanya disebut tepat dirinya masuk ke dalam perpustakaan membuat Y/N menarik diri. "Dejun?"

"Kan gue suruh nunggu di kantin, kenapa jadi ke sini?"

"Kelamaan, kasihan kulit gue. Buat memutihkan kulit itu butuh waktu berabad-abad, tapi untuk menghitamkan kulit cuma butuh waktu lima menit. Dan berapa lama gue menunggu lo di kantin coba? Lo nggak ngerasain gimana teriknya hari ini sih Jun..."

Y/N berdecak pelan, seharusnya Dejun meminta maaf karena membuat dirinya menunggu. Y/N benci menunggu, bukan hanya Y/N dirasa semua orang juga membenci satu hal itu.

"Iya, iya. Maaf ya, sore ini lo mau makan apa?"

Sebuah sogokan yang selalu Dejun berikan jika Y/N sudah dalam fase hampir meledak seperti ini. Kekurangan Y/N adalah tidak bisa menahan amarahnya sendiri.

"Kebetulan, sekalian bantuin gue. Gue mau pindah kost."

"Lagi?" tanya Dejun memastikan, pria tinggi itu semakin tidak mengerti. Sudah ke berapa kalinya gadis bermata hazel itu berpindah dari satu kost ke kost an yang lain, yang jaraknya hanya berbeda gang atau terhalang dua sampai tiga rumah.

"Gue nggak suka, Bu kost terlalu rewel."

"Lo yang terlalu nggak suka kebisingan gue rasa."

"Nah itu lo paham."

"Udah dapat tempat baru?"

"Ada, nggak jauh dari pertigaan. Lo tahu kan yang dekat Boba itu? Ada gang sempit, memang cuma muat untuk satu motor sih tapi setelah masuk ke dalam lapangannya cukup luas. Di belakang kost putri juga ada kost putra jadi kalau gue pulang malem nggak jadi masalah."

"Yakin? Lo itu nggak suka keributan, tahu kost an putra kayak gimana kan?"

"Yakin, kalau nggak dicoba dulu mana tahu kan?"

"Bukan begitu nyai! Sayang uangnya, lo bayar kost nempatinnya cuma seminggu tapi bayarnya sebulan. Ini udah ke empat kalinya lo pindah. Nyari kenyamanan sih boleh tapi nggak gini juga sayang..."

Bukan apa-apa, jika dihitung dalam sebulan gadis berparas ayu itu menghabiskan uang senilai 1.500.000 rupiah hanya untuk membayar sewa satu kost dan ini sudah ke empat kalinya bahkan belum genap dalam satu bulan, sudah berapa banyak yang dikeluarkan oleh gadis itu. Dejun tahu jika keluarga Y/N adalah keluarga yang berkecukupan tidak menjadi masalah untuk itu, tapi yang Dejun herankan mengapa Y/N tidak memilih untuk menyewa apartemen? Jika memang kenyamanan yang dirinya cari. Aneh, Y/N sungguh aneh. Dia benci sendirian tapi tak suka dengan keramaian.

"Ayok, anterin gue balik."

"Tapi gue bawa mobil."

"Justru itu yang gue butuhi, dibanding gue mengeluarkan uang lagi kan? Masih ada lo yang bisa gue manfaatin."

JAEHYUN AS (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang