Jadi dokter, pacar, suami, kakak ipar, kakak, selingkuhan, guru ngaji ataupun tutor? Jung Jaehyun of NCT bisa menjadi siapun yang kalian inginkan. Fiktif belaka ya jangan disamakan dengan kehidupan real life sang idola. Di sini kamu yang jadi lead f...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pada kenyataannya manusia boleh berencana tapi tetap Tuhan yang berkehendak. Aku berpikir bahwa rencana Tuhan jauh lebih baik daripada rencanaku dan Mas Jaehyun.
Entah apa yang baru saja aku dapatkan adalah kabar bahagia atau bukan yang jelas aku sangat mensyukuri nikmat itu.
Aku mengandung, tapi aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa hingga dokter yang memberitahu kabar bahagia itu pun terlihat heran dengan respon dariku.
Aku tidak mengalami morningsickness atau apa pun itu pengalaman yang dirasakan ibu hamil di trimester pertama. Bahkan aku terlihat biasa saja. Maka dari itu, rasanya aku masih tidak percaya mendapati kenyataan bahwa aku sedang mengandung saat ini.
Hal aneh yang aku alami adalah ketika berat badanku yang kian naik drastis ditambah nafsu makanku yang semakin meningkat. Akhir-akhir ini aku banyak sekali makan hingga Mas Jaehyun terlihat heran dengan perubahan itu.
Ketika mengingat bahwa aku terlambat datang bulan, aku baru menyadarinya kemarin karena aku belum kedatangan tamu bulananku hampir dua bulan lamanya. Setelah menyadari itu aku memberanikan diri untuk memeriksakannya ke dokter. Tentu saja tanpa sepengetahuan suamiku.
Bukannya tidak menyukai anugerah yang diberikan Tuhan untukku, hanya saja aku takut jika pada akhirnya tidak bisa membesarkan atau merawat anak ini. Rasanya aku belum siap untuk menjadi seorang ibu. Menjadi seorang istri saja aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik untuk suamiku sendiri.
Ku hela napas secara perlahan. Hari ini aku memutuskan untuk tidak kuliah, bahkan revisian skripsiku pun tidak aku jamah sama sekali sejak beberapa Minggu yang lalu hingga aku ditegur oleh Pak Doyoung mengenai keseriusanku dalam menyelesaikan tugas akhir.
Begini, mengerjakan sesuatu tanpa adanya campur tangan hati— bisa dikatakan dalam situasi yang tidak ingin mengerjakannya atau lebih tepatnya melakukan sesuatu hal yang dipaksakan akan berujung pada hasil yang tidak memuaskan. Oleh karena itu, aku memilih untuk beristirahat dulu.
Suamiku pun menyarankan untuk beristirahat dari berbagai kegiatanku kecuali fokus dalam menyelesaikan SKS di semester ini.
Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk ke depannya? Haruskah aku mengambil cuti mengingat aku sedang mengandung?
Sungguh, rasanya ingin menangis. Di saat apa yang sudah aku kerjaan dengan susah payah dan berharap lulus dengan waktu yang singkat, nyatanya hanya sebuah angan-angan saja.
Tentu, aku tidak ingin memaksakan kehendak. Jika aku melakukan itu, aku takut dia akan terluka. Aku ingin membesarkan anak ini dengan penuh kehati-hatian, penuh dengan rasa sayang dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Jikalau Mas Jaehyun memintaku untuk mengambil cuti kuliah, mungkin itu pilihan tepat yang memang harus aku ambil meskipun aku masih menyayangkan atas perjuangan yang telah aku lalui.