Teman Seperjuangan (Koas)

912 142 14
                                        

Masa-masa koas adalah masa-masa yang indah dikenang namun enggan diulang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Masa-masa koas adalah masa-masa yang indah dikenang namun enggan diulang. Terlalu banyak yang berkesan dan banyak hal yang tidak bisa aku lupakan begitu pula dengan teman seperjuanganku.

Salah satu hal yang paling sulit dalam hidup menurutku adalah kehidupan per-koas-an. Kami seringkali dianggap seperti keset, diinjak namun tetap welcome. Selalu tersenyum meskipun dijadikan tempat salah dan pastinya harus selalu sopan dengan perawat maupun dokter senior.

Terkadang kami pun merasa dikerjai dengan para pekerja di rumah sakit, bekerja tidak sesuai aturan dan waktu yang telah ditetapkan rumah sakit. Bahkan Jaehyun kerap kali dimintai tolong oleh dokter Park yang merupakan dokter pembimbing kami untuk menerjemahkan begitu banyak jurnal bahasa asing ke dalam bahasa indonesia.

Jaehyun sempat tumbang selama dua hari karena tidak diberikan waktu sekedar untuk memejamkan mata beberapa menit.

Ya begitulah, masih banyak cerita yang menyedihkan jika menceritakan kehidupan per-koas-an.

Lebih gilanya lagi aku berpikir untuk menyerah. Jika dipikir-pikir rasanya tidak akan seimbang dengan apa yang sudah aku kerjakan dengan apresiasi yang akan aku terima nanti.

"Jae, rasanya gue pengen nyerah. Nikah aja apa ya? Percuma buang-buang uang hasilnya malah disiksa begini, dicaci maki, disalah-salahin terus. Gue capek," keluhku pada pria yang sedang bersandar di kursi cafe.

Beruntung kami mendapatkan istirahat sejenak dengan alasan tak kuasa untuk menahan kantuk, meminta ijin kepada perawat yang baik hati untuk menyambangi kafe di sebrang rumah sakit walau hanya mendapatkan waktu sepuluh menit.

"Lo pikir gue nggak? Tapi masa iya gini doang lo nyerah? Mana yang katanya mau jadi wanita karir meskipun nanti udah berkeluarga?"

Si cumi, dia masih mengingat ucapanku beberapa waktu silam saat di mana aku baru berstatus sebagai mahasiswa semester satu yang pastinya sedang semangat-semangatnya menjadi maba saat itu.

"Itu dulu, sebelum gue sadar bahwa hidup itu berat setelah dijalani."

"Terus lo mau ngebebanin semuanya ke suami lo nanti?"

"Udah jadi tugas suami kan menafkahi istri?" sahutku tak terima. Apa yang aku ucapkan ada benarnya kan? sudah menjadi tanggung jawab suami menafkahi istri, lalu salahnya di mana? Mengapa Jaehyun memilih kata 'membebani'.

Tentu aku sedikit tak terima.

"Iya tahu, tapi flashback lagi deh. Ingat perjuangan dan prosesnya sampai lo berada di titik ini. Lagian mana ada cowok yang mau jadiin lo istri kalau skincare lo aja berjuti-juti? Nyerah duluan kali mereka."

Aku terkekeh pelan, sama sekali tidak marah dengan kalimat yang dilontarkannya barusan. Memang ada benarnya yang dia katakan. Yang ingin menjadi suamiku kelak harus siap sedia mengeluarkan uang lebih untuk memanjakanku pastinya.

JAEHYUN AS (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang