Penjaga Laut

859 128 8
                                        

Sebuah sinar berwarna biru muda nampak begitu terang di kamar salah satu gadis yang sedang tertidur pulas, cahaya yang mungkin nampak terlihat dari luar rumah itu tiba-tiba berubah menjadi gelap keunguan, sang empunya kamar pun belum menyadari apa...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebuah sinar berwarna biru muda nampak begitu terang di kamar salah satu gadis yang sedang tertidur pulas, cahaya yang mungkin nampak terlihat dari luar rumah itu tiba-tiba berubah menjadi gelap keunguan, sang empunya kamar pun belum menyadari apa yang terjadi.

Sebuah tangan mengelus lembut surai gadis yang masih terlelap itu, Jaehyun - si pelaku, tersenyum lalu mendudukkan dirinya di sisi ranjang, memperhatikan dengan lekat gadis yang selama ini ia sukai.

Selama ini Jaehyun hanya bisa melihat Y/N dari kejauhan dan baru kali ini usahanya untuk dekat dengan Y/N berhasil, meskipun gadis yang ditaksirnya tak menyadari bahwa ada Jaehyun yang selalu berada di dekat Y/N seminggu belakangan.

Jaehyun menepuk punggung Y/N pelan ketika gadis itu mulai terusik dengan apa yang Jaehyun lakukan. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur tepat di sebelah Y/N dan memeluk sang gadis dengan erat.

Ada kilatan cahaya berwarna biru ketika tanpa sengaja kaos di lengannya terangkat ke atas, sisik yang tak sengaja terlihat itu membuat wajah Jaehyun mendadak pias, tepatnya lebih ke arah meratapi nasibnya.

Jaehyun sadar jika cintanya tak akan terbalaskan karena dirinya bukan sepenuhnya manusia, tak akan mungkin Y/N mencintainya, kalaupun keduanya saling mencintai mereka tak akan bisa hidup bersama karena tidak selamanya Jaehyun bisa hidup tanpa air.

Bagi Jaehyun, melihat dan menjaga Y/N seperti ini saja sudah lebih dari cukup, dia tidak pernah berpikir untuk memiliki Y/N dan membawa gadis itu ke dunianya.

Y/N baru saja terbangun dari tidur pulasnya tepat ketika jam wekker di atas nakas menunjukkan pukul 06.00 WIB. Sepertinya dia tidak mendengar suara alarm dari jam wekker miliknya sudah berbunyi sejak sejam yang lalu.

Tidurnya begitu nyenyak malam tadi, bukan hanya malam tadi, seminggu belakangan Y/N merasa selimut berwarna biru muda miliknya mendekap tubuhnya dengan erat saat dirinya terlelap dalam mimpinya.

"ASTAGA, GUE TELAT!"  

Dengan cepat Y/N beranjak dari ranjang miliknya dan bergegas ke arah kamar mandi. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk dirinya membersihkan diri dan bersiap pergi ke kampus.

"Tiga puluh menit lagi, duh jalanan macet nggak ya?"

Dirasa semua yang dia butuhkan sudah lengkap, Y/N segera meraih gelas besar yang ia letakkan diatas nakas semalam. "Hai, selamat pagi Fishy," katanya memberi salam pagi kepada seekor ikan kecil yang tak sengaja terbawa dari pantai Minggu lalu.

Y/N terdiam sesaat, dirinya dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Ia mengerutkan keningnya, siapa yang bertandang ke apartemen miliknya sepagi ini? Bukankah sang kekasih sedang di luar kota?

"Pagi sayang," sapa seseorang tepat setelah Y/N membuka pintu kamarnya.

"Loh, Mas kamu kenapa bisa ada di sini?" Y/N terkejut mendapati sang kekasih sudah ada di apartemen miliknya, setaunya Teandra masih berada di Bandung hari ini.

"Kaget banget aku di sini ya?"

"Yaiyalah, tiba-tiba banget kamu udah di depan aku. Pagi-pagi gini, tanpa pemberitahuan pula," jelas Y/N menggebu-gebu. "Astaga, aku udah telat Mas. Bisa anterin aku? Sekalian kamu cerita, kenapa bisa ada di sini."

"As your wish beibh, ayo cepat. Tapi itu, kenapa ikannya masih kamu simpan di gelas besar?"

sontak Y/N menatap ke arah gelas besar yang sedang dia bawa, "Oh ini, aku belum sempet beli akuarium kecilnya Mas... Pulang dari ngampus aku beli deh, kasian juga Fishy kalau bergeraknya jadi nggak leluasa."

"Yaudah aku temenin."

"Memangnya kamu nggak sibuk?" tanya Y/N memastikan, dia sangat tahu bahwa kekasihnya itu sangat sibuk, akhir-akhir ini pun Teandra kerap kali pergi ke luar kota.

Teandra berjalan mengekori Y/N ke arah wastafel dapur,  gadis itu mengatakan jika dirinya sudah terlambat tapi masih sempat-sempatnya untuk mengganti air untuk ikan peliharaannya.

"Nggak sibuk kalau buat kamu... Bukannya dia ikan laut?"

"Nggak tahu, dari kemarin aku kasih air tawar juga dia aman-aman aja. Bentar, aku kasih makan dia dulu."

Teandra mengangguk paham, membiarkan Y/N fokus pada pekerjaannya. Ada satu hal yang membuat dirinya merasa kesal saat mengamati gadis yang dicintainya itu.

"Kamu nggak punya atasan yang lebih terbuka dari itu?" Tentu saja kalimat barusan merupakan kalimat sindiran dari Teandra. Atasan yang dikenakan Y/N hari ini cukup terbuka menurut pria itu, ditambah Y/N membiarkan leher jenjangnya terlihat.

"Kenapa?" tanya Y/N menoleh ke arah sang kekasih, "Ini... Biasa aja kok Mas."

"Gantilah. Aset aku itu," ujar Teandra dengan kalimat tak santai, Y/N merotasikan matanya malas. Apa sih yang terlalu terbuka jika dirinya hanya menggunakan atasan tanpa lengan?

"Seenggaknya kamu pakai outer lah, Ganti atau aku cium di sini," ancam Teandra, pria itu sudah berada tepat di belakang Y/N bersiap untuk memeluk tubuh gadis itu.

"Kayak berani aja."

"Oh, nantangin? Lupa kalau di sini kita cuma berdua?"

Gadisnya sedang menantangnya saat ini, Teandra hanya cukup menerima tantangan dari Y/N bukan? Dengan sekali tarikan, pria itu menarik pergelangan tangan Y/N agar sang gadis berhadapan dengannya.

"Jangan salahin aku kalau kamu telat ya?" bisik Teandra ditelinga kiri. Tepat setelah itu jantung Y/N berpacu dengan cepat, bekerja lebih cepat dari pada biasanya. Salahnya juga menantang harimau yang sedang kelaparan.

Y/N menepuk bahu Teandra pelan saat dirasa pasokan oksigen dalam tubuhnya kian menipis, namun sang kekasih hanya memberinya ruang sekedar untuk menghirup oksigen beberapa menit kemudian menjalankan aksinya lagi.

Tanpa mereka sadari, kilatan merah terpancar dari mata ikan yang dinamai Fishy oleh Y/N, membuat suara pecahan gelas terdengar di telinga keduanya. Baik Y/N dan juga Teandra melirik ke arah pecahan gelas tersebut, "Ya ampun, Fishy... Kok bisa?"

"Jangan... Biar aku aja," ujar Teandra menahan lengan Y/N. Teandra juga terlihat kebingungan mengapa bisa gelas itu pecah dengan sendirinya.

"Mas pindahin dulu Fishy ke tempat lain. Aku titip absen aja hari ini sama Dejun. Kita beli akuarium sedang ya?"

"Yaudah, kamu hubungi Dejun aja. Ini biar aku yang urus."

"Hum."

"Argh," rintih Teandra, dirinya sedikit terkejut bagaimana bisa dia seperti tersengat listrik saat meraih ikan peliharaan sang kekasih. "Gue nggak ngerti kenapa lo bisa sampai ada di tempat ini dan entah kenapa lo terlihat aneh di mata gue. Lo bukan ikan air tawar tapi kenapa bisa hidup di air tawar dan kenapa lo menyengat tadi sedangkan lo itu sejenis ikan clownfish."

"Udah? Kenapa Mas? Kok kamu ngomong sendirian?"

"Nggak apa-apa, ini kamu taruh di ruang tengah aja jangan di simpan di kamar kamu lagi ya?"

"Oke." Meskipun tak mengerti alasan Fishy tidak diperbolehkan berada di kamarnya lagi, Y/N tak mau ambil pusing.

"Fishy kenapa terlihat tampan di mata aku ya?"

"Mana ada ikan tampan, ikan ya ikan."

"Coba deh Mas perhatiin, dia itu beda. Fishy beda dari ikan Nemo yang lainnya. Kayak dia punya magnet sendiri supaya orang sayang sama dia."

"Perasaan kamu aja, ayo berangkat."

"Belum ada toko ikan yang buka ganteng, mending kita sarapan dulu. Tolong masakin aku nasi goreng ya Mas? Nggak apa-apa kan? Aku mau makan itu tiba-tiba."

Ya mau bagaimana lagi, Teandra justru suka jika Y/N bergantung padanya.






JAEHYUN AS (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang