Si Pembuat Onar pt. 4

708 148 7
                                        

Tidurnya terusik saat mendengar suara keributan, wanita yang kelelahan sehabis menangis itu membuka matanya secara perlahan, dilihatnya sang suami yang sedang menunjuk wajah Jaehyun

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tidurnya terusik saat mendengar suara keributan, wanita yang kelelahan sehabis menangis itu membuka matanya secara perlahan, dilihatnya sang suami yang sedang menunjuk wajah Jaehyun. Entahlah sejak kapan Jaehyun ada di dalam kamar inapnya. Seingat Y/N pria pembuat onar itu menunggu Y/N di depan sesuai dengan perintah sang suami.

"Saya meminta kamu untuk menunggu di luar, bukan di dalam," tegas Doyoung. Terlihat jelas bahwa pria itu sedang menahan emosinya.

"Saya hanya ingin memantau kondisi Y/N, lalu untuk apa Bapak kemari dan bagaimana Bapak bisa masuk?"

Doyoung menatap Jaehyun tak suka, masih belum jelaskah keberadaannya di sana? Mengapa Jaehyun terlihat begitu bodoh, seharusnya dia dapat memahaminya dengan mudah. Siapa Doyoung bagi seorang Y/N jika pria itu bisa dengan mudah keluar-masuk rumah sakit?

"Rupanya kamu tidak sepintar yang saya kira Jaehyun. Saya tegaskan sekali lagi, jauhi Y/N."

"Memangnya Bapak siapa meminta saya untuk menjauhi Y/N?"

"Mas?" panggil Y/N dengan suara lirih.

keduanya menoleh ke arah Y/N yang sedang menatap Doyoung dengan tatapan lemah.

"Diam Y/N, saya belum selesai berbicara dengan dia." Nada bicaranya yang tak pernah Doyoung lontarkan untuk Y/N.

Y/N semakin merasa gelisah dan bersalah karena seharusnya Doyoung tidak perlu kemari hanya karena masalah seperti ini.

Hey, tiket Jepang-Jakarta itu sangat mahal. Haruskah pria itu menghamburkan uang? Sudah dapat dipastikan akomodasi pulang-pergi kali ini bukan dari pihak kampus.

"Dia sedang sakit, apa pantas Bapak berbicara seperti itu padanya?"

"Kamu punya hak apa atas Y/N?"

"Dan Bapak punya hak apa berbicara seperti itu?"

Y/N meringis memperhatikan keduanya, seakan mereka terlihat seperti anak kecil yang tidak tahu tempat dimana mereka sedang membuat keributan saat ini.

"Saya berhak atas itu, mengatur hidup Y/N pun saya berhak karena saya suami dari Y/N."

"Jangan bercanda, Bapak pikir saya percaya? Udah deh Pak, jangan halu, mana mungkin Y/N jatuh cinta sama Bapak. Lagipula nggak akan berpengaruh untuk saya, sampai kapanpun saya akan memperjuangkan cinta saya untuk Y/N."

Gila, pria itu benar-benar gila. Mengaku mencintai wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit di hadapan sang suami adalah suatu kegilaan.

Apakah Jaehyun sedang bosan hidup?

Doyoung menoleh ke arah Y/N, hendak bertanya kepada sang istri, perlukah mereka memberikan bukti agar Jaehyun percaya bahwa mereka adalah sepasang suami-istri.

"Sayang, apa perlu kita beri dia bukti?"

secepat kilat Y/N menggelengkan kepalanya, bukan bermaksud untuk membuat Jaehyun berada di atas angin. Hanya saja, apa yang mereka lakukan akan percuma saja hasilnya karena Jaehyun hanya percaya dengan apa yang dia percayai.

JAEHYUN AS (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang