Duren (Duda Keren) Pt.4

1.1K 126 4
                                        

Nara masih setia menangis di dalam pelukanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Nara masih setia menangis di dalam pelukanku. Bukan hanya dia yang bersedih, aku pun juga merasakan hal yang sama. Bahkan rasanya sungguh campur aduk.

Nara, asal kamu tahu. Cintaku kepada ayahmu begitu dalam.

Aku terkejut saat mendapatkan uluran sebotol air mineral di wajahku. Kudongakkan kepala ke arah atas guna mencari tahu siapa oknum tersebut.

Mas Dejun, dia tersenyum kemudian memperhatikan Nara yang masih menangis dalam diam.

"Tunggu," kataku tanpa suara. Dia mengangguk mengerti lalu mendudukan dirinya di kursi tepat di sebrangku. Mengerti maksudku kan?

Rasanya tidak mungkin jika aku tak menghubungi atau memberitahu Mas Dejun perihal masalah ini, biar bagaimana pun dia harus tahu apa yang sedang terjadi pada Om Jaehyun dan juga Nara.

"Minum dulu ya?"

Nara menggeleng, dia lebih mengeratkan pelukannya padaku. Aku menoleh ke arah pintu ruang operasi dimana Om Jaehyun sedang terbaring di sana.

Tidak mungkin aku ikut menangis di hadapan Nara dan juga Mas Dejun. Bagaimana bisa aku menangisi pria lain di hadapan calon suamiku sendiri?

Nara melepaskan pelukannya. "Gue mau ke toilet," katanya. Dia hendak berdiri membuatku ikut berdiri tapi dia menahan pergerakanku. "Gue bisa sendiri."

"Lo yakin? Gue temenin ya?"

"Gausah y/N." Dia menatapku, meyakinkan diriku bahwa tidak akan terjadi apa-apa nantinya. "Gue juga mau ke mushola."

Okay, aku mengerti sekarang. Dia juga butuh waktu untuk berdo'a, meminta pertolongan kepada yang Maha Kuasa.

Aku mempersilahkan Nara untuk pergi seorang diri. Biarkan aku di sini menunggu Om Jaehyun kembali, berharap penuh agar aku bisa bertatapan dengannya lagi meskipun tak ada ruang untuk kita kembali bersama. Bagiku, keselamatannya adalah hal terpenting yang aku pinta kepada Tuhan untuk saat ini, aku tak menginginkan yang lain.

"Butuh bahu?" Mas Dejun menawarkan diri. Dengan sigap aku menaruh kepalaku pada bahunya.

"Kalau kamu mau nangis, aku ijinin."

"Mas?"

"Nggak apa, jangan peduliin aku. Anggap aku nggak ada di dekat kamu saat ini."

Detik berikutnya air mataku sudah luruh jatuh membasahi kedua pipiku. Aku tidak tahu mengapa Tuhan mengenalkanku pada orang baik seperti mas Dejun. Aku tak sanggup membiarkan dia seperti ini tapi aku juga tak bisa melepaskan Om Jaehyun begitu saja ditambah keadaannya saat ini membuatku berpuluh-puluh kali lipat berpikir untuk meninggalkannya.

"Mas, maaf karena aku belum bisa ngelupain dia."

"Nggak apa, semua kan butuh proses."







JAEHYUN AS (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang