Jadi dokter, pacar, suami, kakak ipar, kakak, selingkuhan, guru ngaji ataupun tutor? Jung Jaehyun of NCT bisa menjadi siapun yang kalian inginkan. Fiktif belaka ya jangan disamakan dengan kehidupan real life sang idola. Di sini kamu yang jadi lead f...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mengandung unsur ++ 🌚🌚🌚 Yang tidak suka atau tidak berkenan, silahkan diskip aja ⚠️
Anak kecil dibawah 19 tahun dilarang hadir karena mengandung jebakan... serius, tolong ya minggir dulu 🙏🏻 Bijaklah dalam membaca, Mohon jangan dibawa ke real life ataupun sosmed lain. Ini hanya imagine, jangan latah ya say~ -------------------
Aku menatapnya dengan tatapan yang tak biasa. Apakah aku yang salah dalam hal memilih dosen pembimbing? Bukannya aku tak ingin memilih dirinya sebagai dosen pembimbingku tapi memilih Pak Doyoung sebagai dosen pembimbing satu, lalu memilih Mas Jaehyun sebagai dosen pembimbing dua cari mati namanya. Aku yakin skripsiku tak akan kelar, yang ada justru aku bisa gila karena keduanya.
Mengapa aku memilih Pak Doyoung?
Salah satunya karena aku sangat menghindari beliau agar tidak menjadi dosen pengujiku nanti karena siapa yang tidak mengenal dosen killer seperti Pak Doyoung? Aku yakin beliau akan membabat habis tugas akhirku.
Lalu bagaimana dengan Mas Jaehyun, meskipun dia menjadi dosen pengujiku nanti, mana mungkin dia tega menindasku terlebih aku sudah berstatus sebagai istrinya saat ini.
Ya, aku memutuskan untuk menikah saat aku menginjak semester empat, lebih tepatnya suamiku yang memaksaku untuk menerima pinangannya karena dirinya yang terlampau cemburu dengan Kak Taeyong. Suamiku ini telanjur takut jika aku kembali jatuh ke pelukan mantan. Jelas-jelas aku sudah tak mencintai mantan terindahku lagi.
Bukan hanya Kak Taeyong yang menjadi korban kecemburuan Jaehyun, melainkan Pak Doyoung. Entah mengapa pria berdimple itu selalu marah jika aku berduaan atau melakukan bimbingan melalui zoom meeting.
Sudah dapat dipastikan dirinya akan mengganggu kegiatanku, tentu saja dengan caranya yang luar biasa membuatku tak bisa bernapas dengan baik. Aku terlanjur kesal.
Tepat pukul tujuh malam aku dan Pak Doyoung melakukan bimbingan melalui Zoom, namun pria yang sedang uring-uringan ini sejak tadi selalu mengganggu kegiatanku.
"Mas! Aku lagi sibuk... Bisa nggak jangan menggangguku?" kataku sedikit membentaknya.
Bukan bermaksud ingin kurang ajar dengan suami, tapi pria yang ada di hadapanku ini sungguh sangat keterlaluan. Aku sedang mendengarkan Pak Doyoung yang sedang menjelaskan materi bab tiga yang aku buat, banyak sekali coretan di sana.
Ingin menangis rasanya.
"Y/N? Kamu mendengar saya?"
"Ah iya Pak, jadi apa saja yang perlu saya rubah?" tanyaku saat menghidupkan kembali microphone yang sempat aku matikan karena ulah suamiku.
"Saya yakin kamu tidak mendengarkan saya sejak tadi."
"Maaf Pak, itu... Perut saya sedang sakit," balasku berdusta.