Bara mengamati penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Alisnya merengut tak yakin, bibirnya berdecak berkali-kali.
Ia tak pernah memperhatikan ini... Ternyata, dirinya sangat basic.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk mengubek isi lemari, pakaian yang ia temukan lagi-lagi hanyalah kaos berwarna hitam. Perbedaan yang mencolok di antara mereka hanyalah gambar cetaknya saja.
Dan kini ia perhatikan ulang, tak ada satupun dari kaos-kaos ini yang terlihat keren.
Harusnya ia mendengarkan nasihat Nanang yang kerap kali menyuruhnya untuk pergi berbelanja.
Mau tak mau, akhirnya Bara meraih kaos hitam polos sebagai satu-satunya pilihan.
Bahannya sedikit terasa kaku, sepertinya baju ini masih tergolong baru.
Hanya saja, ia tak ingat kapan pernah membelinya.
Bara kembali memandangi bayangannya dari cermin. Matanya menelisik teliti, sebelum helaan panjang ia lenguhkan.
Kira-kira, Kana akan bosan tidak ya, melihat penampilannya yang selalu monoton seperti ini?
Setiap kali bertemu dengan Kana, Bara selalu berpakaian seadanya. Kaos, jeans, dan jaketnya yang lusuh.
Tetapi berbeda dengan dirinya, Kana selalu mengenakan pakaian yang elegan di setiap kesempatan. Siapapun yang melihatnya pasti tahu, bahwa Kana memiliki pengetahuan lebih dalam dunia fashion.
Kira-kira... Apakah Kana nanti akan merasa malu saat pergi bersamanya?
Bara menepuk wajahnya cukup keras untuk menghilangkan pikiran-pikiran nyeleneh yang melintas.
Kana bukanlah orang seperti itu.
Hanya karena Kana datang dari kasta yang berbeda, bukan berarti ia akan meremehkan cara Bara berpakaian.
Terutama, hanya karena harga kain yang ia kenakan.
Lagi pula, saat ini Bara bukan hendak mendatangi pernikahan seseorang. Ia hanya akan berjalan-jalan saja ke pasar malam. Tak perlu bergaya mewah atau formal.
Lantas, mengapa ia begitu memikirkan penampilan? Padahal ia sudah sering bermain dengan teman-temannya, dan ia tak pernah sekalipun mengkhawatirkan persepsi mereka atau orang sekitar yang memandang.
Mungkin... Mungkin karena ini kali pertama ia pergi berdua bersama Kana. Ya, mungkin karena itu.
Ya, masuk akal saja.
Maksudnya ya, Kana memiliki style yang menarik dan eye-catching. Berbanding terbalik dengan Bara yang ogah-ogahan hanya untuk terlihat rapi.
Ia hanya tak ingin membuat Kana malu, jika tampil begitu ala kadarnya.
Itu saja.
Ya.
Alasan mengapa Bara begitu khawatir tentu saja bukan karena ia ingin Kana menyukai penampilannya.
Ya, tentu saja tidak.
Ya, mungkin Bara memang ingin memberikan kesan yang baik.
Tapi, pemikiran bahwa ia ingin terlihat tampan di depan Kana tentu saja tak terlintas sama sekali.
Ya, tentu saja tidak.
Ya, pasti tidak.
Ya... Tidak mungkin.
Ya... Mungkin sedikit.
Bara menggelengkan kepalanya yang lagi-lagi berkelana liar. Ia harus mengurangi waktu melamun demi kewarasan mentalnya.
Ia meraih botol perfume dan menyemprotkan cairan itu untuk kesekian kali. Baju, pergelangan tangan, dan belakang telinga sudah kembali dibuat basah.
Rambutnya yang sempat berantakan karena pelampiasan, kini ia sisir dan tata ulang.
Ketika ia hendak mengenakan jaket kulit kebanggannya, tiba-tiba pergerakkannya terhenti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
