sembilan lima

43 6 0
                                        

Bara masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Kuku-kuku jemari ia tekan sedari tadi sampai memutih. Batinnya menimbang-nimbang keputusan apa yang harus ia buat. Membeberkan fakta atau menelannya bulat-bulat?

Hari ini matahari tertutupi oleh gumpalan awan. Angin yang melintas tak lagi membawa hawa panas. Peluh keringat yang masih menempel pada pori-pori kulit Bara secara perlahan ikut mengering. Bagian leher dari seragam olah raganya pun sudah tak lagi basah.
Namun segelintir sejuk yang menimpanya, sama sekali tak membawakan Bara sedikitpun ketenangan.

Ia harus segera membuat keputusan.

Setelah menyimpan rahasia mengenai Bapaknya selama berhari-hari, Bara sudah tak lagi sanggup menampungnya.

Hatinya terasa sakit, setiap kali melihat Alma yang masih menatap Wahyu dengan penuh kasih sayang.
Ibunya berhak untuk tahu yang sebenarnya.
Ia berhak tahu jati diri asli dari laki-laki yang Alma sebut sebagai suami.

Sementara untuk Bara, ia sudah tak lagi berbicara kepada Bapaknya. Menatap pun sudah tak sudi, apalagi membuka percakapan.
Hal ini tentu sama sekali tak membuat Wahyu merasa aneh dan inisiatif berkomunikasi dengan Bara terlebih dahulu. Mana mungkin. Laki-laki itu sudah tak peduli lagi kepadanya.

Namun, ada hal lain yang masih mengganjal pergerakkan Bara selanjutnya. Jika ia memberitahu Alma, apakah kondisi Ibunya itu akan menjadi lebih buruk?
Bagaimana jika ia tak bisa menerima semua kenyataan ini?

Tetapi jika Bara memutuskan untuk mendahulukan kesehatan Alma terlebih dahulu, lantas apa yang akan terjadi nantinya?
Bagaimana perasaan Ibunya, jika ia mengetahui semua ini saat sudah terlambat?
Bukan kah ia akan merasa lebih dikhianati?

Bara menggeretakkan giginya.
Bagaimana pun, suatu saat Alma akan mengetahuinya.
Dan untuk saat ini, lebih baik ia menyimpannya terlebih dahulu.
Setidaknya sampai Alma sembuh.
Setelah itu, ia akan memastikan Ibunya tahu.

Langkah kaki Bara yang menghadang menuju kamar dimana Alma dirawat secara perlahan terhenti. Ia mendengar suara-suara isakkan dari sosok yang sepertinya tidak asing.
Berniat memastikan terlebih dahulu, Bara pun mengintip dari celah pintu untuk melihat siapa yang berkunjung.

Ternyata Lela dan Maudi.
Kedua perempuan itu tengah menitikkan air mata mereka sembari berhadapan dengan Alma yang masih terkulai lemas di atas ranjang.

Bara kembali mengambil selangkah mundur dan memutuskan untuk menunggu karena tak ingin mengganggu.

Lela memang sudah sering berkunjung ke sini. Terkadang pula, ia menggantikan peran Wahyu untuk mengawasi Alma ketika ia bekerja.
Tetapi Maudi, ini baru ketiga kalinya perempuan itu menjenguk.
Karena jarak yang jauh dan kesibukan yang menumpuk, Bara pun memaklumi mengapa sosok itu baru sempat datang lagi.

Namun, suatu pemikiran kembali memasuki kepala Bara.
Mengapa mereka menangis sampai tersedu-sedu seperti sekarang?

"Al, lo bohong, kan? Ini gak serius, kan?"
Maudi mengeratkan genggamannya pada telapak tangan Alma yang semakin mengurus.

"Iya, Al. Ini pasti dokternya yang salah. Mungkin kalau diperiksa di tempat lain, hasilnya bakalan beda."
Lela mencoba untuk meyakinkan sahabatnya itu, tetapi tanggapan yang Alma berikan hanyalah tarikan bibir dengan lenguhan pasrah.

"Enggak, La. Gue sendiri yakin karena... Gue bisa ngerasainnya."
Alma menutup kelopak matanya untuk sejenak, seolah-olah ia tengah mencari firasat itu lagi.
"Bener kata dokter, kemungkinan waktu gue cuman sampe bulan depan."

Dengungan mulai terdengar dari kedua gendang telinga Bara.
Degupan jantungnya pun terpompa seolah akan meledak.
Kekuatan dari kakinya untuk menopang seluruh berat badan kini sudah hilang.
Bara secara perlahan meringsut ke atas lantai dengan genangan air mata yang kembali berjatuhan.
Dengan keras ia menutup wajahnya yang bergetar karena terisak.

Tidak, tidak mungkin pikirnya.
Ia pasti salah dengar.
Tidak mungkin Ibunya akan pergi secepat itu.
Tidak mungkin Ibunya akan pergi meninggalkan Bara.
Tidak mungkin.

Bara hendak beranjak dan mempertanyakan kebenaran, tetapi suara sang Ibu yang kembali mengudara membuat Bara menunda pergerakkannya.

"Abay belum tahu, jadi kalian pura-pura gak tau aja ya waktu dia dateng. Biar gue yang bilang sendiri."

Alma menelan ludahnya susah payah, lalu ia meluruskan posisinya untuk menghadap langit-langit ruangan.
Ada sebuah pengakuan yang selalu ia tahan, tetapi kali ini... Rasanya Alma ingin mencurahkan isi hatinya kepada Maudi dan Lela.

"... Gue bisa ngerasain kalau waktu gue udah sebentar lagi, karena kondisi gue sama sekali gak berubah jadi lebih baik."

Ketika Alma mengerjapkan matanya, cairan bening yang selalu ia tahan pun akhirnya menetes juga.
"Jujur... Gue selalu ngerasa gak enak hati setiap kali dirawat. Wahyu harus cari uang lebih cuman buat kesehatan gue. Gue rasanya selalu pengen nolak, karena gue pun tau, semua pengobatan ini sama sekali gak ngerubah apapun. Tapi gue harus tetep lakuin, karena gue gak mau ninggalin Wahyu atau Abay. Gue pengen sembuh buat mereka. Gue masih pengen jadi bagian dari hidup mereka. Gue masih pengen nemenin Wahyu setiap hari. Gue juga masih pengen ngeliat Bara tumbuh dewasa."

Suara yang Alma keluarkan semakin lama semakin merendah.
"... Tapi waktu gue inget-inget lagi, Wahyu sama Abay bakalan baik-baik aja tanpa gue."

Lela dan Maudi dengan kompak menggeleng keras kala mendengar itu,
"Enggak, Al. Mereka gak akan baik-baik aja. Lo tau sendiri mereka butuh banget sama lo. Semua orang juga pasti bakalan terpukul—"

"Iya, gue paham soal itu."
Alma menarik nafasnya dalam-dalam,
"Tapi setelah beberapa saat, gue yakin mereka bakalan bisa hidup kaya biasanya. Abay itu walaupun masih kecil, tapi dia udah bisa jaga diri. Dia punya banyak temen, banyak kenalan, jadi hidupnya gak akan sempit. Dia juga pinter, wawasannya luas. Gue yakin, Abay bisa jadi apa aja yang dia mau. Dan Wahyu, dia itu Bapak yang bertanggung jawab. Dia bisa ngedidik dan ngarahin Abay. Dia sayang sama Abay. Dia gak akan ngebiarin Abay kesusahan buat sedikitpun. Walaupun kadang emang Wahyu susah buat ngekspresiin kepeduliannya, tapi Abay bakalan bisa ngimbangin komunikasi diantara mereka. Semuanya... Masih bisa berjalan sesuai rencana. Abay sama Wahyu masih tetep bisa bahagia."

Maudi dan Lela tak lagi mampu berprotes, mereka hanya bisa menelan perkataan Alma dan membiarkan sosok itu berbicara.
Walaupun, rasanya sangatlah pedih karena Alma berujar seolah-olah ia sudah sangat siap untuk pergi.

Alma kembali melirik pemandangan di luar jendela untuk beberapa saat.
Namun setelah keheningan menimpa mereka, seulas senyuman pun terukir pada wajah pucat itu.

"... Disini rasanya asing. Disini rasanya gue sendirian. Gue pengen ngabisin sisa hidup gue di rumah. Dikelilingin sama orang-orang yang gue sayang."

Bara menatap butiran-butiran air matanya yang sudah berjatuhan ke atas keramik putih itu.
Tangisannya secara perlahan terhenti selepas Ibunya selesai bercerita.
Ia meremat kuat dadanya yang terasa sesak.
Ada perasaan lain yang kini menyergapi tubuhnya. Meringsak pun sudah tak bisa lagi menjadi pelampiasan untuk menyalurkan emosinya sekarang.

Ia hancur.

Ia benar-benar dibuat hancur.

Tapi jangan sampai Alma menyaksikan kehancurannya.

Bara menegak ludahnya, lalu mengelap wajahnya yang basah.
Nafas yang sempat terengah-engah pun ia atur ulang.

Bara sudah membuat keputusan.
Ia tak akan memberitahu Alma mengenai Wahyu.
Dimata Ibunya, Bapaknya adalah sosok yang sempurna.
Biarlah ia terus mengenang sosok suaminya seperti itu.
Biarlah ia menyimpan kisah cintanya dengan laki-laki itu sebagai memori yang indah.

Bara ingin Alma merasa tenang.
Bara ingin Alma tahu bahwa dirinya tak sedang kesakitan.
Bara harus tegar sampai saatnya tiba.
Ia harus terlihat baik-baik saja dimata Alma.

Setelah semunya selesai.
Setelah Alma benar-benar tak lagi disini untuk menyaksikan.

Saat itulah, Bara akan kembali menjadi hancur sehancur hancurnya.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang