Kana menatap layar laptopnya dengan begitu seksama. Manik mata berwarna hazel itu kian bergulir dari kiri hingga kanan, atas hingga bawah, dan awal hingga akhir tanpa adanya jeda. Entah ada apa gerangan, namun barisan kalimat yang tersusun di hadapannya sudah berhasil merengut semua rasa kantuk yang beberapa detik lalu masih menerjang.
Langit pada pagi hari ini sudah kembali cerah selepas diguyuri hujan semalaman. Bau basah dari rerumputan yang mengakari tanah pun ikut mewarnai suasana.
Tak lekang pula, kicauan burung sesekali berlalu lalang mengitari gendang telinga.
Berbeda dari hari jumat biasanya, para siswa kelas 11 di SMA Kenanga sedang tak berbondong-bondong berjalan menuju sekolah sebelum fajar naik. Justru kini mereka malah asik bersantai di rumah masing-masing, walaupun jarum jam sudah hampir mengarah pada angka delapan.
Fenomena ini terjadi dikarenakan perintah sang guru yang memberikan intruksi bagi para murid untuk melaksanakan tes renang, mengingat bahwa ujian kenaikan sudah mereka laksanakan seminggu lalu.
Oleh karena itu pula lah, keringanan mengenai acara pembelajaran telah diterapkan. Toh, semua materi pun sudah habis dan tak ada yang bisa dibahas.
Kurang dari dua puluh menit yang lalu, Kana masih bergelut dengan ranjangnya yang empuk. Udara sejuk yang merembas memasuki celah fentilasi dan jendela membuatnya semakin enggan untuk beranjak dari kasur.
Namun pada akhirnya, kaki ramping itu pun mau tak mau mulai berderap di atas lantai.
Berbeda dari murid yang lain, masih ada tugas yang harus ia kerjakan.
Setelah mengambil coklat panas dan membawanya menuju meja belajar, ia pun menggunakan energinya yang belum benar-benar terkumpul untuk membuka laptop dan mengakses website Osis.
Sesuai keputusan sang ketua, sastra sastra yang sudah terpilih dari program surat untuk seseorang di lini masa pun akan mereka pajang di mading.
Beberapa judul sudah didapatkan dan tinggal disalin saja.
Karena ingin membuat surat itu terlihat lebih autentik, Kana memutuskan untuk menulis penggalan bait itu secara langsung dan tak mencetaknya menggunakan mesin.
Tetapi kini, bukannya segera melaksanakan niat dan mulai meraih alat tulis beserta selembar kertas, Kana justru dibuat termenung kala melihat surat yang dimaksud.
Padahal ini bukan kali pertama baginya membaca kata-kata itu, namun tetap saja ia dibuat melamun dan kehilangan konsentrasi. Perasaan yang hinggap di dadanya masih sama persis seperti kali pertama ia membacanya.
Entah siapa yang menulis dan entah untuk siapa pula frasa-frasa ini ditujukan.
Namun dari setiap bait yang tertuang, sepertinya sosok dibalik karya ini sangatlah bersungguh-sungguh.
"Rasa ingin menjadi seseorang yang satu-satunya bisa tinggal di dalam hatinya."
Kana mengulang-ngulang kalimat itu di dalam kepala.
Kini lengannya pun mulai bergerak dan merangkai ulang sajak sang penyair pada selembar kertas berwarna hijau pastel.
Seolah-olah rengkuhan huruf itu telah menjadi bagian dari memorinya, Kana tak perlu lagi mendongakkan kepala untuk memeriksa.
Ia sudah hafal.
Lenguhan samar pun pada akhirnya ia keluarkan.
Dagunya ia topang dengan kepalan tangan beserta pandangan yang masih belum lari kemana-mana.
Sosok ini sangatlah beruntung, ia bisa mendapatkan pernyataan cinta yang sebegitu indahnya.
Kira-kira, seperti apa wujudnya? Sampai-sampai ia bisa membuat sang penulis jatuh sedalam ini.
Kana meraih ransel yang berada di bawah meja untuk mengambil sebuah cutter. Namun kala lengannya baru merogoh masuk, ingatannya sudah terlebih dahulu menghentikan aksinya. Benda tajam itu masih berada di ruang Osis dan tidak ia bawa pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
