Kana dan Bara berjalan beriringan dibawah terangnya gemerlap langit malam. Untuk hari ini, sepertinya semua meteor yang ada di angkasa berlomba-lomba untuk menjadi yang paling bercahaya.
Kilau buatan pun tak ingin kalah dari mereka yang diciptakan tanpa adanya campur tangan manusia.
Semuanya menyilaukan dari setiap sudut kedua remaja itu memandang.
Seolah-olah tengah mengamati mereka dan ingin mencari tahu kemana cerita akan dilanjutkan.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Sesuai janjinya kepada Arga, Bara sudah harus mengantarkan Kana pulang sebelum dunia berubah total menjadi gulita.
Setelah bermain banyak sekali permainan dan mengunjungi beberapa kedai makanan, mereka pun memutuskan untuk mengakhiri hari dan kembali menghadang menuju parkiran.
"Sini, Bar. Biar gue yang bawain, masa semuanya sama lo."
Kana untuk kesekian kalinya mengeluh kepada Bara yang tetap kekeuh menjinjing semua pesanannya.
"Gak usah. Sama gue aja. Gak berat, kok."
Bara lebih dari berkenan untuk memikul barang-barang ini seorang diri.
Memang masanya tidaklah berat, tetapi alasan lain mengapa ia bersikeras membawakan belanjaan ini adalah karena Bara tak ingin membatasi pergerakan Kana.
Selagi ia bisa, ia tak akan meminta bantuan.
Lengan Bara dipenuhi oleh beberapa plastik yang berisikan makanan—sate seafood, churros, dan mac n cheese yang masih mengepul hangat.
Sementara lengan Kana hanya diisi oleh sebungkus waffle—yang sudah hampir tandas.
"Yaudah, kalau repot bilang ya sama gue."
Bara hanya mengangguk sebagai jawaban.
Ketika mereka sudah hampir sampai pada sudut dimana motor hitam itu diparkirkan, Bara dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu saja.
Ia terkesiap seolah-olah tengah memperhitungkan sesuatu, ekor matanya melirik plastik yang masih menggantung, lalu dengan gesit ia membuka bungkus berwarna putih itu untuk memastikan rasa ragu.
Kana yang menyadari itu lantas menoleh,
"Kenapa, Bar?"
Bara membuang nafasnya gusar, lalu ia mendongakkan kepalanya secara perlahan.
"Bonekanya, Na... Kayaknya ketinggalan di tukang sate."
Kana spontan menelisik lengan Bara yang memang hanya menggenggam plastik putih saja. Ia pun ingat betul bahwa kedua boneka itu dibaluti oleh paper bag. Sepertinya praduga Bara memang benar, kedai sate itu adalah tempat terakhir yang mereka kunjungi.
"Yaudah kalau gitu, kita bal—"
Bara segera menyela.
"Gue aja yang kesana, lo tunggu disini ya! Sebentar kok."
Sebelum benar-benar pergi, Bara mengedarkan pandangannya terlebih dahulu. Saat tukang parkir dan dua orang perempuan ia temukan, Bara pun dengan tergesa-gesa berlari memutar.
Setidaknya Kana tak sendirian di tempat ini, jadi ia tak perlu resah karena hendak meninggalkannya di tempat sepi.
Kana yang tak diberikan kesempatan untuk berbicara hanya bisa mengerjap semu.
Lantas ia menggeleng sayu sembari melenguh halus.
Bara memang tak main-main saat berkata bahwa ia tidak ingin merepotkannya.
Enggan beranjak kemana-mana, Kana memutuskan untuk menunggu di tempat Bara meninggalkannya saja.
Ia memindai sekeliling sembari mengusap lengannya yang tertutup kain.
Walaupun tak kentara, tetapi udara dingin terasa mulai mencekam.
Suasana pasar malam sudah berangsur berubah menjadi sunyi. Ketika tadi Kana beranjak keluar dari area itu, ia sempat melihat beberapa kedai yang memutuskan untuk berbenah dan tutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomansaSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
