seratus sepuluh

111 10 4
                                        

Bara melepaskan helm yang ia pakai, lalu berganti menyugar rambutnya yang masih terasa sedikit basah. Selepas menyimpan benda pengaman itu di atas stang motor, langkah kaki dengan destinasi menuju kelas pun mulai diambil olehnya.

Tetapi di dalam perjalan, ada sesuatu yang menyanggah pikiran Bara.

Setelah masa kepemimpinan Ryan sebagai ketua Osis dilaksanakan, banyak tata letak tempat yang secara perlahan nampak berbubah.
Contohnya dinding kosong di dekat ruangan lab. Kini bata kusam itu telah dihiasi oleh lukisan apik dari para seniman-seniman amatir.
Contoh lainnya bisa ditemukan pula pada pot-pot tanaman yang sudah dipindahkan menuju titik terbuka agar proses fotosintesis bisa lebih mudah terselenggara.

Jika tak salah dengar, Ryan pun tengah memproses sebuah agenda yang nantinya akan ada satu hari di dalam seminggu dimana para murid diperbolehkan untuk berpenampilan lebih santai dan jujur pada gaya personal masing-masing.
Aksesoris, jaket, dan sepatu berwarna tak akan dikenakan sangsi.
Tujuannya tak jauh dari keinginan untuk membebaskan para siswa dan siswi untuk bebas berekspresi.

Kurang dari dua bulan laki-laki itu menjabat, tetapi sudah banyak hal yang ia kerjakan.
Harus Bara akui, Ryan hebat dalam berorganisasi.

Namun... Bukan hal itu yang mengusiknya.

Kemarin sore ketika layar ponsel tengah Bara gulir, salah satu postingan dari akun milik Osis muncul begitu saja di laman beranda.

"Surat untuk seseorang pada lini masa."

Dari apa yang Bara tangkap melalui keterangan di bagian caption, program yang pernah Ryan kampanyekan itu akan segera dioperasikan.
Seiingatnya, kegiatan itu diperuntukan bagi mereka yang ingin mengirimkan sajak atau puisi untuk seseorang yang dipuja.
Tentunya, nama pengirim dan nama sosok yang ditujukan tak akan dicatat. Sehingga para peserta bisa dengan leluasa menyampaikan isi hati mereka secara sepenuhnya.

Entah apa gerangan, tetapi pengumaman itu masih melekat di balik kepalanya tanpa alasan yang jelas.
Padahal Bara sama sekali tak ada niatan untuk berkontribusi atau mengirimkan sesuatu.
Toh, berbicara pun rasanya ia tak pandai, apalagi jika harus menulis sastra.

Ketika ruangan yang dituju sudah berada di hadapan, Bara pun merapikan ujung dasinya yang terasa sedikit longgar. Dari jarak yang tersisa, ia bisa memastikan bahwa sang guru belum memasuki kelas.

Namun belum sempat ia menjejali garis ambang, netranya sudah tertuju lebih dulu kepada sosok yang tengah duduk pada bangku di pojokkan kelas.

Kana sudah lebih dulu sampai ternyata.

Manusia bersurai jingga itu tengah sibuk berbincang dengan teman-temannya.
Sesekali tawa riang pun keluar dari kedua belah bibir ranumnya.
Kelopak matanya pun ikut tertutup tiap kali ia tergelak lepas.

Bara termenung dan menunda kakinya untuk melangkah.
Barisan jemarinya pun mulai mengepal tanpa bertenaga.

Untuk yang kesekian kali, gumpalan kabut itu kembali bersimbah ruah.
Lagi dan lagi, akalnya dibuat mengabur dan tertutupi oleh kelabu asap.

Kini... Ia kembali dibuat kebingungan akan dirinya sendiri.
Kini... ia kembali dibuat kebingungan mengenai perasaannya sendiri.

Dari jarak yang hanya terpisah oleh beberapa langkah, Bara masih ingin lebih dekat dengan Kana.
Ingin tahu alasan mengapa Kana tertawa begitu lantang.
Cerita apa yang baru saja sosok itu dengar?
Apakah selucu itu? Apa mungkin, ada lelucon lain yang terselip di dalamnya?
Lelucon yang mungkin hanya Kana mengerti?

Bara pun ingin mengerti.
Bara pun ingin tahu.

Tetapi mengapa? Mengapa dirinya menginginkan itu? Mengapa Bara merasa ingin tahu akan segala hal kecil yang bisa membuat Kana senang?

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang