seratus lima belas

75 8 0
                                        

Kana menarik dan mengeluarkan nafasnya yang sempat dibuat tersenggal. Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia pun mencoba untuk mengatur ulang ritme keluar dan masuknya oksigen ke dalam paru-paru.

"Ah, udahan ya, Kak. Aku udah capek banget."
Kana menarik lengan Fino di sebelahnya dan menggiring laki-laki itu untuk berjalan menuju karpet tipis yang tergeletak di atas hamparan rumput pada pekarangan rumahnya.

Ayolah, tadinya hari ini Kana berniat untuk mengajak Fino berjemur ala-ala remaja-rema Lost Angeles yang ia lihat di tumblr. Es teh lemon dan camilan ringan sudah tersedia, dua kacamata anti radiasi sudah tertata, bahkan alas untuk rebahan pun sudah Kana siapkan.
Tetapi Kakaknya—siapa lagi kalau bukan Arga—malah memaksa Kana untuk melatih gerakan bela diri.
Alasannya karena Kana sebentar lagi akan beranjak menuju jenjang sekolah menengah pertama, jadi Arga bilang ilmu perlawanan diri seperti ini harus ia kuasai sebagai bekal agar tidak ada yang berani macam-macam kepadanya.

Fino yang diajak untuk ikut serta pun malah mangut-mangut saja dan bukannya melawan.
Jadi beginilah akhirnya, mereka berdua harus mengikuti setiap arahan dan gerakan sang Kakak selama lebih dari satu jam.

Sudah dua kali Arga menjadi pengacau hari libur Kana.
Kemarin pun ia dipaksa untuk berolahraga dengan bermain bola basket seharian.

Walaupun begitu, Kana harus akui bahwa perintah dari sang Kakak memang cukup berguna untuk menambahkan fleksibilitas tubuhnya.
Ia menjadi lebih mudah dalam melatih koreo balet.

Tapi tetap saja, jangan ganggu Kana saat ia sudah punya rencana untuk bermalas-malasan!

Yah, mau bagaimana lagi.
Jika Arga sedang libur kuliah seperti ini, pasti ada-ada saja ide abstrak yang lahir dari kegabutannya.

"Ehh, ni bocil. Kamu harusnya berterimakasih ya sama Kakak karena udah mau ngajarin."
Arga berkecak pinggang saat adiknya itu melenggang pergi tanpa menengok balik.

"Ah, buat apa juga. Orang aku gak ada niatan mau berantem."
Kana tahu pasti Arga bermaksud baik.
Tetapi sungguh, ia sudah tak kuat lagi untuk melakukan kuda-kuda. Pahanya telah dibuat kentara lemas.
"Kak Arga masuk ke dalem deh. Mama lagi masak tuh, tadi kan Kak Arga bilang lagi laper."

Fino hanya bisa menggelengkan kepala kala melihat interaksi di antara kakak beradik itu. Percayalah, keduanya tidak pernah bertengkar soal hal serius. Paling jauh hanya tentang perkara konyol seperti ini.
Namun justru itulah dinamikia yang membuat hubungan mereka terasa lebih ramai.
Sebagai anak tunggal, Fino tak pernah sekalipun merasa kesepian saat bersama mereka.

Setelah Arga menghela pasrah lalu hengkang dari hadapan, Kana dan Fino pun akhirnya bisa dengan leluasa merebahkan tubuh tanpa adanya gangguan.
Lantas, Kana menyalakan radio yang terletak disebelahnya dan menekan tombol nyala untuk memainkan musik pengiring sebagai penghias suasana.

"Fin, kamu tuh kalau disuruh buat olahraga kaya tadi sama Kak Arga, ya jangan nurut terus."
Gerutu Kana sembari mengibas-ngibaskan angin yang melintas dengan kedua tangan.

"Ya gak apa-apa atuh, Na. Sekalian ngelatih otot sama stamina juga, kan?"

"Ya, kamu kan atlit. Jadi seginimah udah biasa buat kamu. Lah, aku?"

Kana mengerucutkan bibirnya malas saat Fino mengumandangkan tawa meledek.

Di antara rerumputan hijau yang masih berukuran sangat pendek, seekor kucing berwarna hitam dengan mata kebiruan datang dan menghampiri sang majikan. Kana pun melambaikan tangannya sebagai tanda bahwa ia mengizinkan hewan itu untuk bergabung bersama mereka.

Dengan geraman rendah seperti meminta perhatian, Priscilla—nama yang dulu Kana berikan kepadanya—duduk melingkar diantara kedua remaja itu karena tak ingin ketinggalan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang