seratus tiga belas

53 8 8
                                        

Kana berjalan menuju ruang Osis dengan sebuah minuman yang masih mengeluarkan tetesan bulir dingin pada kemasannya.
Seperti biasa, Ryan—yang memang selalu peka—memberikan air penyejuk itu kepada Kana. Beruntung, sehingga ia tak perlu lagi berlari menuju kantin hanya untuk menghilangkan dahaga.

Sesaat setelah ia melewati ambang pintu, Kana—yang saat ini tak lagi digambrungi oleh kesibukan pun—dengan santai melenggang menuju pojok ruangan dan mendaratkan tubuh. Pundaknya ia sandarkan pada tumpukan ransel milik anggota osis yang ditumpuk berjajar.

Perlu diingat, meja dan kursi di dalam ruangan ini sudah disusun bertingkat agar para anggota osis yang lain bisa dengan bebas selonjoran kala nanti acara sudah selesai.
Tetapi untuk sekarang, siswa-siswi itu masih menjalankan tugas mereka.
Sehingga hasrat ingin rebahan pun harus tertahan.

Hari ini adalah hari dimana acara perpisahan kelas 12 dilaksanakan.
Haru dan tawa sudah mengaung sedari awal segmen dimulai.
Tak bisa dipungkiri, Kana yang menonton pun sempat ikut terbawa suasana.
Mungkin karena ia tahu betul bagaimana pahit dan manisnya pengalaman tak lagi saling berjumpa dengan teman lama.

Walaupun begitu, Kana harus tetap menetralkan emosinya dan bersikap gesit dengan tanggung jawab yang sudah dilimpahkan.
Seperti biasa, seluruh anggota Osis ditunjuk sebagai panitia.
Nama Kana pun tertulis kedalam seksi pembawa acara.
Tugasnya tak terlalu memakan tenaga, setidaknya tidak seperti Dafa dan Leni yang berperan sebagai logistik.
Kegiatan Kana sedari pagi hanyalah berbicara di depan lapangan untuk menghidupkan suasana.
Ya... sebenarnya jika dipikir-pikir tidak mudah juga.
Membuat para penonton nyaman dengan pembawaan seorang MC bukanlah sesuatu yang gampang. Namun Kana tak terlalu risau dibuatnya, toh ia pun sudah terbiasa tampil di depan umum.

Yang paling tak mengenakkan cuman satu, ia harus berdiri di bawah terik matahari.

Tetapi kini tugasnya sudah digilirkan kepada Lisa. Sehingga untuk separuh acara kedepan, perempuan itulah yang memimpin pertunjukan.

Jam di atas dinding mengarah pada angka setengah satu. Cahaya surya pun ikut merembas masuk ke dalam jendela dan diiringi oleh semilir angin sejuk.
Suasana ruangan Osis kini nampak begitu kosong nan tentram. Tetapi hingar bingarnya manusia di lantai bawah masih tetap bisa terdengar.
Tak luput pula dengan ketukan musik yang berasal dari pengeras suara di lapangan.
Keduanya saling bersaing bersautan untuk mengisi kesendirian Kana sekarang.

Teringat akan janji yang belum lama ia buat, Kana pun menancapkan sebuah kabel pada saklar untuk mengisi ulang daya ponsel milik Ryan.

Tadi laki-laki itu menitipkan benda pipih miliknya kepada Kana untuk dicas.
Berbeda dengan Kana yang sudah bisa bernafas lebih teratur, Ryan sedari tadi masih bergelut dengan tugas-tugasnya. Sehingga untuk mampir ke ruangan Osis pun ia tak bisa.

Lantas setelah tak ada lagi aktifitas yang harus dilakukan, Kana pun mengalihkan perhatiannya pada pesan-pesan yang belum ia periksa.
Lebih tepatnya, ia tengah membalas ocehan Fino yang belum sempat dibaca.

Sesuai saran dari Bara, Kana sudah kembali memulai percakapan kasual dengan sahabat lamanya itu. Tak lagi sebatas berbagi kabar formal, kini percakapan receh pun dengan leluasa meraka utarakan.

Benar apa kata Bara, ternyata Fino tidak pernah berubah.
Ternyata sosok itu pun masih ingin menjalin komunikasi yang kuat dengan Kana.

Saat berpisah setahun yang lalu, Kana kira cerita mereka memang sudah seharusnya berakhir pasa masa itu.
Hanya sebagai kenangan masa kanak-kanak yang tak lagi bisa diulang.

Tetapi nyatanya, ia terlalu cepat menilai.

Mungkin jalan Kana dan Fino masih searah dan bisa diarungi bersama-sama.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang