Bara menyimpan perlengkapan MOS-nya di atas meja, setelah ia merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Keringat mulai berjatuhan dari kening hingga kebagian lehernya, hari ini Jakarta benar-benar terasa begitu gersang. Topi biru yang sebelumnya ia pakai pun, kini fungsinya ia alih gunakan menjadi sebuah kipas.
"Hahh, cape banget."
Hari pertama sebagai seorang pelajar sekolah menengah berjalan cukup lancar. Selain cuaca yang esktrim, Bara tak menemui permasalahan apapun. Sekolahnya terbilang bagus, lapangannya pun cukup luas untuk bermain sepak bola, ditambah murid-murid yang ia temui nampaknya sangat ramah dan bersahabat.
Walaupun lagi-lagi, Bara harus mulai membiasakan diri dengan tatapan penuh keingin tahuan dari para siswa perempuan yang bersinggungan dengannya.
"Tadi gimana acara Mos-nya, Bay?"
Alma melontarkan pertanyaan dari arah dapur. Tangannya masih sibuk memasak untuk makan siang, jadi ia tak bisa mendatangi Bara secara langsung.
"Oke-oke aja Bu. Tapi untung lah cuman pas pagi dijemur di lapangannya, bukan pas tadi siang."
Bara memperhatikan sepasang lengannya yang seolah hampir terbakar.
Pada musim panas ini, sepertinya kulit Bara akan nampak lebih kecoklatan dari biasanya.
Perhatian Bara yang semula bertumpu pada cuaca, kini mulai teralihkan kala sebuah aroma yang menggungah selera secara perlahan memasuki indra penciumannya.
Dengan spontan ia pun berjalan menghampiri tempat Ibunya berdiri. Sepasang netra itu otomatis mengamati bahan-bahan apa saja yang tengah Alma olah.
Bara tak begitu tahu dengan pasti, namun sumber aroma itu berasal dari ayam yang tengah digoreng.
Sebelum sempat Bara bertanya mengenai detail menu apa yang tengah dimasak oleh Alma, suatu hal lain terlebih dulu mengalihkan perhatiannya.
"Ibu lagi nulis apa?"
Alma yang tengah menggerakan pena pada helaian kertas dari dalam buku kecil itu pun lantas mendongak.
"Lagi nulis resep, masakan-masakan yang kamu suka semuanya Ibu catet disini."
Alma menutup sampul buku berwarna coklat muda itu dan menyerahkannya kepada Bara.
"Buat apa, Bu?"
Bara kembali membuka lembarannya dan membaca setiap halaman dengan penasaran.
"Ya siapa tau Ibu lupa sama detail bahan-bahannya. Lagian juga siapa tau kan, kamu mau belajar masak."
Bara? Belajar masak?
Sepertinya itu adalah salah satu hal yang terbilang sangat riskan untuk ia lakukan. Selama ini kemampuannya hanya sebatas memasak mie instan saja. Bahkan untuk menggoreng telur dadar pun, terkadang ia tak becus.
"Enggak deh, Bu. Kalau ada Ibu ngapain Abay belajar."
Alma mendecak,
"Ya harus lah. Nanti kalau Abay semisal kuliah di luar kota gimana? Atau misal nanti udah tinggal sendiri? Masa harus Ibu samperin sih."
Bara tertawa kecil, lalu menyimpan kembali buku itu.
"Siapa yang bilang Abay mau kuliah diluar kota? Abay juga kan bakalan selamanya tinggal sama Ibu."
Alma hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. Walaupun tubuh laki-laki itu sudah terbilang besar untuk remaja seusianya, namun jalan pikiran Bara terkadang masih sama seperti anak kecil.
Dan karena itu pula, rasanya masih cukup berat bagi Alma untuk melepas Bara.
Berbeda dengan remaja lainnya yang secara perlahan sudah mulai menghindar dari keluarga mereka dan mencari jati diri masing-masing, Bara masih setia menjadi sosok yang ia kenali.
Tahun akan berlalu dengan sangat cepat.
Saat ini Bara masih memasuki rumah dengan sebuah seragam.
Tetapi suatu saat nanti, ia akan berjalan melewati ambang pintu dengan kemeja kerjanya.
Dan pada akhirnya, Bara akan mengetuk kayu itu dengan pakaian casual untuk mengunjungi Alma dihari libur. Kemungkinan pula, dengan seseorang yang sudah Bara anggap sebagai belahan jiwanya.
Mungkin juga... Dengan anak kecil yang menggandeng tangan mereka.
Tentu, Alma tak pula ingin menggantung ekspetasi diatas pundak Bara. Jalan apapun yang akan ia tuju, Alma akan tetap merasa bangga.
Oleh karena itu, ia harus bisa bertahan di dunia ini untuk menyaksikan sosok seperti apa Bara dimasa depan.
Walaupun memang laganya akan sedikit sulit. Alma bahkan sampai sekarang masih memanggil Bara dengan nama panggilannya, ketika ia masih balita. Saat itu, Bara belum bisa menggerakkan lidahnya dengan baik, sehingga ia selalu memanggil dirinya sendiri dengan nama 'Abay'.
Alma menghembuskan nafas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Sepertinya perasaan campur aduk ini juga dialami oleh setiap Ibu di luar sana.
Tak mudah untuk merelakan, tetapi ingin juga melihat anak mereka tumbuh dewasa.
"Kalau Iko sama Reja gimana, tuh? Mereka kegiatan Mos-nya sama juga gak, kaya di sekolah kamu?"
Bara menarik bibirnya tipis, mencoba untuk mengingat ucapan teman-temannya itu.
"Sama aja kayanya Bu, soalnya semua sekolah sekarang gak ada yang boleh nyuruh muridnya bawa barang aneh-aneh lagi."
Alma mengangguk paham. Sejujurnya, ada hal lain yang ia cemaskan.
"Kalau kamu di sekolah baru udah dapet temen belum?"
Bara berjalan mengambil gelas lalu mengisinya dengan air putih dari keran dispenser. Namun sebelum meminumnya, Bara menjawab pertanyaan itu terlebih dahulu.
"Udah kok, Bu. Orang-orang disana pada asik. Emang sih, gak ada temen SD-nya Abay. Tapi kayanya Abay bakalan betah."
Rasa syukur Alma pun terpanjatkan. Ia awalnya berpikir bahwa Bara mungkin akan kesulitan untuk beradaptasi pada lingkungan yang baru.
Alma lupa, bahwa Bara memang sangatlah pandai dalam berbaur.
Setelah merasa masakannya sudah hampir jadi, ia pun meraih sebuah piring dari dalam rak.
Tetapi belum sempat Alma menyimpan benda kaca itu di atas meja, kepalanya sudah terlebih dahulu diserang oleh rasa pusing yang teramat sangat.
Seperti tusukan jarum yang tak terduga.
Tenaga pada tangannya tak lagi memiliki kuasa penuh, piring itu pun jatuh begitu saja pada permukaan keramik lantai.
Bara yang baru selesai meminum air di gelasnya, kini dibuat terperanjat oleh suara pecahan kaca yang bertabrakan.
Tetapi ketika ia menoleh, ada hal lain yang lebih membuatnya panik.
"Bu, Ibu kenapa?!"
Walaupun masih memegangi kepalanya yang terasa cukup pening, Alma berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"E-enggak, Bay. Ibu gak apa-apa. Ini biasalah, akhir-akhir ini Ibu emang sering pusing. Kamu jangan disini, nanti takutnya kena kaca."
Bara sama sekali tak merasa diyakinkan oleh ucapan itu.
"Yang bener, Bu? Udah, ayo ke dokter aja."
Alma menggeleng tak setuju. Rautnya yang tengah menahan sakit pun, ia coba untuk lunturkan agar Bara tak merasa khawatir.
"Gak usah. Serius ini Ibu cuman lagi pusing aja. Kamu tau kan, kemaren Ibu juga kaya gini."
Bara membuang nafasnya lesu. Memang benar beberapa hari yang lalu Ibunya kerap kali memegangi kepala seperti terserang rasa pening. Dari yang Alma katakan, gejalanya masih terbilang ringan. Namun tetap saja, Bara tak mungkin bisa menanggapi ini semua tanpa rasa cemas.
"Yaudah, tapi kalau Ibu pusing gini lagi. Langsung kasih tau Abay atau Bapak, biar Ibu langsung diperiksa. Sekarang Ibu duduk aja. Masakannya masih bisa Abay rapihin. Kacanya juga nanti Abay yang sapuin. Pokoknya Ibu istirahat sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
