sembilan tujuh

44 8 0
                                        

Bara tak kunjung berhenti menitikkan air matanya sedari kemarin sore. Ia sama sekali tak diberikan waktu untuk rehat oleh rasa duka. Kantung matanya membengkak dan menghitam, menandakan bahwa ia sama sekali tak mendapatkan waktu untuk terlelap. Tetapi walaupun raga dan jiwanya sangatlah lelah, ia masih setia terisak pelik. Terutama saat ini, ketika kedua bola netranya melihat secara langsung bagaimana Ibunya dikafankan.

Reja dan Iko berusaha untuk menenangkan teman mereka yang tengah kehilangan seseorang itu. Lela dan Maudi pun berusaha untuk terlihat lebih tegar agar Bara tak lagi merasa sendirian. Tetapi seluruh kata yang bertujuan untuk melegakan sama sekali tak bisa menembus kokohnya kesedihan yang Bara miliki.

Para tetangga berbondong-bondong membantu acara pemakaman agar berjalan dengan lancar. Doa dan ucapan belasungkawa terdengar setiap detiknya kepada Wahyu dan Bara sebagai keluarga yang ditinggalkan.

Dan perkara Wahyu... Laki-laki itu sama sekali tak menunjukkan setetes pun jejak air mata. Sedari tadi ia hanya mematung di depan pintu sembari menekukkan kepalanya.

Kalimat-kalimat baik yang berkaitan dengan Alma sewaktu ia masih hidup kian terus mengudara. Mereka berkata bahwa sosok itu sangatlah baik hati dan senang menolong. Mereka berkata bahwa sosok itu tidaklah pantas untuk menderita penyakit apapun. Mereka pun berkata bahwa kepergian Alma sangatlah terburu-buru.

Dan setiap kali indra pendengaran Bara menangkap pujian itu, manik matanya pun kembali memandangi wajah Alma yang sudah dibaluti kain semu. Ia pun lagi-lagi dibuat meringsak terpuruk.

Dibalik nafasnya yang sudah tak lagi terasa. Dibalik kelopak matanya yang tak akan lagi terbuka.
Alma saat ini terlihat begitu damai.
Wajahnya yang sempat memucat karena ganasnya penyakit yang ia derita, kini sudah kembali cantik seperti sedia kala.
Aroma tubuhnya yang juga sudah bisa kembali tercium, kini ikut dilingkari oleh manisnya wangi nektar bunga.

Alma terlihat sangat indah dihari kematiannya.
Bara tak seharusnya merasa seterpuruk ini, disaat Ibunya sendiri sudah mampu merelakan semuanya.

Tetapi kala tubuh itu digotong beramai-ramai menuju area pemakaman. Setiap langkah yang Bara ambil, rasanya seperti berjalan diatas tumpukan beling.
Semakin jauh ia melangkah, semakin dekat ia dengan perpisahan.

Rasa takut pun lagi-lagi mencuat dari dalam nadinya, ketika gerbang menuju tempat peristirahatan terkahir Alma sudah berada di depan mata.
Bara mencengkram jemarinya kuat-kuat, berusaha bersikap lebih tenang karena pada akhirnya ia ingin menyambut kepergian Alma dengan lebih bijak.

Langit diatas sana menunjukkan warna kebiruan dengan awan putih yang terukir seperti lukisan.
Pepohonan yang rindang diantara makam-makam itu pun, sesekali melambai hangat.
Seolah-olah memberikan Izin bagi Alma untuk dikebumikan.

Cangkulan tanah secara perlahan mulai tergali menjadi sebuah peti. Tubuh Alma yang seringan kumpulan kapas dengan mudah memasuki relung kosong itu. Hati Bara remuk menjadi kepingan kecil dan ikut terkubur didalamnya.
Janjinya untuk menjadi lebih bijak pun belum bisa ia laksanakan, Bara masih tetap menangis lantang kala butiran bumi itu mulai menutupi wajah Alma.
Para pengunjung yang menyaksikan pun, kini mulai jujur dengan rasa duka mereka. Lela dan Maudi memeluk Bara dengan erat, tak kuasa melihat pemandangan itu.

Dimata mereka, Alma bukan hanya seorang perempuan dewasa yang tengah dimakamkan.
Tetapi seorang anak perempuan yang dahulu sering meneriakan nama mereka untuk bermain bersama.

Tetangganya yang lain pun mulai merintih sedih karena teringat akan duka mereka sendiri. Ditinggalkan seseorang yang dicinta adalah perasaan yang semua manusia akan hadapi.

Tetapi Wahyu, laki-laki itu masih seteguh batu. Matanya tak kunjung mengerjap, bibirnya tak kunjung terbuka. Tak ada yang bisa membaca apa yang tengah dirasakannya.

Arkana dan AlbaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang