Kana membasuh kedua lengannya hingga ke sela-sela jemari. Sisa minumannya yang tadi tumpah adalah penyebab utama dibalik permukaan kulitnya yang menjadi lengket sampai seperti ini. Beruntung wastafel yang berada di dekat tangga menuju lantai atas tengah sepi, sehingga ia tak perlu jauh-jauh berlari ke kamar mandi.
Namun walaupun Kana tengah memiliki kesibukan, telinganya masih terbuka lebar untuk mendengarkan celotehan dari Lintang secara seksama.
"Tapi serius deh, gue bingung aja kenapa dia mau sama cowo modelan kaya gitu. Udah tukang selingkuh, suka main tangan lagi. Emang cinta sebuta yang orang bilang, ya?"
Dari yang Kana tangkap, Lintang tengah berdiskusi perihal pilihan hidup yang ditempuh oleh tetangganya. Bukan urusan Lintang memang, hanya saja ia masih dibuat keheranan dengan cara pikir orang-orang.
Sementara Kana sedari tadi ikut menanggapi dengan anggukan dan gumaman saja. Toh dirinya tak mengenali sosok yang Lintang maksud secara pribadi, jadi ia tak bisa memberikan banyak opini.
Keduanya kini sudah menaiki tangga dan melewati beberapa murid lain yang masih berlalu lalang.
Jangan tanya mengapa mereka sibuk berkeluyuran, walaupun waktu istirahat sudah habis.
Jika para guru tak memberikan perintah untuk tetap diam di bangku masing-masing, lalu untuk apa mereka merajut rasa pegal dan memelihara rasa bosan?
Beberapa hari lagi buku rapor akan dibagikan.
Oleh karena itu, pada hari-hari dengan jadwal kosong seperti ini, kewajiban mereka hanyalah datang ke sekolah untuk mengisi absen dan secara teknis tak melakukan apapun.
Memang terasa percuma dan menyita ongkos. Bahkan beberapa siswa dan siswi pun ada yang memberanikan diri untuk tidak hadir.
Ya, tentu saja dengan alasan bolos yang mereka buat-buat.
Ada yang berkata sakit, ada yang berkata pergi ke luar kota, ada pula yang berkata keluarganya tengah mengadakan hajatan.
Namun kini waktu bel untuk pulang tak lagi berbunyi pada sore hari.
Sebelum jam mengarah pada angka dua belas pun, mereka sudah diperbolehkan untuk membubarkan diri.
"Hmm, kasian ya. Semoga secepetnya dia bisa sadar, kalau dia pantes dapetin yang jauh lebih baik."
Kana menimpali ucapan terakhir Lintang dengan kepala yang menoleh pada perempuan itu.
Tak menyadari bahwa ada sosok lain yang tengah menghadang menuju garis ambang pintu ruangan kelas sama seperti dirinya.
Tanpa disengaja, Kana pun menubruk sosok itu.
Spontan ia menghadap lurus dan mendapati dada seseorang.
Lantas ia mendongak berniat untuk segera enyah dan mengatakan kalimat permintaan maaf.
Namun kala manik matanya bertemu dengan netra sang lawan, yang bisa ia lakukan hanyalah terbujur kaku dan mengerjap sayu.
Bara.
Entah apa yang terlintas pada benak Kana sekarang, sehingga ia tak mampu bergerak sedikit pun dari posisi awal.
Matanya malah menelisik wajah Bara, yang alhasil membuat sang pemilik rupa gugup tak karuan.
Lantas saat jantungnya sudah membuncah terlalu ribut karena jarak mereka yang tak bersisa, Bara pun mau tak mau membuka suara.
"N-na?..."
Kana terhenyak.
Syaraf perasa pada kedua tangannya—yang secara tak langsung bersentuhan dengan kulit milik Bara—kini mulai kembali bekerja.
Hembusan nafas laki-laki itu yang mengenai helaian rambutnya pun membuat Kana tersadar penuh.
Mereka sangat dekat.
Terlalu dekat.
Kana dengan cepat berjalan mundur sembari memutus kontak mata mereka secara sepihak.
Degupan dadanya yang semula damai pun kini berujung menggema tak beraturan.
Sudah berjalan beberapa hari, dan Kana masih belum bisa membiasakan diri.
Gelagat yang setiap hari ia tunjukkan sudah tak lagi semudah kelihatannya.
Sangat sulit untuk bertingkah normal di depan Bara.
Seolah-olah tubuh dan otaknya memiliki pemikiran dan kemauan sendiri.
Ketika malam sunyi datang, biasanya hati Kana akan berlalu tenang dalam lamunan. Namun kini berbeda. kedamaiannya telah digantikan oleh wajah laki-laki itu yang kerap muncul tanpa jeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
