Bara hanya bisa menundukkan kepala, kala cercahan nasihat memasuki gendang telinganya dengan bertubi-tubi. Ia tak ingin melawan perkataan sang guru yang tengah memberikan ceramah, memang benar salahnya karena sudah mengabaikan nilai dan pekerjaan sekolah. Namun, alasannya untuk tetap mendamba ilmu pun masih belum ia temukan.
"Ayolah, Bar. Tekun belajar ya dari sekarang. Kamu itu pinter. Gini aja, Ibu kasih keringanan. Kamu cuman harus ngerjain beberapa tugas yang belum kamu kumpulin. Ibu udah ngomong sama guru yang lain, mereka juga setuju."
Perempuan dengan hijab dikepalanya itu mengusap pundak Bara prihatin. Memang benar adanya, semenjak kepergian yang dicinta, Bara masih belum benar-benar kembali seperti semula. Padahal, potensi yang dia miliki sangatlah besar.
"Kamu udah kelas tiga. Ibu pengen kamu lulus. Seenggaknya, kamu harus tamat sampai SMA, mau ya?"
Bara menghembuskan nafasnya pasrah, lalu mengangguk patuh. Bagaimana pun, sang wali kelas sudah sangat baik kepadanya. Ia tak ingin merepotkan sosok itu lebih jauh.
Guru itu pun menghela lega, lalu ia kembali berkata.
"Ibu juga udah minta bantuan sama Mala. Dia bakal bantuin pelajaran kamu yang ketinggalan."
Mala, sosok perempuan berkacamata yang selalu mengucir rambutnya.
Mereka sudah menjadi teman sekelas semenjak hari pertama sekolah di tempat ini. Namun Bara hanya mengetahui sosok itu dengan bayangan yang semu. Sebelum Bara benar-benar bisa bergaul dan mengenal orang disekitarnya, bencana yang tak terelakan sudah terlebih dahulu menimpa.
"Hi, Bar!"
Bara mengangguk samar saat ia mendapati sosok itu di tempat yang sudah dijanjikan. Sesuai kesepakatan, Mala akan mengajari Bara di perpustakaan selepas pulang sekolah. Setidaknya, sampai Bara benar-benar selesai dengan ketertinggalannya.
"Hai."
Bara menggantung tasnya dibelakang bangku sebelum mengisi bagian yang kosong itu. Setelah membahas lebih jauh, ternyata materi yang belum Bara pelajari tidaklah begitu sulit. Materi-materi ini hanyalah cabang dari pembelajaran yang pernah ia kuasai sebelumnya. Beruntung pula, ternyata Mala bukanlah sosok yang kaku.
Jadi Bara tak perlu merasa canggung setiap kali harus bertanya.
Justru berbanding terbalik, sosok itu nampaknya senang berbicara. Dan nampaknya pula, Mala memiliki keberanian untuk menatap seseorang secara terang-teramgan.
Karena kini dari ekor matanya, Bara bisa menangkap netra perempuan itu yang terus tertuju kepadanya.
"Ada apa?"
Ingin memastikan jika ada yang salah dengan dirinya, Bara pun pada akhirnya melontarkan pertanyaan.
Mala menggeleng sembari tersenyum kecil.
"Enggak ada apa-apa. Lo ganteng aja, gue suka sama lo."
Rasanya Bara hampir tersedak oleh ludahnya sendiri. Apa? Ia tak salah dengar, kan?
"... Maksudnya?"
Mala mengangguk mantap.
"Iya, lo ganteng. Gue suka sama lo."
Bara mengerjapkan matanya tersentak. Baru kali ini ia melihat seseorang yang begitu lantang dalam menyatakan perasaanya. Pada interaksi pertama pula, padahal mereka belum saling mengenal lebih jauh.
Mala terkekeh, lalu menunjuk kembali buku paket yang berakhir dianggurkan oleh sang pembaca.
"Udah belajar lagi aja! Gak usah kaget gitu. Gue juga gak nyuruh lo jadi pacar gue, kan? Eh, lebih tepatnya, belom."
Ya, Mala benar-benar memiliki kepribadian yang begitu unik.
Lebih tepatnya diluar nalar.
Kala Bara hendak kembali menaruh perhatiannya pada kumpulan kata itu, netranya terlebih dahulu menangkap sesosok lain yang juga tengah berada di ruangan ini bersama mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
Narrativa generaleSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
