Kana berlari menuju depan lapangan dengan langkah yang kedap suara.
Secara santun, ia pun membungkukkan pundak dan mengucapkan kata permisi kala melewati jajaran guru yang tengah berdiri berhadapan dengan barisan para siswa.
Lantas saat sosok yang Kana cari sudah ditemukan, ia pun segera menyerahkan selembar kertas dari genggaman tangannya kepada Ryan.
"Makasih, Na."
Ucap Ryan sedikit berbisik.
Kana mengangguk singkat, lalu kembali berbalik arah menuju ujung lapangan, dimana teman-teman Osisnya tengah berembuk.
Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba.
Masa pemilihan ketua Osis akan segera berakhir.
Pada pagi yang cerah ini, jam pertama pembelajaran siswa dan siswi SMA Kenanga tak akan berjalan dengan efektif seperti kemarin.
Bukannya diberikan materi soal untuk dibahas, mereka justru diperintahkan untuk berkumpul ke lapangan.
Sesuai pengarahan yang kepala sekolah tadi umumkan, para calon ketua Osis akan masing-masing memberikan satu pidato terakhir sebelum waktu pengambilan suara dimulai.
Tujuannya agar para murid bisa memantapkan pilihan, sebelum mereka benar-benar memberikan suara.
Guru dan pembina sekolah yang sedang tak memiliki kesibukan pun, ikut menyaksikan keberlangsungan acara dari depan sana.
Ketika nama Aryan Sagara dipanggil melalui mikrofon, laki-laki berkarisma itu pun berjalan ke tengah lapangan dan mengambil alih perhatian dari setiap mata yang memandang.
Suaranya yang terdengar lebih tegas mulai mengisi setiap sudut bangunan.
Penuturan yang ia sampaikan terstruktur dengan padat dan jelas.
Visi misinya pun dengan mudah dipahami oleh khalayak yang menyimak.
Kana yang ikut mengamati hanya bisa termenung dan dibuat takjub.
Beberapa saat yang lalu, ia berinisiatif untuk memberikan Ryan lembar salinan pidato sebagai bentuk dari jaga-jaga jikalau sosok itu masih perlu berlatih.
Namun ternyata, bantuan yang ia berikan berakhir percuma.
Ryan memang sudah begitu pandai dalam berbicara.
Riuh tepuk tangan bergilir mendera dan meredam, kala ketiga calon pemimpin itu bergantian memasuki lapangan.
Harus Kana akui pula, pidato yang digubah oleh Jejes dan Kurnia pun sama-sama dipenuhi oleh makna dan hasrat semangat.
Mereka memiliki tujuan dan aspirasi sendiri mengenai gambaran sekolah ini, jika nantinya tahta sebagai ketua telah berada di genggaman tangan.
Mungkin para murid pun akan kesulitan untuk memilih siapa yang terbaik di antara mereka.
Namun walaupun Ryan, Jejes, dan Kurnia sama-sama mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi.
Kana rasa, ketiga orang itu mampu untuk bekerja sama nantinya, sekalipun kekalahan harus mereka terima.
Kala waktu untuk berpidato sudah habis, kini para pengurus Osis lah yang berganti mengerahkan tenaga kerja.
Mereka dengan sigap mengatur para siswa dan siswi untuk berbaris rapih.
Lembaran kertas berukuran kecil—yang nantinya bertujuan sebagai media pengambilan suara—pun mereka bagikan dengan menyeluruh sampai ujung.
Seluruh murid diberikan beberapa menit untuk memutuskan sebelum harus memasukan kertas yang mereka tulis ke dalam kotak besi.
Kana melirik ketiga kandidat ketua yang kini tengah merehatkan diri di pinggiran lapangan.
Berbeda dengan Kurnia dan Jejes yang nampaknya masih bisa berbincang riang, Ryan justru terlihat sedang melamun dengan kepala yang tertunduk.
Pundaknya pun meringsut lesu, seolah-olah ada beban yang memberatkan.
Kana mengerjap kikuk.
Sedikit terkesiap kala menyadari bahwa sosok yang biasanya bersikap optimistik bisa juga kehilangan rasa percaya diri.
"Yan, lo lagi nervous ya?"
Ryan spontan menoleh kala suara Kana tiba-tiba saja terdengar.
Entah sejak kapan sosok itu sudah mengisi tempat kosong di sampingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
General FictionSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
