sembilan empat

54 6 0
                                        

Bara rasa, ia mulai menyadari sesuatu. Entah bagaimana menjelaskannya, tetapi Wahyu terasa semakin menjauh.

Semenjak hari dimana Alma didiagnosa, Wahyu sudah tak lagi bertingkah seperti biasanya. Tentu, Wahyu masih merawat Alma dengan baik nan rutin. Tetapi dengan Bara... Bapaknya itu sudah jarang sekali melempar topik percakapan untuk hanya sekedar berbasa-basi saja.

Namun Bara masih berusaha untuk memaklumi. Bapaknya itu sudah bekerja banting tulang dari pagi sampai paginya lagi. Ia tak ingin memberikan Wahyu lebih banyak beban pikiran dengan berprotes.

Tetapi Bara pun tak bisa berbohong.
Rumah terasa menjadi sunyi seperti tak ada yang menempati.
Dikala Ibunya tengah di rumah sakit dan Bapaknya pergi bekerja, Bara benar-benar merasa sendirian.
Hanya ada suara dentingan jarum jam yang mengakar di dinding.
Hanya pula ada sekumpulan semut yang melintas di permukaan lantai.
Ia merasa seperti seseorang yang ditinggalkan.
Jika bukan karena niat inisiatifnya untuk membersihkan rumah, Bara lebih memilih untuk menginap bersama Ibunya saja.

Ketika decitan pintu yang terbuka tertangkap oleh indra pendengaran, Bara pun dengan spontan beranjak dari posisinya yang terduduk.

Wahyu melangkah masuk dengan sepatu kotornya yang telah ia lepaskan. Matanya sempat melirik Bara yang juga tengah memperhatikannya, namun tak lama ia kembali berjalan menuju rak dan menyimpan kedua alas kaki itu.

Bara tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk setidaknya bertegur sapa dengan sang Bapak.
"... Bapak udah makan?"

Wahyu mematung untuk sejenak. Ia tak membalikkan tubuhnya atau membuat tanggapan yang begitu kentara. Tetapi setelah beberapa detik bertengger dengan kebisuan, ia pun melontarkan sepatah kalimat.
"Udah. Lu kalau belum, cepet makan."

Bara menyaksikan pundak Bapaknya yang mulai menghilang memasuki kamar. Dengan lesu, ia pun kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa.

Lihatkan? Pemikirannya sudah terbukti.

Keesokan harinya, dikala Bara baru saja terbangun dari tidur yang tak lelap, ia segera berjalan menuju dispenser dan menegak segelas air.
Kerongkongannya terasa begitu kering karena dehidrasi. Pola makannya pun akhir-akhir ini nampak lebih buruk dari bulan-bulan lalu.
Ia tak memiliki tenaga untuk melakukan apapun, termasuk makan.

Namun saat samar-samar telinganya mendengar sebuah percakapan dari arah luar rumah, Bara pun meletakkan gelasnya di atas meja dan menghampiri asal suara.

Ternyata, Bapaknya sedang berada di ujung panggilan dengan seseorang. Dan dari percakapan yang mengudara, sepertinya sosok itu adalah rekan kerjanya.

"Ji, emangnya gak bisa kalau orang lain yang ngerjain? Gue hari ini harus ke rumah sakit—"
Ucapan Wahyu terhenti begitu saja.
Ia terdiam untuk sejenak, lalu menghembuskan nafasnya berat.

"Yaudah, gue kesana sebentar lagi."

Sejujurnya, Bara sangatlah tak tega melihat Wahyu yang memperlakukan dirinya sendiri seperti mesin.
Ia benar-benar tak diberikan rehat sama sekali, walaupun hanya untuk sedetik.

Ada sebuah pemikiran yang terlintas di dalam benak Bara, tetapi ia tak yakin jika Wahyu akan menerima permintaannya.
Tetapi yang pasti, Bara ingin membantu.

"Pak, Bara ikut kerja, ya?"

Wahyu dibuat tersentak saat ia baru menyadari kehadiran anak laki-lakinya itu. Namun tak lama, dahinya pun ikut mengerut karena masih belum paham maksud dari kalimat yang Bara lontarkan.

"Bapak kan udah nambahin banyak kerjaan biar bisa biyayain Ibu. Jadi Bara juga boleh bantu, kan? Bara kan udah ngerti soal ngerjain bangunan—"

Wahyu yang kini sudah tahu kemana arah percakapan akan berakhir pun dengan cepat menggelengkan kepala.
Wajahnya ikut dibuat mengeras karena permintaan tak masuk akal itu.

Arkana dan AlbaraCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang