Kana menatap bangunan di hadapannya dengan rongga tenggorokan yang tersendat oleh rasa ragu. Tanpa sadar pula, ia menggigit bibirnya sedikit takut. Dengan alasan yang sangatlah masuk akal, Kana merasa hari ini jauh lebih menegangkan dari pada hari pertamanya sekolah.
"Na, lo gak apa-apa?"
Setelah menyimpan helmnya di atas stang, Bara mendapati Kana yang kembali merenung dengan tatapan berkabut.
Tentu, Bara sangatlah memakluminya. Justru, Bara sangatlah memuji keberanian Kana yang memilih untuk tetap pergi bersekolah setelah apa yang terjadi kemarin sore.
Pasti sangatlah tak mudah bagi Kana untuk tetap berdiri teguh seperti sekarang.
Oleh karena itu, Bara sudah berjanji kepada dirinya untuk tetap berada di sisi Kana apapun yang terjadi nanti.
Kana menolehkan kepalanya ke arah Bara, lalu menggeleng kecil.
"Gapapa, Bar. Ayo masuk."
Katanya sembari menarik senyuman sejuk. Walaupun hal itu berbanding terbalik dengan dadanya yang kian berdegup.
Bara menghembuskan nafasnya yang diikuti oleh anggukan setuju. Selama perjalanan menuju kelas, mata Bara tak hentinya melirik kesana kemari untuk memperhatikan keadaan. Lebih tepatnya, untuk memastikan bahwa tak ada satupun orang yang melemparkan pandangan ambigu kepada Kana. Dan sejauh ini, murid-murid yang juga tengah berlalu lalang di koridor dan tangga terlihat bertingkah seperti biasanya.
Syukurlah, pikir Bara. Tandanya, rumor yang tidak-tidak mengenai Kana belun tersebar.
Kana menggeretakkan barisan giginya kala ambang pintu sudah tinggal beberapa langkah. Dengan satu tegukan ludah, ia memberanikan diri untuk mengangkat wajah dan melihat lurus.
Semua murid yang sudah datang sibuk melakukan kegiatannya masing-masing. Namun berbeda dengan kubu yang hatinya masih hancur karena sebuah fakta, mereka terlihat duduk di ujung ruangan dengan wajah yang membeku. Dan oleh karena itu, ketika sosok yang sedari kemarin mereka cari sudah sampai, pandangan mata yang terkunci pun tak bisa terelakan.
Lintang, Wulan, Leni, Dafa, dan Izal dengan serentak menjurukan bola mata mereka ke arah tempat dimana Kana berada.
Hembusan nafas Kana melamban seketika. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu kembali membalikkan tubuhnya dengan kilat.
Bara yang menyadari hal itu lantas mengusap pundak Kana dengan lembut.
Sebuah usulan yang memang sedari tadi menggenang di kepalanya pun, kini ia coba untuk utarakan.
"Na... Lo mau sebangku sama gue dulu aja? Kalau lo belum siap interaksi lagi sama yang lain gak apa-apa, kok. Nanti gue ngomong sama Wildan biar dia pindah dulu."
Kana secara perlahan kembali mengangkat kepalanya. Dan untuk yang kesekian kali, ketulusan yang terpancar dari manik mata Bara mampu membuat rasa takut Kana mencair.
Ia mendengus, lalu menggeleng pelan.
"Gak usah, Bar. Gue masih sanggup, kok. Tapi makasih tawarannya."
Kana menipiskan bibirnya lurus, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap teguh.
"Gue gak akan bisa selalu menghindar dari mereka. Gimana pun, gue harus hadepin semua ini."
Bara termenung sejenak kala mendengarkan penjelasan itu. Memang benar apa yang Kana katakan. Semoga saja, Lintang dan yang lainnya tak akan memperlakukan Kana dengan cara yang berbeda setelah ini.
"Oke kalau gitu, ayo kita bareng-bareng masuk."
Kana mengangguk setuju, lalu kembali menghadang menuju arah tujuannya. Wajah yang berawal kaku dan tertunduk, kini ia usahakan untuk tetap terangkat. Syarafnya yang terasa menegang dengan mati-matian ia coba untuk longgarkan. Bagaimana pun, ia adalah Kana bukan? Tak ada seseorang di dunia ini yang lebih pandai dalam berpura-pura melebihi dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
