Bara berjalan menyusuri sebuah pemukiman dengan langkah yang santai. Seperti seorang penghuni baru, ia sudah tak lagi merasa asing dengan wilayah ini. Lambaian tangan dan sapaan bersahabat pun didapatkannya dari orang-orang yang tengah berkumpul di depan sana.
Sudah berbulan-berbulan lamanya semenjak pertemuan pertama Bara dengan Blue Raven.
Pada hari itu, Nanang menawarkan Bara ajakan untuk makan bersama dengan anak-anak yang lain.
Pada hari itu pula, Bara mencoba untuk lebih terbuka dan menceritakan sedikit dari perkara yang tengah dialaminya.
Tentu, ia pun tak terbiasa untuk membuka diri kepada sosok-sosok yang belum ia kenali secara pasti.
Tapi pikirnya, toh mereka tak akan bertemu lagi, jadi tak ada salahnya untuk sedikit mengadu nasib.
Namun setelah hari itu, Bara kembali mendapat tawaran untuk sekedar menongkrong bersama dengan mereka.
Nanang pikir, walaupun Blue Raven bukanlah perkumpulan yang sepenuhnya baik, tetapi setidaknya Bara tak lagi berjelaga ke tempat-tempat asing. Setidaknya, ia memiliki tempat untuk merehatkan diri.
Lagipula, diantara orang-orang yang ada di dunia, Nanang lah yang paling mengerti bagaimana rasanya kehilangan keluarga.
Bara awalnya ragu, ia masih tak yakin jika berkumpul dengan orang-orang anarkis adalah keinginannya. Tetapi setelah dipikir lagi, siapa yang peduli?
Bara sudah tak lagi mementingkan pandangan orang lain.
Tak ada lagi citra seseorang yang perlu ia jaga.
Lagi pula, setelah mencoba untuk mengenal mereka lebih dalam, Bara rasa anggota Blue Raven ini tidaklah semenyeramkan yang orang-orang katakan.
Dibalik dari sikap mereka yang lantang, ada jiwa remaja yang masih kebingungan untuk menentukan arah hidup.
"Woy, Bar. Ngopi mau?"
Shendik yang tengah mengobrol bersama anggota lain, menyelingi ucapannya untuk menawarkan Bara minuman.
Bara menjelajahkan pandangannya untuk memahami suasana apa yang tengah dirasakan Blue Raven hari ini. Sepertinya mereka dalam keadaan yang tenang.
Syukurlah, nampaknya tak akan ada perkelahian untuk—setidaknya—beberapa jam kedepan.
Lantas ia pun mengangguk dan mencari tempat kosong untuk duduk di teras rumah itu.
"Bi! Bikinin kopi ya satu!"
Jam sudah menunjukkan pukul empat. Rona langit pun sedikit bersemu menjadi merah muda. Angin semilir ikut memberkati mereka yang hari ini ingin beristirahat. Jarang-jarang kota jakarta terasa asri seperti sekarang, mungkin tanaman-tanaman yang merambat pada sebagian pagar dari teras inilah penyebab utamanya.
Bara melirik ke samping dan mendapati Nanang yang tengah menggenggam sebuah roti kemasan.
Matanya sesekali menatap ke arah pintu itu, seolah-olah menunggu seseorang untuk keluar dari sana.
Dan sepertinya tebakan yang Bara layangkan terlempar tepat sasaran.
Nanang segera beranjak dari posisi duduk dan menghampiri Sheila—saudara kembar Shendik—yang tengah berjalan keluar dengan ransel di pundaknya.
"Shei!"
Sheila meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, lalu menautkan alisnya ke arah laki-laki yang kini tengah berjalan menghampiri.
"Paan, Nang?"
Nanang berdeham gugup, lalu menyerahkan benda yang terselip pada jemarinya.
"Nih, lo pasti belum makan kan, tadi waktu pulang sekolah gegara mau pergi lagi bimbel? Lumayan buat ganjelan."
Sheila tersenyum girang, lalu menepuk pundak Nanang.
"Oyy, baik amat. Thanks ya!"
Tetapi raut bersahabat itu kembali berubah kala ia melirik sosok yang berada tak jauh di belakang Nanang.
"Shen-Shen! Lo hari ini belajar ya! Awas aja kalau enggak, gue bilangin bonyok baru tau entar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
