Kana kehilangan kata-kata selama ia mendengar cerita itu. Tenggorokannya menandus, sementara bola matanya melembab.
Bagaimana bisa Bara melewati semua itu seorang diri?
Sisa-sisa perasan hujan masih menetes dari awan hitam di langit malam. Api kecil yang tersemat di atas lilin pun secara perlahan mulai melemah untuk bersinar.
Suara serangga-serangga yang berasal entah darimana, mulai bisa terdengar dengan jelas karena suasana yang kini berubah menjadi begitu senyap.
Bara... Masih terdiam tanpa melanjutkan kalimatnya lagi.
Kana pun memutuskan untuk ikut membisu, sampai pada akhirnya kecemasan berakhiran melanda.
"Bar..."
Bara masih tak menyaut.
Kana membasahi bibirnya yang mengering. Ia pun menghirup udara dalam-dalam. Lalu, secara perlahan Kana beranjak dari tidurnya dan menolehkan kepala ke arah Bara.
Bara masih menatap langit-langit kamar itu dengan pandangan yang nanar. Matanya sesekali mengerjap, seolah ada luka lama yang kembali mengeluarkan nanah ketika diingat.
Dan pemandangan itu membuat jantung Kana kembali dibuat teriris semakin dalam. Tanpa sadar tetesan air berjatuhan dari pelupuk matanya. Isakkan pun mulai keluar dari bibir kecil itu.
Bara kini terhenyak dari lamunannya.
Ketika ia menoleh ke samping, hal pertama yang ia lihat adalah Kana yang tengah menangis perih.
Bara pun dibuat panik dalam sekejap.
Dengan cepat ia beranjak dan memegangi pundak Kana.
"N-na? Na, lo kenapa nangis? M-maafin gue ya, g-gue gak maksud buat lo nangis. Ma-maafin gue karena udah cerita—
"Bukan itu!"
Kana memotong ucapan Bara yang entah mengapa membuatnya merasa marah.
"L-lo harus berhenti nanyain keadaan orang lain, Bar. Lo harus mulai tanyain keaadan diri lo sendiri."
Kana hanya tak paham, bagaimana bisa Bara masih memiliki kepedulian terhadap orang disekitarnya setelah semua penderitaan yang ia lalui.
Bagaimana bisa Bara memikul pilunya, sembari memberikan obat kepada orang yang membutuhkan?
Nafas Bara tercekat. Ia serasa ditodong oleh pernyataan yang memang kerap ia hindari.
Bara tak senang bergemul dengan perasaannya, menanyakan diri sendiri bagaimana hari berjalan. Karena dengan begitu, ia akan kembali dilanda oleh kemalangan.
Bara tak senang merasakan. Lebih baik perasaannya ia kubur sampai tak lagi nampak.
"Gue gak apa-apa, Na."
"Bohong."
Kana masih menitikkan air mata, kala ia memberanikan diri untuk menatap laki-laki itu.
"Gue bisa liat dari mata lo, kalau lo gak baik-baik aja."
Bara memutuskan kontak netra itu kala dadanya semakin dibuat sesak.
Ia berusaha mengalihkan pikirannya kemana saja, ia berusaha untuk menimbun dan menimbun semua perkataan Kana yang memang benar adanya.
Ia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun.
Ia tak ingin terlihat rapuh di depan Kana.
Namun kala sebuah sentuhan kembali Bara rasakan pada punggung tangannya, ia pun secara otomatis kembali berhadapan dengan Kana.
Tetapi kini, sosok itu sudah beranjak dari duduknya dan secara perlahan mendaratkan tubuh di ujung ranjang.
"Bar, nangis bukan berarti lo lemah. Nangis itu artinya lo kuat, karena lo berani ngadepin seluruh perasaan lo."
Tanpa sadar deretan gigi Bara dibuat menggeretak, kala matanya terasa semakin merabun.
"Cuman ada gue disini. Cuman ada Gue, Bar. Jangan tahan lagi emosi lo. Keluarin semuanya."
Rasa asing dan takut kembali membuncah karena Bara kini sudah bisa merasakan sesuatu yang hendak meluncur dari pelupuk matanya.
Tidak, ia sudah menahannya sejauh ini. Ia sudah bertahan dengan kekosongan.
Ia tidak bisa menyerah begitu saja.
Kana berusaha untuk meredakan suaranya yang terbata dan memunculkan senyuman menenangkan. Secara lembut, Kana pun menyentuh wajah Bara yang bergetar dan mengelusnya halus.
Dari lekukan kening, lekukan hidung, hingga lekukan mata.
Sampai akhirnya, barisan jemari itu berhenti dipipinya.
"Bara sekarang udah gak sendirian. Sekarang ada Kana."
Seperti sebuah guntur yang menyambar samudera, tangisan Bara terpecah belah menjadi kepingan air mata. Seluruh beban yang terpikul pada pundaknya seolah tertiup oleh angin dan terbang entah kemana. Tajamnya amarah, keruhnya kesedihan, peliknya cemas, dan hitamnya kehampaan bersatu menjadi sebuah deraian yang panjang.
Kana membawa Bara ke dalam pelukannya. Ia membuai lirih pundak laki-laki itu untuk berbagi rasa sakit yang tengah diderita.
Tak lekang, ia pun kembali ikut menitikkan air mata.
Bayangan bagaimana Bara setiap harinya terbangun dalam rasa sepi, sudah cukup membuat Kana kembali terikikis.
Ia tak akan sanggup melewati semua itu.
Kana tak bisa membayangkan, betapa sulitnya bagi Bara untuk tumbuh dewasa hanya dalam satu malam.
Di balik dari tubuhnya yang teguh seperti batu, tersimpan jiwa seorang anak laki-laki yang baru saja kehilangan Ibunya.
Pada malam itu, Kana membuat janji kepada dirinya sendiri. Ia tak akan pernah membiarkan Bara merasa kesepian lagi.
—
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkana dan Albara
RomanceSurat cinta untuk masa remaja, simfoni pahit dan manisnya cinta pertama, senandung kosong berdebu dari sebuah duka. . . . Arkana memutuskan untuk kembali melanjutkan hidupnya setelah sempat terjatuh ke jurang depresi. Rumah baru, sekolah baru, kota...
